supir

Hubungan Antara Kepintaran dan Kesuksesan

Posted on Updated on


Lamun maneh pinter mah maneh moal jadi supir angkot, tapi jadi pilot!

Umpatan seorang pengguna mobil pribadi yang dibuat kesal dengan tingkah angkot yang memacetkan lalu lintas dengan mengetem sembarangan, menaikkan dan menurunkan penumpang seenaknya. Tapi, apakah pernyataan tersebut benar?

221594_620
Gubernur kang emil bisa jadi supir angkot, kalo supir angkot bisa jadi gubernur?

Menurut pendapat saya ungkapan tersebut ada benarnya tapi ada salahnya juga. Benar, karena pendidikan punya porsi untuk menentukan jenjang profesi seseorang. Orang boleh terlahir dari keluarga miskin, tapi bila dia pintar, dia bisa mendapatkan beasiswa dari SD sampai kuliah. Kesempatan mengecap bangku kuliah di Universitas terkemuka terbuka lebar, lulus dengan predikat cum laude pun bukan hal yang mustahil. Ijazah dari Universitas terkemuka bisa dijadikan modal baginya untuk mendapatkan profesi impiannya atau bahkan membuka usaha baru sesuai dengan passionnya. Yang pasti bukan sopir angkot kan?

Nah, ungkapan tersebut ada poin salahnya atau tidak melulu harus pintar untuk bisa sukses. Banyak contoh publik figure yang sukses dengan pendidikan rendah, misalnya Bob Sadino (pendidikan terakhir SMA, latar belakang keluarga berkecukupan), Susi Pudjiastuti (pendidikan terakhir SMP kemudian dilanjutkan dengan mengikuti Paket C, latar belakang keluarga berkecukupan) dan masih banyak lagi.

Ada beberapa parameter yang menentukan tingkat kesuksesan seseorang, salah satunya emang faktor kepintaran/kecerdasan (IQ), tapi kombinasi dari gairah, sabar, pantang menyerah, dan ketekunan atas KECERDASAN dan BAKAT adalah hal-hal penentu sukses tidaknya seseorang.

Jadi nih, menurut Angela Duckworth, seorang profesor psikologi di University of Pennsylvania, ada dua persamaan yang menunnjukkan bagaimana kita mendapatkan bakat dari kesuksesan:

  1. Bakat x Usaha = Terampil (Skill)
  2. Skill x Usaha = Prestasi

Jadi menurut si Angela ini, potensi seseorang ada dua, yaitu kecerdasan, dan bakat. Kalo Cerdas tanpa bakat, Fail, Bakat tanpa Cerdas pun Fail juga. Bakat dikali usaha yang dilakukan maka akan menghasilkan Terampil/Skill, nah dari Skill yang dihasilkan itu harus dikali dengan usaha lagi agar menghasilkan prestasi/kesuksesan. Masuk akal kan?

Sekarang ada pertanyaan, Bakat saya apa? “da urang mah teu bisa nanaon?”

Gampang nyari tahunya, pertama, miliki dulu minat, kamu sebenarnya minat dalam hal apa/bidang apa. Kedua, kalo sudah tahu minat kalian apa, giat berlatih untuk memperdalam minat kalian tersebut. Ketiga, miliki tujuan, kamu berlatih belajar ini itu biar apa sih? untuk apa? pengen jadi apa?. Terakhir, harapan, harapan apa yang ingin dicapai kalo kalian udah berbakat dalam suatu hal? Sederhana kan. Kuncinya jangan lupa sertai setiap usaha yang kalian lakukan dengan Sabar, Pantang Menyerah, Tekun dan jangan lupa berdoa, karena usaha tanpa doa = sombong, doa tanpa usaha = sia-sia. Betul tidak? hihihi

Buat kalian yang sampai saat ini masih merasa unless, gak berguna, berpikiran negatif terus, gak bisa apa-apa. Come on, orang tamat SMP aja bisa jadi menteri kok, tamatan SMA aja bisa jadi pengusaha besar kan? peluang tetap ada, gak usah berpikiran telat atau terlambat “ah da urang mah ges kolot, sok weh nu ngarora“, menjadi pribadi yang lebih baik tidak mengenal usia mang!

Kan kata agama juga orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, orang yang rugi adalah orang yang hari ini sama aja atau lebih buruk dari hari kemarin.

Jadi, Yuk para supir angkot, tong loba ngetem sangenahna jeng naeken nurunken panumpang sangenahna, teu make rihting deuih mun rek nyisi teh, bisi loba nu ngadoaken teu bener. Doa orang teraniaya diijabah lho!

Bandung 29 November 2018

Advertisements