tak perlu panik

Enterobacter Sakazakii Si Cantik Yang Patogenik

Posted on


Namanya terdengar begitu cantik. Diambil dari nama seorang ahli bakteriologi asal Jepang, Riichi Sakazaki, Enterobacter sakazakii kini namanya sedang berkibar. Sayangnya, dibalik kecantikan namanya, tersimpan bahaya yang mematikan akibat racun yang dihasilkannya. Beberapa pekan terakhir ini nama Enterobacter sakazakii menjadi perbincangan hangat karena keberadaannya disinyalir mengontaminasi produk susu formula dan makanan khusus bayi di Indonesia. Hasil penelitian yang menghebohkan ini membuat masyarakat bertanya-tanya mikroorganisme apakah Enterobacter sakazakii?

6
Gambar bakteri Enterobacter sakazakii dalam skala mikroskopis

Sifat “Enterobacter sakazakii”

Enterobacter sakazakii atau yellow pigmented enterobacter cloacae ditemukan pertama kali oleh Farmer pada tahun 1980. Di dunia kedokteran bakteri ini berkerabat dekat dengan Salmonella, dalam keluarga Enterobacteriaceae. Bakteri ini dapat menginfeksi dan bersifat patogen karena menghasilkan enterotoksin (racun).

Habitat alami Enterobacter sakazakii tidak diketahui secara pasti. Akan tetapi, bakteri ini dapat dideteksi dalam usus manusia sehat sebagai ‘intermittent guest’, usus hewan dan lingkungan sekitar. Lingkungan sekitar yang dimaksud meliputi lingkungan industri makanan (pabrik susu, cokelat, kentang, sereal dan pasta), lingkungan berair, lingkungan rumah sakit, dan sedimen tanah yang lembap. Patogen ini pernah pula ditemukan pada beberapa jenis serangga, tikus, dan cairan dari makhluk hidup.

Seperti halnya mikroba lain, bakteri ini memiliki beberapa sifat atau ciri yaitu tidak berspora, motile (bergerak aktif), merupakan bakteri gram negatif bersifat oksidatif negatif, anaerob fakultatif, berbentuk batang, menghasilkan enterotoksin melalui uji sitolisis dan dapat memfermentasi glukosa.

Untuk mendukung pertumbuhan hidupnya, Enterobacter sakazakii membutuhkan faktor-faktor pendukung seperti nutrisi (karbon, nitrogen, sulfur, fosfor, vitamin, dan trace element), air (melalui udara yang lembap), oksigen, waktu untuk berkembang biak dan suhu yang sesuai.

Kontaminan susu formula bayi

Sungguh sangat mengejutkan jika tiba-tiba bayi terinfeksi Enterobacter sakazakii setelah mengonsumsi susu formula atau makanan khusus bayi, terutama ketika diketahui susu formula bayi usia 0 hingga 6 bulan merupakan media yang potensial bagi infeksi bakteri ini. Toksin bakteri ini berbahaya untuk bayi karena menyebabkan diare berat, meningitis (radang selaput otak), necrotizing enteroclitis (radang usus), sepsis, bacterimia (peningkatan jumlah bakteri dalam darah), kista otak, bahkan sampai kematian.

Bayi yang terinfeksi Enterobacter sakazakii sebanyak 60 persen, khususnya terjadi pada bayi di bawah usia 1 tahun, tepatnya 66 persen pada bayi berusia kurang dari 1 bulan, terutama bayi yang lahir prematur, bayi berat badan lahir rendah (berat badan kurang dari 2.5 kg), bayi dengan gangguan fungsi kekebalan tubuh, dan bayi yang ibunya terinfeksi HIV-AIDS. Adapun risiko bayi di atas satu tahun dan berbadan sehat sangat kecil kemungkinannya.

Hasil penelitian Fakultas Kedokteran Hewan IPB mengungkapkan, 22.73 persen dari 22 sampel susu formula bayi dan 40 persen dari 15 sampel makanan khusus bayi yang dipasarkan antara April – Juni 2006 terkontaminasi Enterobacter sakazakii. Publikasi ini mengejutkan banyak pihak walaupun sebenarnya keberadaan Enterobacter sakazakii dalam susu formula bukanlah hal baru di kalangan peneliti pangan. Keterkaitannya sebagai penyebab meningitis pada bayi karena Enterobacter sakazakii dalam susu formula telah diidentifikasi sejak 1983.

Pada dasarnya terdapat tiga jalan bagaimana Enterobacter sakazakii dapat mengontaminasi susu formula bayi dan makanan khusus bayi.

Pertama, kontaminasi terjadi pada bahan mentah yang digunakan untuk memproduksi produk. Kedua, kontaminasi terjadi pada produk yang dihasilkan atau pada bahan kering lainnya setelah pasteurisasi. Ketiga, kontaminasi terjadi pada saat produk disiapkan sebagai makanan yang akan dikonsumsi bayi. Termasuk dalam hal ini kebersihan peralatan yang digunakan (botol dan sendok pengaduk) dan personal hygiene yang menyiapkannya.

Dilihat dari segi epidemologi, dari tahun 1983-2004 terdapat kasus Enterobacter sakazakii pada bayi terkait susu formula. Kasus meningitis pertama yang disebabkan bakteri ini dilaporkan di Inggris, kemudian diketahui juga terjadi di Denmark, Belanda, Eslandia, Canada dan AS. Berdasarkan survei The US FoodNet tahun 2002, laju invasi Enterobacter sakazakii menginfeksi sejumlah bayi di bawah usia 1 tahun adalah 1 banding 100.000 bayi.

Tak perlu panik

Pemaparan tentang bahaya yang diakibatkan infeksi bakteri ini terhadap bayi tidak menjadi alasan dihentikannya pemberian susu formula atau makanan khusus bayi, terutama untuk para bayi dengan kondisi khusus dan tidak mendapat ASI. Mudah saja, karena bakteri ini akan mati dengan pemanasan.

Susu formula atau makanan khusus bayi bukanlah produk yang steril. Oleh karena itu, perlu diperhatikan tata cara penyajian, penggunaan, dan penyimpanannya untuk menghindari infeksi Enterobacter sakazakii. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait dengan penyajian susu formula yang akan dikonsumsi bayi diantaranya.

Pertama, air yang digunakan untuk menyeduh susu bersuhu minimal 70 derajat Celcius. Kedua, kebersihan botol dan sendok penyeduh (sterilisasi). Ketiga, good personal hygiene dari penyaji. Keempat, harus dikonsumsi segera, tidak boleh disimpan lebih dari 4 jam setelah dicairkan. Kelima, jika tidak dikonsumsi, disimpan pada suhu dingin 10 derajat Celcius dengan jarak antara pembuatan dan konsumsi susu harus seminimal mungkin.

Tidak hanya dipandang dari sudut penyajian konsumen, perlu diperhatikan pula kerja sama yang baik dari produsen sebagai pihak yang memproduksi susu formula dan makanan khusus bayi. Kerja sama yang baik ini sangat penting adanya guna meminimalisasi terjadinya kontaminasi Enterobacter sakazaki pada produk.

Pemerintah mendorong produsen untuk meningkatkan kisaran steril pada produknya, menekan konsentrasi dan prevalensi Enterobacter sakazakii di lingkungan pabrik, menerapkan sistem pengawasan lingkungan yang ketat dan efektif, serta menggunakan pemeriksaan Enterobacteriaceae sebagai salah satu indikator pengontrolan higienitas dalam alur produksi di pabrik. Selain itu, untuk memudahkan konsumen, pelabelan pada produk hendaknya diperhatikan. Pada setiap produk susu formula dan makanan khusus bayi dilengkapi dengan informasi jelas mengenai tata cara penyiapan, penggunaan, dan penyimpanannya.

Sejatinya, bila kita mengetahui persis bagaimana menyiapkan, menggunakan, dan menyimpan susu formula secara baik dan benar, kasus-kasus kepanikan yang melanda kita ini dapat direduksi sedemikian rupa. Tentunya, sambil menunggu informasi terkini terkait masalah susu formula bayi ini, ada baiknya kita tetap bijak dalam memilih dan menggunakan susu formula bayi tersebut.

Virna Berliani Putri – Dadan Rohdiana

Advertisements