islam

Percakapan Di Jendela

Posted on Updated on


Cerpen Toni Lesmana

Setiap pagi. Siang. Sore atau malam. Setiap kali aku terbangun. Maka aku akan melihat jendela. Jendela yang berada di dalam kamar ini. Jendela yang menghubungkan dengan pekarangan. Dengan dunia luar. Di jendela itu aku selalu melihat dirimu tersenyum. Seperti menyambutku yang lepas dari garis finis mimpi. Senyum yang lembut. Sungguh aku selalu ingin mengecupmu. Mengecup bibirmu yang tersenyum. Tapi kau hanya berdiam di jendela. Tak pernah masuk. Matamu khusyuk jika sedang menatapku. Semacam ajakan atau entah apa. Aku selalu ingin berenang, berteduh di matamu. Wajahmu sangat mempesona. Cantik. Ganteng. Aku tak bisa memastikan kau perempuan atau laki-laki. Wajahmu adalah puncak dari keindahan.

Tak pernah kutahu sejak kapan kau berada di jendela. Barangkali sejak seluruh pintu rumah ini tertutup dan terkunci. Ya. Sejak aku sendiri. Sendiri dikejar mimpi. Sendiri berkejaran dengan mimpi. Kadang sendiri mengejar mimpi. Aku hanya ingat, ketika terbangun tiba-tiba saja kau telah berada di jendela.

Tak pernah ada percakapan. Barangkali bahasaku dan bahasamu berbeda.

Padahal aku ingin bercerita banyak sekali, seperti yang pernah kulakukan pada ibuku, pada ayahku, pada setiap orang. Pada siapa saja yang kutemui, yang kemudian mereka akan mengerutkan kening. Melotot. Marah. Atau meninggalkanku.

Sepertinya aku merasa kau telah mengetahui apapun yang ingin kukatakan. Begitulah dengan memandangmu dan kau memandangku saja sudah cukup. Aku pun tahu ada banyak sekali yang kau ceritakan dari tatapan matamu.

Matamu seperti jendela yang lain. Terbuka dan sebuah pemandangan luas segera terhampar. Terdapat langit dan bumi dalam matamu. Pernah kusaksikan bagaimana langit dan bumi itu tercipta. Di langit, muncul matahari, bulan dan bintang. Awan yang tak henti bergerak. Warna-warna yang semarak. Sesekali burung beterbangan. Maka kuikuti terbang burung itu, melayang di atas hutan, sungai, kampung-kampung, kota yang gemerlap. Melewati orang-orang yang lalu-lalang. Ada banyak peperangan yang terlintasi. Batu berhamburan di udara, suara peluru, ledakan-ledakan. Burung itu terus melayang sampai ke laut. Berputar-putar di atas ombak, di atas perahu, menikmati ikan-ikan yang melompat, jumpalitan, dan meluncur kembali ke dalam gelombang.

Ya. Bahkan aku pernah melihat rumahku sendiri. Jendela kamarku. Aku melihat diriku yang terbaring dalam kamar. Aku melihatnya dalam matamu. Matamu yang indah. Matamu yang tak pernah berhenti berkisah. Berkisah tentang apa saja.

Tapi kau tak pernah mau masuk ke dalam kamar. Hanya duduk di jendela.

Aku tak mungkin dapat mendekat. Tubuhku telah lama dipasung. Begitulah. Setelah kuceritakan apa saja yang ingin kuceritakan pada orang-orang. Maka mereka lambat laun mengurungku. Mula-mula aku tak boleh keluar rumah. Maka aku hancurkan rumah. Lama-lama aku tak boleh keluar kamar. Maka kuhancurkan pula kamar. Pada akhirnya aku tak dapat kemana-mana. Kaki dan tanganku terkunci pada ranjang ini.

Seluruh kamarku terkunci sebenarnya. Jendela. Pintu. Hanya sesekali. Satu kali dalam sehari. Ada yang masuk untuk menyimpan makanan. Entah siapa. Aku tak mengenalnya. Dia begitu setia. Padahal, makanan itu tak pernah kusentuh. Aku tak butuh lagi makanan. Setidaknya kau pun kulihat begitu. Mulutmu hanya tersenyum. Tak pernah kulihat mengunyah.

Oya. Memang seluruh pintu dan jendela terkunci. Tapi kau, aku ingat pada hari pertama aku dipasung, tiba-tiba saja membuka jendela dengan halus. Tanpa suara, dengan gerakan yang lembut. Kemudian duduk di jendela itu. Posisi duduk yang tak pernah berubah. Setiap aku bangun selalu saja begitu. Bersandar. Sebelah kakimu masuk kamar, sebelah lagi keluar. Dan posisi wajahmu juga selalu begitu. Menatapku, tersenyum.

Aku terpesona. Dan jatuh cinta sejak pertama bertemu. Pernah kupikir kau adalah malaikat maut. Itu yang pertama terlintas. Sebab itulah yang sering kuceritakan pada orang-orang, bahwa malaikat maut ada dimana-mana, mereka akan segera membunuh siapa saja, maka sebelum malaikat maut itu datang, apa salahnya jika aku membunuh mereka. Tapi aku hanya akan membunuh mereka yang akan dibunuh. Aku tawarkan pada siapa saja yang kutemui. Dan seperti inilah nasibku. Terpasung.

Kau tentunya bukan malaikat maut. Kau tidak menakutkan. Seharusnya menakutkan. Sekali pandang nyawa melayang. Ini malah membuat jatuh cinta.

Setiap hari aku menerka-nerka siapa dirimu sesungguhnya. Tak ada sayap di punggungmu. Malaikat haruslah bersayap. Begitu juga malaikat maut, kubayangkan sayapnya hitam seperti malam, mengepak, dan kabut berguguran dari kepakannya, kabut yang mematikan. Tapi kau tak butuh sayap.

Kau tak pernah pergi dari jendela itu. Selalu ada setiap terjaga. Barangkali kau pergi ketika aku tertidur. Tapi tidak kupikir. Kau tak pernah pergi. Begitulah kekasih, tak pernah pergi barang sedetik. Selalu ada dan terjaga.

Jika sebelumnya aku selalu ingin mati. Ini juga kuceritakan pada orang-orang, bahwa setelah aku membunuh setiap orang, maka aku akan bunuh diri. Atau kutawarkan juga pada orang-orang untuk membunuhku saja terlebih dahulu, agar aku tak perlu membunuh mereka. Tak ada yang mau. Baik untuk dibunuh ataupun untuk membunuh. Begitulah. Aneh.

Mereka lalu seperti ketakutan jika melihatku. Barangkali takut dibunuh. Padahal aku belum membunuh siapapun. Apapun. Kecoak saja belum. Pernah aku bertanya pada kecoak, semut, burung, ikan. Apakah mereka mau dibunuh atau membunuhku. Mereka tak menjawab. Atau jika mereka menjawab pun aku tak tahu. Toh, aku tak bisa bahasa binatang. Jadi tak ada dari mereka yang kubunuh.

Sebelumnya aku memang selalu kepingin mati. Namun setelah kedatanganmu aku justru ingin selamanya hidup. Padahal kau tak pernah membujukku untuk terus hidup. Terus hidup di dunia yang aneh ini. Kupikir tak seharusnya aku hidup di dunia ini, entah mesti hidup di mana. Mungkin dunia yang tak ada orang lain.

Tentu saja kau bukan orang lain. Kau seperti diriku sendiri. Ini mungkin karena saking jatuh cintanya aku padamu. Kupikir kau adalah diriku. Dan aku adalah dirimu. Barangkali begini rasanya jatuh cinta.

Kamar ini, ranjang ini, pasungan ini, bukan lagi hal yang menyiksa. Ini menjadi tempat terindah. Jika dulu aku selalu menghancurkan apapun yang mengurung dan mengepungku. Setelah kehadiranmu, justru aku merasa betah dalam kurungan. Kubayangkan bahwa kamar ini, pasungan ini, adalah jembatan untuk kedatanganmu. Tak akan ada dirimu jika aku tak disekap dan dipasung di ranjang ini, di kamar ini. Ini seperti takdir. Jalan untukmu menemuiku. Tentu saja aku tak ingin pergi dari jalan ini. Tak akan.

Pagi ini. Ah, barangkali ini sore hari. Hari ke berapa aku dipasung. Entah. Hari seperti tak beranjak. Waktu tak lagi penting. Tak ada yang lebih penting dari dirimu. Kehadiranmu melebihi ruang dan waktu. Kesunyianmu sedap dan bergairah. Ini benar-benar jatuh cinta. Aku takluk dan menghamba.

Dan cinta ini membuatku memasuki sunyi. Kutahan setiap kata yang ingin melompat dari mulut. Kutahan kata dalam mulut. Kutarik kata ke tenggorokan. Kutarik lagi lebih dalam ke dada. Kubiarkan setiap kata yang terbit bertahan dan matang sendiri dalam dada. Tak ada satu katapun yang keluar dari diriku. Dan kurasakan dadaku seperti taman yang mekar. Bergetar, penuh dan utuh. Barangkali seperti itu juga dirimu. Barangkali itulah pusat pesonamu.

Kau yang segar menawan di jendela. Kau yang diam-diam menghisap seluruh isi dadaku. Kutinggalkan diriku. Melayang menuju dirimu. Memasuki dirimu. Semesta yang menakjubkan. Diam-diam aku juga menarik seluruh dirimu ke dalam diriku. Aku yang tertawan di atas ranjang.

Lama-lama aku seperti berada di posisimu. Duduk di jendela. Kau berada dalam posisiku. Terbaring di ranjang. Bolak-balik. Aku memasukimu dan kau memasukiku. Ini hanya terjadi dalam sunyi. Sunyi yang seperti abadi. Tak ada tepi. Tak ada mati. Asyik.

Betapa indahnya diam. Segalanya tumbuh bukan lagi dalam tubuh. Menjangkau apapun. Melampaui apapun. Barangkali aku gila. Benar-benar gila karena cinta. Benar-benar gila dan bebas. Karena kau. Jendela lain yang duduk di jendela.

Kedungpanjang, 2013

Advertisements

Ciri Khas Orang Sunda

Posted on Updated on


ciri khas orang sunda

Polemik dua anak sunda yang rupanya “terdengar” hingga ke telinga orang Eropa, hingga membuatnya “tertarik, tetapi agak cemas juga”. Ada dua bekal utama Watson. Pertama, kekhawatirannya atas kemungkinan bangkitnya Ki Sunda. Kedua, formula bagaimana orang Sunda seharusnya berbuat di masa depan.

Bekal pertama, dapat dipahami jika melihat sosok Watson yang menganut paradigma skeptisisme. Dalam pandangannya, budaya suatu bangsa (ciri khas suatu etnis) harus dianggap tidak ada, terhadap pengakuan jati diri suatu etnis perlu disikapi skeptis dan dipersoalkan, munculnya kata-kata seperti “mampu bersaing”, “berani”, dan “fighting” wajib dicurigai bahwa hal itu mengandung bibit pikiran yang sangat berbahaya kalau dibiarkan tumbuh, terlebih lagi imbauan politikus supaya memperhatikan nasib orang Sunda harus diwaspadai dan ditolak. Bekal kedua, Watson mengajari orang Sunda dalam menghadapi masa depannya. Menurut dia, “Mestinya begini”: (1) budaya (dalam makna seni/sastra/musik) harus mati-matian dilestarikan dan dicarikan penggagas dan pemimpin yang tepat untuk itu, dan (2) memperhatikan orang miskin dan tertindas.

Sebagai orang yang belajar politik, untuk bekal Watson pertama, saya memandang ia sedang menjalankan usaha “antropolog” yang secara mendasar berhubungan dengan proses pembenaran hubungan kekuasaan yang tidak simetris, berhubungan dengan proses pembenaran dominasi (Thompson, 2007: 17). Dorongan ini akan mengikat seluruh analisisnya pada pertanyaan kritis dekonstruktif, apa pun itu, bagaimanapun caranya, bahkan terlepas dari substansi sekalipun, yang penting satu target teramankan: yaitu mempertahankan hubungan asimetris alias dominasi. Ini cara berpikir yang amat mengimani “metodologi”, jika Foucault menggunakan istilah kuasa wacana (concept of discourse), Thompson memakai critical conception of ideology, sementara Watson berlindung di balik “celah antropologi”. Sejauh menyangkut apa yang ingin diajarkan Watson kepada orang Sunda ke depan, saya hanya mengatakan bahwa ajarannya itu Snouck Hurgronje banget!

Secara sederhana diungkapkan, itu ceramah tentang Sunda yang seharusnya dulang tinande alias nrimo dengan nasib yang ada, jangan melawan atau menyusun keberanian, jati diri yang hilang pun tidak perlu disusun kembali karena memang tidak ada (hanya mitos), dan sebagainya yang senada. Terhadap ceramah ini, saya menolak. Sisanya, anjuran tentang masa depan orang Sunda yang tidak perlu membangkitkan sisi “perjuangan” budaya (lebih tepatnya yang saya maksud adalah biopolitics) mencukupkan pada sisi “seni” budaya saja dan sebagai gantinya harus fokus memperhatikan orang miskin. Terhadap anjuran ini, saya juga menolaknya. Pengentasan kemiskinan itu adalah tugas konstitusional negara. Kita membantu atau menguatkan.

Saya ingin menyatakan kembali beberapa kutipan penting sebelumnya, bahwa “dalam setiap aktivitas manusia selalu ada porsi konstan yang bisa diisolasikan ke dalam ciri-ciri pribadi” dan bahwa “sifat khas tidaklah aktif setiap saat, tapi tetap tertahan walaupun dalam keadaan laten dan mudah aktif kembali cukup dengan rangsangan  yang lemah”. Dan saya adalah satu di antara barudak Sunda yang sedang berusaha untuk mengaktifkan kembali sifat-sifat khas Sunda seperti Ki Sunda, tha fighting Sundanesse, lalaki langit lalanang jagat tanpa ada kekhawatiran sedikit pun berubah jadi fasis seperti Hitler. Sepengetahuan saya, di tatar Sunda tidak ada sejarah fasisme dan Hitler bukanlah bangsa Sunda. “Sabab Pajajaran mah hanteu ngajar mudu jahat, hanteu widi keuna jail”. (Pantun Bogor).

Soal kebangkitan Ki Sunda, secara tegas ia mendukung, “Kebangkitan Sunda bukan primordialisme, melainkan kesadaran kolektif akan harga diri.”

Persis di situ inti masalahnya. Self-awareness orang Sunda! Sebab, di dalam literatur disebutkan self-awareness adalah satu di antara “components of authentic leadership development” (Avolio & Gardner, 2005: 324-325). Orang Sunda sulit menyusun konsep kepemimpinan tanpa adanya kesadaran kolektif akan harga dirinya.

Perasaan minder akibat terlalu lama dijajah yang diprasangka berdampak pada minimnya peran kepemimpinan politik Sunda terutama di level nasional, lalu ditunjang oleh langkanya literatur tertulis tentang konsep-konsep kesundaan khususnya tentang politik dan kepemimpinan, adalah di antara “PR” yang menurut saya mendesak disikapi oleh para putuin seke seler Sunda. Saya berada di dalamnya dan sangat mencita-citakan agar kebangkitan pemikiran Ki Sunda memiliki landasan kognitif yang kokoh dan relevan dengan tuntutan zaman.

Melalui beberapa artikel, saya berusaha saling menyemangati untuk mengubah tradisi lisan ke tradisi tulisan; dari premis yang berserakan menjadi ilmu pengetahuan. Paralel dengan itu, jika tidak ada aral melintang, saya sedang melakukan penelitian akademis tentang kepemimpinan otentik politik Sunda yang digali dari khazanah lokal yang sangat khas Sunda yaitu Uga Wangsit Siliwangi.

 

Husin M Al Banjari (Tengah menempuh studi pada program S-3 ilmu politik FISIP Unpad)

Fenomenologi Poligami

Posted on Updated on


 

fenomenologi poligami

Aceng Fikri yang Bupati Garut akhirnya dilengserkan dari jabatannya gara-gara menikah siri empat hari dengan Fany Octora yang berusia 18 tahun, di luar istri pertamanya. Terbukti poligami tidak selalu bermanfaat, meskipun hingga batas tertentu dibolehkan.

Pada sebagian masyarakat Muslim, termasuk di Indonesia, para lelaki berpoligami bukan karena pertama-tama ingin mengikuti sunah Nabi, tetapi karena mereka adalah penganut patriarki sejati. Karakter suatu kaum lazim tercermin dalam berbagai wacana, termasuk humor. Bahwa pria cenderung poligamis, tersirat dalam dialog berikut ini.

“Jika suami beristri banyak itu apa namanya?”

“Poligami.”

“Kalau suami beristri satu?”

“Monogami.”

“Bukan. Monoton.”

Atau seperti dalam gurauan seorang pria berusia 60 tahunan seperti berikut: “Kawan saya bilang bahwa istrinya cuma satu dan berumur 60 tahun. Saya bilang, daripada satu istri berumur 60 tahun, lebih baik dua istri berumur 30 tahun.”

Para pria penganut patriarki sering menjadikan ayat tentang pembolehan poligami dalam Alquran (An Nisa:3) sebagai pembenaran, meskipun keluar dari konteks historisnya. Sesungguhnya, poligami yang dilakukan Nabi pada zamannya adalah untuk “mengangkat derajat wanita”, karena saat itu lelaki lazim beristri banyak, bukan hanya di tanah Arab, tetapi juga di berbagai wilayah di luar arab. Bahkan sebelum era Islam, poligami lazim di kalangan bangsa-bangsa Ibrani, Yunani, Mesir kuno, Persia, Romawi, Nasrani, India kuno, Babilonia, dsb. Kitab Taurat membolehkan poligami tanpa menyebutkan batasannya.

Konon jumlah istri Nabi Sulaiman pun lebih dari 100 orang. Ketika Muhammad diutus  menjadi Rasul, banyak pria Arab (jahiliyah) yang mempunyai 10 istri, seperti Ghailan bin Salamah dan Mas’ud bin Amir di kalangan bani Tsaqif (Muhammad As Syarif, 2012). Namun, saat itu umat Nabi tidak diperintahkan untuk mengambil satu istri dan menceraikan sisanya, melainkan boleh memiliki maksimal empat istri, asalkan sang suami bisa berlaku adil (jika tidak bisa adil, satu istri saja). Jadi ada faktor kultural atau situasional saat itu yang melatarbelakangi turunnya ayat tersebut. Salah satu tujuannya boleh jadi agar umatnya tidak merasa terlalu terbebani dan tidak menderita gegar budaya.

Konteks lainnya, pada era Nabi, jumlah perempuan jauh lebih banyak daripada jumlah pria, karena suami-suami mereka meninggal di medan perang. Tujuan poligami saat itu bukan hanya untuk melindungi kaum wanita tetapi juga untuk menyantuni anak-anak mereka yang yatim. Tidak ada perintah Nabi untuk menikahi perawan atau janda muda yang bahenol di luar istri pertamanya itu.

Kini tidaklah lazim bagi seorang pria, pemimpin negara sekalipun, untuk menikah dengan puluhan perempuan. Namun poligami masih dibolehkan, terutama dalam keadaan darurat, seperti istri yang sakit permanen, karena itu tidak dapat melayani suaminya, atau mandul. Tidaklah mengherankan jika para ulama terkemuka Al Azhar Mesir seperti Muhammad Abduh, Rashid Ridha dan Muhammad al Madan memperketat penafsiran atas ayat Quran tentang pembolehan poligami. Dengan melihat kondisi Mesir saat itu (1899), Abduh bahkan mengharamkan poligami bagi orang yang khawatir akan berlaku tidak adil. Tanpa bimbingan Allah swt., seperti yang diberikan kepada Nabi-Nya, sulit bagi seorang pria biasa untuk berlaku adil jika, misalnya, kedua istrinya berbeda: yang baru muda dan cantik dan yang lama sudah tua dan tak menarik lagi.

Sebagian orang berpendapat bahwa poligami dibolehkan karena nafsu seksual lelaki yang jauh lebih besar daripada istrinya. Mereka berargumen, “Daripada berzina kan lebih baik menikah secara sah.” Namun, jika kita menghargai hadis Nabi agar bujangan sebaiknya saum untuk mengatasi nafsu seksual mereka, hadis ini tentu berlaku juga bagi pria yang sudah menikah tetapi kelebihan nafsu seksual.

Poligami kehilangan esensinya jika seorang pria dalam keluarga yang bahagia ujug-ujug, tidak ada hujan dan tidak ada angin, menikah lagi dengan perempuan lain yang muda dan menarik, apalagi sambil meninggalkan anak-anaknya yang merasa bahwa ayah mereka telah mengkhianati ibunya. Boleh jadi anak-anak ini menjadi rentan dan bahkan merasakan broken home. Padahal tujuan pernikahan adalah kebahagiaan lahir batin, yang dalam bahasa agama disebut sakinah mawadah warrahmah (kedamaian, cinta dan kasih sayang). Hanya binatang yang selalu memperturutkan syahwatnya tanpa kendali. Dengan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritualnya, manusia seyogianya mampu mengendalikan nafsu primitifnya.

Pernikahan yang sesuai dengan sunah Nabi tidak mungkin menyebabkan istri yang setia dan anak-anak yang bahagia selama perkawinan merasa tersakiti, tersingkirkan dan dikhianati, apalagi jika sang istri telah berjasa besar bagi kesuksesan suaminya. Sang istri juga manusia, punya perasaan dan ingin bahagia. Ia bukan sekadar seonggok daging ataupun robot.

Banyak pria Muslim begitu lugu. Mereka sekadar memahami makna harfiah ayat Alquran yang membolehkan poligami. Mereka tidak memahami esensi di balik teks suci itu. Tidak mengherankan jika dalam pertemuan dua orang pria Muslim, seorang berucap seperti berikut ini: “Apa kabar ya, Akhi? Saya sudah melaksanakan sunah Nabi secara penuh. Istri saya empat sekarang. Masak kamu masih satu saja?”

Poligami bukan inti ajaran Islam, melainkan sekadar pinggiran (feri-feri)-nya. Poligami adalah solusi bukan nafsi-nafsi. Sementara monogami juga bukanlah dosa. Sebagian ulama berpendapat bahwa dalam konteks sekarang poligami sekadar mubah, bukan sunah, tapi bisa jadi haram jika niatnya salah. Masih banyak sunah Nabi yang jauh lebih penting, seperti berdakwah dengan mengorbankan harta dan jiwa (bukan mencari amplop dan popularitas), salat berjamaah di masjid, salat tahajud, menyantuni fakir miskin, dan saum setiap Senin dan Kamis.

“Lelaki inginnya mengambil sunah Nabi yang enak-enak, bukan yang susah-susah seperti yang Nabi lakukan dulu, hingga Nabi dilecehkan dan dilempar kotoran. Nabi pasti akan nangis melihat ‘sunah’ yang dipilih-pilih begini dan berkata, ‘Bukan itu yang saya maksudkan.'” ujar seorang sejawat saya. Percayalah, kita tidak akan pernah lebih saleh dari pada Nabi Muhammad saw., bahkan daripada para sahabatnya sekalipun. Sahabat sekaligus menantu Nabi sendiri, Ali bin Abi Thalib, tidak melakukan poligami, atas perintah Nabi. Nabi tidak tega hati putrinya, Fatimah, tersakiti. Nabi mengingatkan di mimbar masjid, “Apa yang menyakiti Fatimah berarti menyakitiku juga.”

Pria Muslim yang tidak melakukan poligami secara syar’i, pada hakikatnya ia sedang merusak citra Islam dari dalam di mata non muslim. Maka tidak mengherankan jika pertanyaan yang muncul dari seorang non Muslim saat bertemu dengan seorang Muslim adalah tentang poligami ini, “Anda boleh menikah dengan empat istri ya?” Sayangnya, kaum non muslim sering melihat Islam lewat tindakan pria Muslim (termasuk Muslim Arab), bukan bagaimana islam mengajarkan tindakan tersebut. Padahal menurut Ali bin Abi Thalib, “Jika kamu ingin melihat Islam, pelajarilah ajarannya, lalu kamu lihat siapa yang mengikutinya dan siapa yang tidak.” Memang banyak pria Arab beristri lebih dari satu, tetapi itu tidak berarti bahwa tindakannya otomatis bersifat islami. Maka kita pun maklum, meski sedikit tersinggung, jika seorang penulis non Muslim menyampaikan anekdot berikut ini:

Sebuah pertanyaan ditujukan kepada seorang pria Arab dan seorang pria Inggris, “Anda akan memilih siapa di antara ibu kandung anda dan istri anda, jika anda harus mengorbankan salah satunya dalam perahu yang anda tumpangi agar perahu itu tidak tenggelam.” Orang Arab menjawab “Istri saya.” Sementara itu, orang Inggris menjawab, “Ibu saya.” Alasannya, orang Arab: “Ibu saya tidak tergantikan, sedangkan saya bisa mengganti istri setiap kali.” Orang Inggris: “Ibu saya jauh lebih berjasa daripada istri saya karena ia telah melahirkan dan membesarkan saya.”

Saya tidak antipoligami. Jika anda ingin berpoligami, lakukan hal itu sebagai solusi atas problem anda yang sulit anda atasi tanpa poligami. Itupun sebaiknya berdasarkan kerelaan istri. Namun, para praktisnya tidak perlu membentuk organisasi. Pun, poligami tidak perlu dibangga-banggakan, apalagi diperlombakan, karena hal itu lebay dan akan merusak citra Islam.

 

Deddy Mulyana (Guru Besar dan Dekan Fikom Unpad)