fiksi

Surat dari Maladewa

Posted on


Sayang..

Aku tau kau sangat mengkhawatirkanku. Begitu juga aku, mencemaskanmu karena kutahu kamu selalu bertindak bodoh kalo lagi khawatir padaku. Apa saja yang kupikirkan. Apa saja yang kucerna di kepala dan tak kuceritakan padamu. Apa saja yang kukerjakan dan tak menghasilkan apa-apa. Apa saja yang kumaka, kubuang dan kumuntahkan. Aku gak beli lagi nasi goring yang dijual deket rumahmu itu ko. Serius. Aku sangat sangat tahu kau begitu peduli padaku. Makanya kamu usir pedagang nasi goreng itu jauh-jauh demi aku, kan? (apa sih? Gak jelas..)

Karena begitulah caramu mencintaiku sayang.

Tapi kumohon sayang,

Percayalah padaku. Setelah kau mempercayai Tuhanmu tentunya. Dia pasti bilang “Kau tak perlu mengkhawatirkannya karena dia tak akan membuatmu khawatir. Berikan saja doa terbaikmu untuknya, tapi jangan kau basahi doamu dengan air mata. Layaknya gabah, doa basah tak lebih berharga ketimbang doa kering.”

Ya, Tuhanmu benar. Aku akan tetap begitu sayang. Tetap mencintaimu dengan sederhana seperti dalam suratku dulu, seperti suratku ini, dan surat nikah kita nanti. (Eh….)

Aku tetap memandangimu dengan mata tertutup dari kejauhan sayang. Dari tempat aku mulai menutup dan membuka mata saat pagi tiba. Tetap merasakan detak jantungmu yang dulu dipeluk jantungku saat terakhir kita bertemu. Deru nafasmu. Derai tawamu. Sejuknya kulitmu. Hangatnya sentuhanmu. Juga liar bibirmu yang paling membenci kening berdebu. Semua akan tetap begitu sayang.

Kau hanya butuh percaya padaku.

Maka semuanya akan baik-baik saja.

Kumohon jangan marah-marah padaku lagi sayang. Karena aku akan tiba-tiba menjadi kosong dan sulit berfikir. Kau tak ingin aku gila kembali kan? Aku tak mau hidup dalam hitam putih lagi. Membuatku tak berselera. Lagipula aku bukan Deddy Corbuzier.

Maka tuangkan lagi warna itu. RGB atau CMYK pun tak apa (laser atau inkjet pake infus juga? Ini ngomongin apaan sih?). Aku tak mau hidupku monochrome selamanya sayang. (tuh kan.. gila nih orang!)

Olivia..

 

Bandung, 7 Mei 2014

Advertisements

You Are Right!

Posted on Updated on


Kadang. Kumohon dicatat bila kamu membacanya. Ya, hanya terkadang. Aku merasa merindukanmu. Hmm.. bagaimana mendeskripsikannya, susah diungkapkan. Begini, rindu, seperti ingin melihat. Ingin berbicara. Ya, mungkin sedikit ingin menyentuh, merasakan lagi goresan telapak tangan mu yang kutau tak tertulis namaku di garis tanganmu itu. Walaupun tak bijak rasanya menyamakan garis tangan dengan garis takdir. Tapi keadaan memaksaku menyerah. Menyerah setelah melihatmu menyerah lebih dulu. Melihatmu tertawa bersamanya lalu pergi kesebuah restoran sederhana dan sedikit makan siang disana. Ya, aku serius. Hanya sedikit rindu yang semacam itu. Rindu menemanimu makan siang bersama seperti dulu.

Bukan rindu ingin memeluk atau bermesraan. Tidak. Bukan yang seperti itu. itu masih kulit terluarnya rindu. Rindu yang bisa terpuaskan kontak fisik bukanlah sebenar-benarnya rindu. Seperti yang mbah Sudjiwo Tedjo bilang “Puncak rindu yang paling dahsyat itu ketika dua orang tidak saling menelpon, SMS, BBM dan lain-lain tetapi keduanya diam-diam saling mendoakan”. Ya walaupun akhirnya sekarang kutau kesalahan kita adalah tak pernah saling mengamini.

Tapi kemudian untuk beberapa saat aku tersenyum. Sungguh hanya tersenyum. Mungkin satu sampai lima detik saja. Lalu senyum itu langsung berhenti. Pipi yang mengembang seketika seolah mati. Ketikan jari di keyboard pun tiba-tiba terhenti. Aku tak tau harus bagaimana sesudahnya. Seperti seseorang yang terkena jetlag selepas turun dari pesawat. Bingung.

Mungkin sebaiknya aku benar-benar melupakanmu. Tapi adalah hal yang mustahil melupakan satu saja episode hidup bersamamu. Karena semuanya telah melekat kuat di lobus temporal otakku yang tak sengaja terrubah oleh hippocampus menjadi sebuah memori permanen, begitu kalau aku tidak salah belajar. Dan itu bukan tentangmu saja, tapi tentang semua orang dan semua hal. Aku bukan pelupa.

Lalu mau kuapakan ingatan ini? Apa harus kusimpan, kumasukkan dalam kotak hitam yang kuberi nama Pandora lalu kuikat dengan tali? Talinya putih dan tidak akan terlalu erat karena, ya, mungkin di suatu siang yang panas dan membosankan selepas aku membersihkan debu di kipas angin kamarku aku ingin melongok ke dalamnya. Untuk sekedar mengecek tentu saja. Sungguh.

Atau mungkin ingatan ini sama sekali tak kuperlukan. Hanya membebani saja.  Ah, tapi kenapa aku menikmati sedikit kesedihan yang ditinggalkannya. Aku menyukainya. Sometimes, feel sad is good. Tanpanya aku tak akan merasa sesemangat ini memainkan pulpen di jari dan menuliskan sepatah dua patah kata sampai akhirnya terangkai kalimat yang akan menjembataniku untuk bercerita tentangmu. Ya, siapa lagi.

Melihat foto-fotomu yang telah bisa tersenyum bahagia tanpa aku, tiba-tiba ada semacam zat aneh mengaliri pembuluh darahku. Bukan darah. Tapi sesuatu yang tak bisa kujelaskan. Aku merasa ini tidak benar. Kamu tak seharusnya begitu. Seharusnya hanya aku yang bisa membuatmu tersenyum seperti itu. Seharusnya hanya aku yang bisa membuatmu bersemangat seperti itu. Seharusnya hanya aku yang bisa.

Ah, sudahlah, waktu tak pernah termangu. Apalagi menunggu seorang pengeluh ulung mendapati cerianya. Ia akan mengubah apa saja yang kelihatannya tak mungkin berubah. Sekuat apapun kau mencoba mempertahankannya. Tanpa peringatan, tanpa pemberitahuan. Yang kau bisa hanya bersiap menerima kehilangan. Kapanpun itu.

Mungkin memang sebaiknya begitu. Aku harus mengunci rapat-rapat ingatan itu. Tak lagi berusaha melihatnya, apalagi mengulangnya. Kamu dan aku akan tetap tersenyum pada fajar yang sama, senja yang sama, juga bulan yang sama. Meski tak lagi saling bertatapan dan berpegangan. Kita akan tetap saling merindukan. Walaupun kita tak akan pernah tau apa yang sebenarnya kita rindukan, orangnya? Ataukah kenangannya?

As long as life I never agree with your opinion, too many difference of us. But when you always thought of your name first when I ask you to think about the simple beautiful things in the world, well I think you are right!

09:40 PM

BBM Contact that named ‘Masku’

Posted on Updated on


Kamu tinggi, besar, kekar, walaupun tak terlalu tapi perawakanmu sudah termasuk diatas rata-rata pria biasanya bagiku. Kulitmu tak bisa disebut putih seperti dia. Melainkan sawo matang dengan tato di badan yang membuatmu terlihat seperti ‘pria’, ya, pria yang tatapan matanya mengintimidasi setiap perempuan ketika melihatnya. Kamu tak tampan, tapi manis, sekaligus busuk, karena kamu terlalu tua bagiku. Ahaha, bercanda. Seenggaknya masih kutemukan sedikit, ah banyak, sifat baik darimu.

Kunamai kau dengan masku. Panggilan mas karena kau memang berasal dari jawa dan jelas-jelas lebih tua dariku. Sedang akhiran –ku, kupakai sebagai tanda kepemilikian, atau mungkin harapan memiliki, memiliki semua hal baik di dirimu untukku, hanya untukku, tak lagi kau bagi dengan dia mantan tunanganmu seperti yang kau bilang, dan tunanganmu seperti yang aku yakini.

Beri aku kepastian, seperti aku memastikan mengakhiri hubungan dengan pacarku dulu untuk memilihmu, mendapati semua yang lebih baik di dirimu, memilih untuk selalu terjaga olehmu. Jangan sampai aku menyesal telah meninggalkan orang yang ternyata lebih benar-benar menyayangiku, yang mendatangiku kembali dengan janji lama yang masih dia pegang. Walaupun tak ada seorang pun yang tahu siapa yang lebih sayang siapa, tapi dengan semua hal baik yang dia beri dan hal buruk yang ku beri, membuat sesal di rahimku mulai matang untuknya, jangan sampai aku melahirkannya.

Kalau itu sampai terjadi, mungkin aku akan menganggapmu sebagai orang terjahat yang pernah aku kenal. Dan simpan dulu permintaan maafmu itu. Karena aku mungkin saja sedang belajar memaafkan dari orang yang sampai saat ini pun selalu memaafkanku. Kuyakin mempelajari hal itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Kuharap kamu bisa cukup sabar menantinya seperti aku yang sabar menunggu kata penghilang ragu terucap dari mulutmu.

02:45 PM