tentang open source

Berbisnis Dengan Software Open Source

Posted on


Siapa bilang perangkat lunak open source haram hukumnya untuk diajak berbisnis? Meskipun bersifat free, perangkat lunak open source ternyata memiliki peluang bisnis yang sangat besar. Namun sayangnya, peluang besar ini belum diketahui oleh banyak orang di Indonesia. Selain karena keterbatasan informasi, masih banyak orang yang salah paham dengan istilah freenya open source yang berarti bebas, bukan gratis. Sehingga wajar saja apabila banyak orang menganggap open source tidak mempunyai nilai bisnis.

22

Tentang open source

Open source merupakan model pengembangan perangkat lunak yang dilakukan secara bersama-sama dan mengharuskan terbukanya kode sumber (source code) dari sebuah perangkat lunak. Awalnya dikenal dengan sebutan perangkat lunak bebas (free software) yang dicanangkan oleh Richard Stallman pada tahun 1985 guna mematahkan monopoli perangkat lunak. Namun pada tahun 1997, sekelompok elit Free Software Foundation (FSF) sepakat untuk menggunakan istilah open source karena istilah free dianggap berkonotasi negatif dan tidak menjual.

Usaha mereka untuk merangkul kalangan industri agar ikut berpartisipasi dalam mengembangkan ide-ide FSF berhasil. Beberapa industri teknologi informasi besar saat itu mulai menunjukkan perhatiannya pada open source. Untuk melindungi hasil karya perangkat lunak open source, kemudian didirikanlah Open Source Organization dan mendefinisikan pendistribusian perangkat lunak open source dalam The Open Source Definition yang memiliki semangat yang sama dengan GNU GPL yang digunakan oleh perangkat lunak bebas, namun dengan sedikit kelonggaran.

Model bisnis

Model bisnis open source sangat berbeda dengan bisnis barang konvensional yang biasa terjadi di masyarakat. Dalam bisnis konvensional di masyarakat, pembeli akan membayar sesuai dengan nilai barang yang dijual. Di dunia perangkat lunak proprietary, nilai barang merupakan harga lisensi perangkat lunak.

Karena perangkat lunak open source bebas digunakan dan tidak menjual harga lisensi perangkat lunak, maka model bisnisnya adalah dengan memberi dukungan secara komersil kepada pengguna. Ada banyak model bisnis open source yang dikenal di dunia saat ini. Beberapa model diantaranya ada yang cocok diimplementasikan di Indonesia.

1. Distribusi perangkat lunak open source

Distribusi perangkat lunak open source biasanya dilakukan melalui media internet. Namun, di Indonesia media ini masih sangat mahal dan terbatas. Situasi ini memungkinkan untuk berbisnis dengan menyediakan CD dan DVD perangkat lunak open source. Namun dengan catatan, yang diperjualbelikan bukanlah harga perangkat lunak, tetapi harga dari produksi membuat medianya, yaitu CD dan DVD.

2. Instalasi dan konfigurasi perangkat lunak open source

Memasang (instalasi) perangkat lunak open source memang mudah. Tetapi, layanan untuk instalasi dan konfigurasi open source adalah salah satu layanan yang paling banyak diminta oleh pengguna yang ingin bermigrasi ke open source. Alasannya, karena layanan ini dapat memperkecil resiko hilangnya data akibat kesalahan pemasangan perangkat lunak open source oleh pengguna awam.

3. Dukungan teknis perangkat lunak open source

Salah satu hambatan yang menyebabkan orang enggan beralih ke open source adalah tidak adanya dukungan teknis untuk open source. Berbeda dari perangkat lunak proprietary yang menyediakan dukungan adalah pembuatnya, perangkat lunak open source memungkinkan setiap orang untuk menyediakan dukungan teknisnya. Layanan ini cukup banyak dibutuhkan oleh pengguna open source dan merupakan bisnis yang cukup menjanjikan saat ini.

4. Modifikasi dan kustomisasi perangkat lunak open source

Keunggulan perangkat lunak open source salah satunya adalah mudah untuk dimodifikasi dan dikustomisasi sesuai dengan kebutuhan pengguna. Di sisi lain, pasar di Indonesia umumnya menuntut perangkat lunak yang mudah, sesuai dengan kebutuhan, dan dengan harga yang terjangkau. Hal ini merupakan salah satu peluang bisnis yang cukup besar untuk open source di Indonesia, namun mensyaratkan kemampuan yang lebih dibandingkan layanan lainnya.

5. Media perangkat lunak open source

Saat ini telah banyak orang menggunakan open source sebagai media antarmuka di komputernya. Namun tetap saja mereka membutuhkan informasi terbaru mengenai open source. Hal ini merupakan peluang untuk bisa membuat media massa yang mengangkat tema mengenai open source. Contoh media massa yang mengangkat tema open source di Indonesia saat ini adalah Info Linux.

6. Pelatihan open source

Pelatihan open source saat ini juga cukup banyak diminati. Banyak perusahaan yang telah bermigrasi ke open source biasanya meminta pelatihan open source juga untuk pegawainya. Selain itu, pengguna awam juga sudah mulai banyak yang tertarik untuk mengenal open source lebih dalam sehingga banyak dari mereka mulai mengikuti pelatihan open source.

7. Merchandise open source

Komunitas open source saat ini telah menjamur di berbagai kota di Indonesia. Biasanya mereka sangat suka apabila menggunakan produk-produk bertemakan open source. Umumnya produk yang mereka sukai berbentuk kaos, jaket, mug, stiker, pin, gantungan kunci, dan topi. Meskipun pangsa pasarnya terbatas, namun bisnis ini layak dicoba.

Peluang bisnis

Peluang bisnis open source di dunia pada tahun 2008 bisa dikatakan sangat besar. Lembaga riset independen, IDC, menyebutkan bahwa open source akan menjadi salah satu penggerak utama dalam model bisnis teknologi informasi di tahun 2008. Lebih lanjut lagi, IDC juga menyebutkan bahwa beberapa perusahaan teknologi informasi ternama, seperti IBM, Oracle, dan SAP, mulai meninggalkan model bisnis proprietary dan lebih mengembangkan model inovasi berbasis komunitas, seperti open source.

Di Indonesia sendiri, pangsa pasar bisnis open source sangatlah besar dan terbuka lebar. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya perangkat lunak bajakan yang beredar, yakni mencapai 90 persen dari jumlah perangkat lunak yang digunakan di Indonesia. Selain itu, mulai diterapkannya UU HAKI secara tegas, membuat banyak perusahaan menengah ke bawah, yang masih menggunakan perangkat lunak bajakan, mulai beralih ke open source.

Pencanangan Indonesia, Go Open Source! (IGOS) pada tahun 2004 lalu, bisa dikatakan juga sebagai faktor pendukung bisnis open source di Indonesia. Lebih dari itu, Kementerian Riset dan Teknologi beberapa waktu yang lalu mencoba mendorong penetrasi open source dengan memberikan bantuan dana untuk UKM yang bergerak di bisnis open source. Tentu saja ini merupakan indikasi bahwa bisnis open source di Indonesia mulai bergerak ke arah yang lebih baik.

Peta bisnis dunia dalam bidang teknologi informasi sedang berubah menuju bisnis model open source. Langkah kita saat ini untuk menentukan model bisnis yang tepat di Indonesia, tidak hanya menguntungkan secara komersil. Tetapi juga bisa membantu negara ini untuk mengurangi jumlah pengangguran yang semakin banyak dari masa ke masa.

Yudha P Sunandar

Advertisements