dipraktikkan

Sirius, “The Dog Star”

Posted on Updated on


Sebuah kitab kuno dari India memuat kisah tentang kemunculan Sirius, bintang paling terang di langit malam. Tertulis bahwa kelima bersaudara Pandawa Lima melakukan perjalanan dalam usaha mereka menemukan pintu gerbang nirwana. Dalam perjalanan tersebut turut serta seekor anjing yang dengan setia menemani. Sedemikian beratnya perjalanan yang mereka tempuh, membuat keempat kesatria yang berusia lebih muda tidak mampu mencapai pintu gerbang tujuan. Hanya saudara tertua Pandawa Lima, Yudhistira, dengan langkah-langkah kecilnya ditemani juluran lidah sang anjing yang masih mampu melanjutkan perjalanan berat tersebut.

Ketika pada akhirnya sepasang manusia dan hewan ini tiba di gerbang nirwana, Batara Indra berkenan untuk menyambut mereka. Dikisahkan terjadi dialog antara Yudhistira dan Indra menyangkut nasib anjing yang turut serta dalam perjalanannya itu. Mengetahui bahwa anjing terlarang untuk memasuki nirwana, Yudhistira lebih memilih untuk kembali pulang bersama anjingnya tersebut.

Namun, di tengah perjalanan pulang, terdengar oleh Yudhistira sebuah suara yang meminta ia dan anjingnya untuk memasuki nirwana dengan aman sentosa. Disebutkan, bahwa rasa saling mengasihi di antara manusia dan hewan tersebutlah yang telah mampu membuat pintu gerbang nirwana terbuka lebar bagi mereka. Untuk merayakan kedatangan Yudhistira di nirwana, Batara Indra merangkai sejumlah bintang membentuk rasi anjing yang menghiasi langit malam. Di bagian jantung rasi tersebut, hingga kini kita masih melihat The Dog Star, atau yang dikenal dengan nama Sirius (dari bahasa Yunani seirios yang berarti “menghanguskan”).

23
Rasi Canis Major (Anjing Besar), salah satu rasi utama di langit belahan selatan.

Berada di rasi bintang Canis Major (anjing besar), selain dikenal sebagai bintang paling terang di langit malam (magnitudo -1.4), Sirius juga termasuk salah satu bintang terdekat dengan Bumi, yaitu pada jarak kurang dari 9 tahun cahaya (1 tahun cahaya setara dengan 9.5 triliun kilometer). Dengan massa sekira 2.3 kali massa Matahari (massa Matahari: 2 x 10 pangkat 30 kilogram), Sirius adalah bintang deret utama seperti Matahari kita, yaitu bintang yang masih menjadikan hidrogen di pusatnya sebagai bahan bakar utama dalam proses pembangkitan energi. Temperatur Sirius lebih tinggi daripada Matahari, yakni tidak kurang dari 9.600 derajat Celcius. Dengan temperatur sebesar itu, daya yang dipancarkan seluruh permukaan bintang ini mencapai 22 kali lebih besar daripada yang dihasilkan Matahari (daya Matahari: 386 x 10 pangkat 24 Watt!).

Menariknya, dari pengamatan astrometri diketahui bahwa gerak Sirius di dalam ruang tidak mengikuti lintasan berupa garis lurus melainkan berkelok-kelok.

Ketidakteraturan gerak Sirius tersebut telah membuat astronom Jerman, Friedrich Bessel, meyakini bahwa bintang ini memiliki pasangan yang tak terlihat sehingga membentuk sebuah sistem bintang ganda. Meski telah diyakini keberadaannya, bintang pasangan Sirius tersebut baru berhasil diamati 18 tahun kemudian, yaitu pada tahun 1862, oleh Alvan G Clark seorang astronom berkebangsaan Amerika. Belakangan diketahui bahwa Sirius B, sebutan untuk pasangan bintang Sirius tersebut, adalah sebuah bintang Katai Putih (white dwarf), yaitu pusat sebuah bintang yang telah mengembuskan selubung gasnya.

Sedemikian cemerlangnya Sirius di langit malam membuat objek langit yang satu ini dikenal di banyak kultur bangsa sebagai penanda waktu masa panen dan perayaan. Orang-orang mesir kuno sudah mengetahui, manakala Sirius terbit di ufuk timur sebelum terbitnya Matahari (heliacal rising) menjadi pertanda akan datangnya banjir tahunan Sungai Nil yang sekaligus menjadi pertanda awal tahun dalam kalender mereka dan waktu untuk mempersiapkan diri memasuki musim tanam. Bahkan, banyak kuil di Mesir yang dibangun sedemikian rupa sehingga memungkinkan sinar dari Sirius mencapai kamar di bagian dalam kuil. Kehadiran Sirius di langit siang menemani teriknya sinar matahari yang membakar, membuat hari-hari sepanjang musim panas disebut pula sebagai “dog-days”.

24
Formasi Segitiga Musim Dingin yang dibentuk oleh tiga bintang terang dari ketiga buah rasi.

Sejak awal tahun ini, kita dapat menyaksikan kehadiran rasi Canis Major (Anjing Besar) dan Canis Minor (Anjing Kecil) pada awal malam dengan posisi yang sudah cukup tinggi di arah timur. Sirius di Canis Major, Procyon di Canis Minor, dan Betelgeuse di Orion (Sang Pemburu), membentuk formasi segitiga. Oleh penduduk Bumi di belahan utara yang memiliki empat musim, kehadiran formasi tersebut di langit malam mereka, dikenal sebagai Winter Triangle (Segitiga Musim Dingin).

Pada malam yang cerah, bila kita perhatikan posisi Sirius dan Procyon terpisahkan oleh “pita putih” yang tidak lain adalah Bima Sakti. Menurut sebuah legenda Arab, kedua bintang terang tersebut adalah dua orang perempuan kakak beradik. Pada suatu hari mereka bermaksud menyusul saudara laki-laki mereka ke ladang. Malang bagi keduanya, mereka tersesat dan tidak tahu jalan menuju ke ladang maupun kembali pulang. Ketika pada akhirnya mereka menjumpai sebuah sungai yang lebar, Sirius, sang kakak, melompat ke dalam air dan berenang menuju ke seberang sungai. Sementara itu, Procyon yang takut air tetap tinggal di belakang, yang membuatnya terpisah dari saudara perempuannya. Procyon yang merasa sedih tak kuasa menahan tangis pilu. Kedua kakak beradik tersebut hingga kini terlihat di sisi yang berseberangan dari sungai di angkasa, Bima Sakti. Dalam legenda tersebut dikatakan bahwa air mata Procyonlah yang membuat datangnya banjir tahunan Sungai Nil.

Meski budaya langit di nusantara tidak mengagungkan Sirius, bukan berarti leluhur kita tidak memiliki pemahaman penerapan praktis dari kegiatan mengamati langit. Menarik untuk membuka lembaran sejarah masa silam bagaimana manusia memiliki keterikatan dengan langit. Contoh nyata adalah yang dipraktikkan oleh para petani di tanah Jawa hingga beberapa dekade yang lalu.

Dulu, pada senja hari di bulan Februari, untuk menentukan waktu tabur benih seorang petani akan berdiri menghadap sawah ke arah timur dengan genggaman tangan yang penuh butiran gabah. Segera setelah langit mulai gelap untuk dapat mengesani bintang-bintang yang muncul di awal malam, ia akan mengarahkan lengannya ke arah tiga bintang terang (Alnitak, Alnilam dan Mintaka) di Rasi Orion (Waluku/Alat Pembajak).

Kemudian, ia akan membuka genggaman tangannya, bila saat itu butiran-butiran gabah jatuh ke bumi, hal tersebut menjadi pertanda dimulainya waktu menebar benih. Contoh ini menjadi bukti tentang eksistensi hubungan primordial antara manusia dan kosmos yang terus diwariskan sehingga manusia masa kini pun masih berkepentingan untuk tetap dapat menikmati indahnya langit malam.

Judhistira Aria Utama, M.Si.

Advertisements