mengalikan

Seharusnya Bandung Bebas Banjir “Cileuncang”!

Posted on


Saat ini, kalau hujan turun sebentar saja, jalan-jalan di Kota Bandung langsung tergenang banjir cileuncang. Ada tiga penyebab utama, pertama karena air hujan yang tercurah ke ruas jalan itu tidak diimbangi dengan besar parit pinggir jalan yang mampu menampung jumlah air itu. Kedua, kalaupun ada parit, ukurannya kecil, atau sudah penuh dengan tanah dan sampah, dan ketiga, tertutupnya saluran air dari jalan ke parit.

25
Antara perempatan Jln. Soekarno-Hatta dan Jln. Terusan Pasirkoja yang setiap kali hujan turun agak besar dan lama, hampir pasti daerah itu langsung tergenang banjir “cileuncang”

Dalam pelajaran sains di sekolah dasar, disebutkan bahwa air mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Prinsip itulah yang mendasari pembuatan jalan di tempo dulu. Air yang jatuh di permukaan jalan akan segera mengalir ke pinggir jalan, lalu masuk ke parit-parit yang ada di sepanjang pinggir jalan tersebut. Dengan cara itulah tidak akan ada air yang tergenang di jalan, sehingga kerusakan jalan dapat dikurangi, dan ongkos sosial yang harus ditanggung masyarakat dapat dikurangi sekecil-kecilnya.

Namun, keadaan telah jauh berubah. Keadaan ini semakin diperparah dengan ketidakpahaman para pemborong dan masyarakat Bandung, bahwa air akan mengalir ke tempat yang lebih rendah, sehingga saluran ke parit-parit di pinggir jalan banyak yang ditutup rapat, sehingga jalan menjadi saluran air. Ini terjadi hampir di banyak tempat di Kota Bandung, malah sempadan jalan dibuat miring ke jalan, bukan ke arah parit, dengan tidak membuat saluran bagi jalan air ke parit. Jangan heran, bila hujan turun sebentar saja, banjir cileuncang akan segera menggenang perkotaan.

Kita bisa menyaksikan bagaimana pelebaran Jalan Soekarno-Hatta. Parit dibuat cukup namun lubang saluran ke parit tidak sebanding dengan volume air yang tercurah di jalan itu. Lubang saluran ke parit itu sudah ada namun dibuat hanya sekadarnya. Padahal perhitungan berapa besar parit dan lubang saluran itu sangat sederhana. Tinggal mengalikan besaran curah hujan dengan lama waktu hujan, lalu dikalikan dengan luas bidang jalan, maka volume air akan dapat dihitung di ruas jalan itu, ditambah masukan air dari kawasan terbangun yang mengalir ke sana.

Hitungan sederhana itu tidak digunakan, sehingga lubang-lubang air dari jalan ke parit dibuat sangat pongpet, sangat kecil. Lubang itu tak mampu lagi menampung volume air yang tercurah di sana. Lihat di Jalan Lengkong Besar kalau hujan mengguyur. Di jalan itu dan sekitarnya akan digenangi cileuncang, padahal tak jauh di selatannya ada Cikapundung.

Demikian juga di Jalan Suci, pembuatan beton pinggir jalan lupa membuat lubang pembuangan, sehingga sodetan kecil dari jalan ke parit yang sudah dahulu dibangun menjadi mubazir, tertutup tanah tak berfungsi lagi. Atau di simpang lima Terusan Pasirkoja dengan Jalan Soekarno-Hatta sisi utara. Parit di sana tak ada kelanjutan pembuangannya, sehingga bila hujan tiba, belokan di sana langsung tergenang. Di Jalan Leuwipanjang pun sama, parit pinggir jalan keadaannya sudah mendangkal, sehingga jalan di sana selalu tergenang bila hujan tiba. Demikian juga jalan utama seperti Jalan Asia-Afrika, Jalan Dago, Jalan Cihampelas, Jalan A. Yani, dan jalan-jalan lainnya.

Ada juga jalanan yang selalu digenangi cileuncang karena memang di jalan tersebut sudah tak terdapat lagi parit sebagai wadah mengalirnya air yang memadai. Lihat saja di Jalan Kopo di sekitar Sukaleueur. Bila hujan, dapat dipastikan jalanan akan tergenang. Demikian juga di Jalan Terusan Pasirkoja, Sukajadi, Gatot Subroto-Binong, Ciateul, Cicadas, dan banyak lagi. Air bukan lagi mengalir di parit, namun membanjir ke jalan-jalan, seperti di Jalan Merdeka depan BIP, di beberapa ruas Jalan Soekarno-Hatta, Jalan Sukajadi, Setiabudi, Kosambi dan banyak lagi.

Jalan Cihampelas yang menurun ke selatan dan ada sungai di sisi timurnya, bila pembuatan parit pinggir jalannya memenuhi syarat, sesungguhnya di jalan pusat jeans itu tak perlu banjir. Gang dan jalan yang ke luar dari jalan itu yang mengarah ke Cikapundung, di bawahnya dapat dijadikan saluran air, sehingga tidak semua air menuju ke arah perempatan jalan Cihampelas dengan Jalan Abdul Rivai.

Kalau mengamati penampang utara-selatan antara perempatan Jalan LLRE Martadinata dengan Jalan Merdeka hingga Citarum, terdapat beda tinggi 66 meter. Perbedaan ini sesungguhnya lebih dari cukup untuk mengalirkan cileuncang secara nyeot, (mengalir deras). Apalagi di tengahnya ada Cikapundung yang beda tingginya 30 meter. Demikian juga jalan-jalan lainnya yang mengarah utara-selatan.

Lalu, mengapa Kota Bandung selalu tergenang banjir begitu hujan datang? Adanya banjir cileuncang adalah cermin ketidakseriusan pengelola kota dalam mengurus air genangan. Jangan-jangan hal itu dianggap sebagai kejadian rutin yang tidak memerlukan penanganan. Dan, masyarakat akan mafhum, bahwa hal itu terjadi pada saat musim hujan.

Kelalaian pemerintah dan ketidakpahaman masyarakat telah mengakibatkan banyak kerugian yang diderita warga kota, selain fasilitas umum menjadi cepat hancur. Harga sosial akibat banjir cileuncang ini juga sangat mahal, meliputi kemacetan yang luar biasa, bukan saja kerugian ekonomi dan mental, melainkan juga kerugian lingkungan. Berapa ribu liter bensin terbuang percuma saat terjebak kemacetan, disertai lepasnya kadar pencemar yang semakin menyesaki kota. Berapa kerugian karena kendaraan rusak sehingga harus ke bengkel. Begitu banyak orang yang terganggu perjalanannya, terlambat datang di kantor atau sekolah dan kuliah dengan segala akibat rentetannya.

Normalisasi parit pinggir yang baik kualitas dan cukup daya tampungnya, serta membuat saluran-saluran yang memadai besarnya dari jalan ke parit, tindakan ini dapat membantu mengeringkan banjir cileuncang di jalanan Kota Bandung. Kalau tidak, jalanan berubah menjadi sungai, warga kota harus menanggung ongkos sosial yang mahal. Dan, citra sebuah kota akan menjadi rusak, menjadi “Bandung Lautan Cai. Lautan Cileuncang”!

T. Bachtiar

Advertisements