kadang kadang

Foto Formasi Awan-awan Langka

Posted on Updated on


1. Awan Nacreous
Awan Nacreous
Awan ini jarang kita lihat, kadang-kadang disebut awan ibu mutiara, berada di ketinggian 15 – 25km (9 -16 mil)di stratosfer dan jauh di atas awan troposfer. Mereka memiliki warna yang bervariasi tetapi bukan sembarang warna. variasi warna ini dibentuk dari bias cahaya matahari. Awan ini sebagian besar terlihat di daerah kutub dan di musim dingin di lintang tinggi, Skandinavia, Alaska, Kanada Utara. Awan Nacreous bersinar terang di bawah sinar matahari di dataran tinggi selama dua jam setelah matahari terbenam atau sebelum fajar.
2. Mammatus Clouds
Mammatus Clouds
Awan Mammatus adalah awan dengan struktur kantung-kantung. Awan mammatus tidak berbahaya dan terlihat seperti akan terjadi badai tornado, tapi itu persepsi yang salah awan ini malahan terbentuk dari badai tornado berlalu.
3. Noctilucent Clouds
Noctilucent Clouds
Awan Noctilucent atau Polar Mesopheric Clouds: Ini adalah pembentukan awan extroadinarily langka yang keluar di antara ruang 82 km sampai 102 km dari permukaan tertinggi bumi (AOS). Awan Noctilucent di belahan bumi yang lain akan terlihat seperti bercahaya.
4. Mushroom Clouds
Mushroom Clouds
Awan jamur adalah awan berbentuk jamur khas yang terbentuk dari asap, uap air kental, atau puing-puing akibat ledakan yang sangat besar. Mereka sering dikaitkan dengan ledakan nuklir. tapi tidak semua Awan jamur dihasilkan dari efek ledakan nuklir. letusan Gunung dapat menghasilkan awan jamur alami. Awan Jamur terbentuk akibat perubahan panas dan masa jenis awan secara tiba-tiba
 
5. Lenticular Clouds
Lenticular Clouds
Awan Lenticular, secara teknis dikenal sebagai lenticularis stand altocumulus, adalah awan yang terbentuk berbentuk di tempat yang tinggi.
Ketika udara lembab stabil mengalir di sebuah gunung atau daerah pegunungan, serangkaian gelombang terbentuk dengan skala besar, terbentuk ketika awan melawan arah angin. Dalam kondisi tertentu, awan lenticular formasi yang dikenal sebagai “gelombang awan”.
 
6. Shelf Clouds
Shelf Clouds
Tidak seperti awan roll, awan Shelf (rak) melekat ke dasar awan (biasanya berlangsung ketika ada badai). Gerakan awan dibagian luar terlihat lembut dan lurus sedangkan di bagian dalam terlihat bergelombang dan robek-robek.
 
7. Stratocumulus Clouds
Stratocumulus Clouds
Menurut Observatorium Meteorologi Sapporo, awan stratocumulus terbentuk akibat terjebak arus udara panas dan arus udara dingin. Awan ini sangat jarang dilihat.
8. Altocumulus Translucidus
Jika ada kata “Alto” pada nama sebuah awan, artinya awan itu berada di ketinggian menengah (6.000 – 20.000 kaki). Jika awan itu di atas 20.000 kaki, maka nama depannya adalah Cirrus. Jika berada di bawah 6.000 kaki, tidak ada nama awalan yang khusus. Namun awan dengan ketinggian ini diberi namastratus atau cumulus, tergantung jenisnya.
Awan Altocumulus ini terbentuk dari tetesan air dan terlihat seperti bongkahan-bongkahan putih dan abu-abu yang menutupi langit. Istilah “translucidus” di nama belakangnya menunjukkan bahwa satu bagian dari langit yang dipenuhi awan itu memiliki celah yang memampukan cahaya matahari melewatinya (Translucent).
9. Altocumulus Castelanus atau Jellyfish Cloud
Nama tentakel yang menjuntai ke bawah disebut “trailing virga” dan ia terbentuk akibat tetesan air hujan yang sudah menguap.
Awan seperti ini muncul ketika udara lembab naik dari arus air di teluk dan terperangkap di antara udara kering.
Advertisements

Jalan-jalan Sekaligus Duta Budaya di Korea

Posted on


Bahkan sebuah mimpi yang mustahil pun bisa terwujud jika kita berusaha dengan sungguh-sungguh. Seperti arti kutipan kalimat terkenal man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil.

Hanya dalam waktu kurang dari tiga bulan (awal Maret sampai awal Mei 2013) setelah bergulat mencari sponsor dan berlatih akhirnya kami bisa berkunjung ke negeri pengekspor Kpop. Tim Angklung Symphony, yang terdiri atas sepuluh murid dari SMA Plus Muthahhari beserta dua orang guru pendamping. Pada tanggal 18 Mei 2013 hingga 28 Mei 2013 menjelajah tiga kota di Korea Selatan, yaitu Seoul, Jeonju, dan Busan. Misi utamanya adalah memperkenalkan angklung dan alat musik Sunda lainnya di sekolah-sekolah di Korea.

Kejutan di Bandara Incheon adalah dua kotak angklung yang tak bisa langsung melewati pabean. Ketegangan mulai melanda. Apa mungkin mi instan yang disisipkan di celah-celah kosong dianggap barang haram? Mereka menginginkan kotak dibuka. Setelah melihat sendiri isi kotaknya dan dijelaskan lalu diperagakan cara memainkannya, barulah mereka yakin angklung itu alat musik.

“Di pemindai ujung angklung terlihat seperti senjata,” ujar salah satu petugas menjelaskan kepada saya. Rupanya itu yang jadi akar persoalan.

Begitu mendarat di Korea, pelajaran penting pertama yang saya berikan kepada murid-murid adalah berjalan kaki dan berhemat. Di Korea tak ada ojek atau angkot, jadi mereka harus terbiasa berjalan kaki, bergerak cepat, dan menghemat ongkos.

Bertolak dari hostel kami yang berada di daerah Hongdae, perjalanan bermain dan lokakarya angklung dimulai. Jeonju, yang terkenal dengan nasi campurnya yang disebut bibimbap, menjadi kota persinggahan kedua setelah Seoul. Di sini, murid-murid menginap selama dua malam di rumah murid-murid SMA Shinheung dan saya beserta guru seni di rumah guru-gurunya. Cerita lucunya datang dari murid-murid saya dan guru seni, Pak Rizki. Karena kendala bahasa, mereka kadang-kadang mengobrol dengan bantuan terjemahan di telefon seluler atau bahasa isyarat. Ajaibnya, percakapan tetap tersambung dan akur sampai-sampai mereka sangat bersedih ketika harus berpisah.

Selama di Jeonju kami sempat berjalan-jalan ke Gyeonggijeon Shrine, Jeondong Catholic Church, dan Hanok Village. Tak lupa, kami mampir di restoran yang terkenal akan kalguksunya, Veteran. Ketika Pak Guru Kim, sang tuan rumah, mengatakan bahwa penampilan pertama kami akan dilakukan di alun-alun kota dekat tempat wisata, kami sedikit terperanjat.

Kami tak yakin orang-orang akan tertarik untuk berhenti dan menonton kami. Kekhawatiran itu musnah saat orang mulai berdatangan  untuk menonton. Tak hanya itu, mereka mulai mendekat, memegang angklung, serta mencoba memainkannya. Mereka kemudian bertanya-tanya soal angklung. Pada akhir penampilan, satu per satu penonton kami ajarkan cara memainkan alat musik dari bambu ini. Mereka antusias untuk mencoba. Alhamdulillah, pertunjukan pertama lumayan sukses.

Pertunjukkan selanjutnya adalah di SMA Shinheung dan Jeonju Art School sempat membuat kami ketar-ketir. Saat datang kami disuguhi penampilan Samulnori ditemani orkestra musik tradisional yang terdengar spektakuler. Sebelum pentas saya jelaskan bahwa kami hanya datang dari sekolah umum bukan sekolah seni. Kemampuan kami jauh di bawah mereka. Sebuah ucapan menenangkan datang dari murid-murid di sekolah tersebut.

“Gwaenchanayo. Tidak apa-apa,” ujar beberapa murid di belakang. Di luar dugaan, mereka langsung tertarik ketika mendengarkan permainan kendang Pak Rizki. Saat akhirnya angklung kami mainkan, mereka tambah terpesona. Perpaduan angklung dan kendang membius mereka. Alhamdulillah, lenyap sudah kekhawatiran tadi.

Serba kebetulan

Kota selanjutnya yang kami singgahi adalah Busan. Selama tiga malam kami menginap di sekolah kenalannya Pak Guru Yang. Saat berada di Busan, kami sempat berjalan-jalan ke pasar ikan Jalgachi, menaiki Gunung Hwangryoung yang terletak di dalam kota. Dari puncaknya kita bisa melihat pemandangan kota Busan, nongkrong di depan Nuri Maru APEC House, serta bermain di Pantai Gwangalli dan Haeundae.

175626_menyusuri-jalanan-gangnam-di-korea-selatan_663_382

SMA Gaesung adalah sekolah pertama kami mengenalkan angklung. Walaupun sesaat tapi sangat berkesan karena murid-murid yang sedang berlatih memainkan Samulnori itu sangat tertarik dengan angklung. Kami sempat bertukar alat musik tradisional sebagai cenderamata. Asia Community School, selain tempat menginap juga tempat kami memberikan penampilan dan lokakarya angklung. Kami dijamu dengan sangat baik oleh kepala sekolahnya. Yang unik, murid-murid di sini berasal dari beragam negara. Selanjutnya kami mampir ke SMP Baejung dan berkesempatan manggung di Stasiun Subway Seomyeon yang penontonnya kebanyakan para sepuh.

Yang tak dinyana adalah kami bisa main pada acara “International Youth Walk for World Peace and Restoration” yang diadakan di Seoul Olympic Stadium. Semua serba kebetulan. Panitianya kebetulan butuh tim kesenian tradisional dan kami butuh angkutan murah untuk kembali ke Seoul. Sempat ada tawaran main di stasiun televisi. Sayang harus kami tolak, karena jarak cukup jauh dan besoknya kami harus pulang. Di sisa waktu di Seoul, kami berjalan-jalan ke Istana Gyeongbok, Gwanghwamun dan Seoul Plaza, serta Cheonggyecheon. Untuk mencari oleh-oleh, kami mampir ke Pasar Namdaemun dan Dongdaemun yang terkenal murah.

Keesokannya kami pun pulang dengan hati senang dan riang karena bisa berwisata sekaligus menunaikan tugas sebagai duta budaya.

 

Siti Hasanah, guru bahasa Inggris dan bahasa Korea, pencinta jalan-jalan, tinggal di Bandung.