Latest Event Updates

Mimpi Buruk dan Peraturan BPJS yang Aneh

Posted on


Ayolah…

Melakoni Hidup

pic.from: danbomurah.blogspot.com pic.from: danbomurah.blogspot.com

Malam itu hujan rintik-rintik. Angin berhembus dengan kencang. Cuaca memang sedang tidak bersahabat belakangan ini. Siang panas terik, malam angin kencang membawa hembusan dingin yang menusuk hingga tulang. Ini bukan penggalan lagu atau cerita, tapi pengalaman buruk saya di suatu malam.

Saya dengan pak suami membawa Mayra, si tengah saya, yang sedang demam. Sudah 3 hari dia demam, dan dari hasil cek darah di klinik dekat rumah 3 hari sebelumnya, dia positif tipes (saya nggak tahu cara nulis penyakit tipes ini, jadi saya tulis sesuai bacanya aja deh). Karena panasnya sudah 3 hari, saya paksa dia bawa ke rumah sakit.

Di satu rumah sakit di daerah Ciputat dengan inisial S.A., saya ke UGD. Penanganannya cukup cepat, dan dokter juga segera memeriksa May. Dari hasil lab 3 hari yang lalu, dokter langsung menyuruhnya dirawat. Saat itu dia khawatir karena trombositnya May 167rb. Saya pun ke bagian pendaftaran untuk mencari…

View original post 927 more words

Quarterlife Crisis: Equlibration Phase

Posted on


Sekitar seminggu yang lalu, salah satu kolega saya (ceileh kolega -_-) yang kerja di Jakarta pulang ke Bandung. Kami ketemuan sambil ngobrol-ngobrol. Seperti biasa, obrolan kami tersebut berkembang ke mana-mana, layaknya obrolan ringan warung kopi.

Di salah satu episode obrolan kami hari itu, dia  ngebahas tentang Quarter life crisis. Dari apa yang saya lihat, Dia seperti sedang berada di masa itu dan tampak lumayan galau. Dia mulai mempertanyakan tepat atau enggaknya pilihan dia, gelisah sama achievement, dan banyak dinilai sekaligus dituntut sama orang-orang di sekitar. Saya dengerin aja ceritanya dan bukannya apa-apa, Ngedenger cerita dia bikin saya ngerasa mundur beberapa taun. Been there.

 

Saya jadi inget. Taun 2009-2010 adalah taun-taun yang nggak gampang buat saya. saya mulai mempertanyakan pilihan saya sendiri. Realistis dan nggak realistis jadi isu baru di kehidupan pribadi. Achievement jadi sesuatu yang rasanya harus cepet-cepet diraih biar ngerasa aman. saya sering khawatir, takut salah ngelangkah, dan jadi sensitif kalo orang ngomong soal pencapaian. Sebenernya jauh di dalem hati, saya tau kok apa yang saya mau. Tapi keinginan itu sempet ketimbun di bawah standard yang berlaku umum, dan komentar-komentar orang tentang ini-itu. saya inget, di masa itu saya banyak denial, ngerasa bersalah entah sama siapa, dan kering keyakinan diri.

Tapi pada suatu ketika, karena perasaannya udah terlalu nggak enak dan nggak tau musti gimana lagi, saya nutup telinga rapet-rapet dari omongan di luar, supaya bisa ngedenger ke dalem diri sendiri secara lebih jelas. Hanya perlu inget aja satu hal:

 

Risiko bertumbuh adalah jembatan tak terlalu panjang menuju dataran baru. Ia bergoyang-goyang memintas jurang. And you affraid.


… but all you have to do just walk through the path

karena risiko tidak bertumbuh adalah ditinggal lari. Bahkan oleh dirimu sendiri.

 

Akhirnya kita pasti akan dihadapkan pada suatu keharusan: ngelakuin apa yang kamu mau dengan cara yang kamu yakinin aja. Kamu musti kenalin passion kamu sebaik-baiknya dan kamu ikutin drive-nya. Ketika kamu nutup telinga serapet-rapetnya dari kata-kata orang, achievement nggak lagi jadi hantu. Passion itu tulus. Dia  bensin yang nggak akan pernah ada abisnya. Apa yang kita kerjain dengan passionate nggak butuh alesan apa-apa di luar itu. Kita bisa produktif tanpa itungan, beraktifitas tanpa batesan, dan selalu mempersembahkan yang terbaik tanpa bersyarat. Kebahagiaan kita ketika ngejalaninnya juga ngebawa pengaruh baik buat orang lain maupun diri kita sendiri. Achievement dan penghasilan mengikuti. Tapi cuma sebagai bonus, bukan lagi tujuan.

 

Kalo kamu bisa lakuin itu semua, Kamu bakal bisa ngukur perasaan kamu sendiri. nggak lagi nutup telinga secara ekstrim, dan nggak bakal gampang digoyahin. Quarter life crisis kamu udah lewat. Apapun kemungiknan yang bakal terjadi di depan nanti, kamu bakal ngerasa jejek dan taken for granted sama apa yang kamu tapakin saat ini.

 

Ada satu point penting yang bakal kamu dapet kalo berhasil melewati quarter life crisis.

 

“Passion is something you’re in love with, not something you’re just adjust with”

 

Nggak percaya?

 

ya emang, Jangan, entar MUSYRIK!

Surat dari Maladewa

Posted on


Sayang..

Aku tau kau sangat mengkhawatirkanku. Begitu juga aku, mencemaskanmu karena kutahu kamu selalu bertindak bodoh kalo lagi khawatir padaku. Apa saja yang kupikirkan. Apa saja yang kucerna di kepala dan tak kuceritakan padamu. Apa saja yang kukerjakan dan tak menghasilkan apa-apa. Apa saja yang kumaka, kubuang dan kumuntahkan. Aku gak beli lagi nasi goring yang dijual deket rumahmu itu ko. Serius. Aku sangat sangat tahu kau begitu peduli padaku. Makanya kamu usir pedagang nasi goreng itu jauh-jauh demi aku, kan? (apa sih? Gak jelas..)

Karena begitulah caramu mencintaiku sayang.

Tapi kumohon sayang,

Percayalah padaku. Setelah kau mempercayai Tuhanmu tentunya. Dia pasti bilang “Kau tak perlu mengkhawatirkannya karena dia tak akan membuatmu khawatir. Berikan saja doa terbaikmu untuknya, tapi jangan kau basahi doamu dengan air mata. Layaknya gabah, doa basah tak lebih berharga ketimbang doa kering.”

Ya, Tuhanmu benar. Aku akan tetap begitu sayang. Tetap mencintaimu dengan sederhana seperti dalam suratku dulu, seperti suratku ini, dan surat nikah kita nanti. (Eh….)

Aku tetap memandangimu dengan mata tertutup dari kejauhan sayang. Dari tempat aku mulai menutup dan membuka mata saat pagi tiba. Tetap merasakan detak jantungmu yang dulu dipeluk jantungku saat terakhir kita bertemu. Deru nafasmu. Derai tawamu. Sejuknya kulitmu. Hangatnya sentuhanmu. Juga liar bibirmu yang paling membenci kening berdebu. Semua akan tetap begitu sayang.

Kau hanya butuh percaya padaku.

Maka semuanya akan baik-baik saja.

Kumohon jangan marah-marah padaku lagi sayang. Karena aku akan tiba-tiba menjadi kosong dan sulit berfikir. Kau tak ingin aku gila kembali kan? Aku tak mau hidup dalam hitam putih lagi. Membuatku tak berselera. Lagipula aku bukan Deddy Corbuzier.

Maka tuangkan lagi warna itu. RGB atau CMYK pun tak apa (laser atau inkjet pake infus juga? Ini ngomongin apaan sih?). Aku tak mau hidupku monochrome selamanya sayang. (tuh kan.. gila nih orang!)

Olivia..

 

Bandung, 7 Mei 2014

Rumput Lembab, Prewedd Sembab, Lengkeng?

Posted on


kamu tau gak kenapa aku suka pemandangan alam? suka melihat dan motoin segala sesuatu yang menurutku mengandung bahasa dan emosi tersendiri? ya walaupun pada kenyataannya sebagian besar objek yang aku foto adalah benda mati.. hehe. ya. aku pikir mungkin tak akan ada hari esok jika tak ada hari ini, tak akan ada hari ini bila tak ada sejarah dan  masa lalu, tak akan ada sejarah bila tak ada yang merekam momen di suatu waktu tersebut. salah satunya dengan foto. walaupun itu masih sebagian kecil saja, karena suara, rasa, aroma, sensasi dan emosi semuanya dapat terrekam langsung di kepala, dan foto sebagai pengingatnya.
oh iya, aku pernah bilang ke kamu, soal janji buat prewedding bersama. hehe, mau dibayangin seperti apapun tetep indah rasanya bila itu terlaksana. mengambil stage di sebuah padang rumput hijau, pagi hari, morning breeze, aroma rumput basah berembun dan tanah lembab, juga suara sesenggukan mu yang bermata sembab, terus aku bilang, kenapa nangis? bahagia ya? gak nyangka ya? pria yang dulu ingusan goblok sekarang berubah tampan dermawan. gagah juga. iya kan? gak? masa sih? (takut liat muka gue gitu ya?)
hhhhh… emang ya, ucapan walaupun bercanda tetaplah doa. akhirnya kita bisa juga prewedding bersama. ya walaupun perut kamu nya dipeluk tangan pria lain dari belakang, dan aku cuman bilang, satu… dua… tii..g *jepret!!* abis itu aku nangis dan berhenti jadi fotografer prewedd. Kebetulan lengkeng depan rumah lagi berbuah. Widiii… Paneeeeen…
Lengkeng.. Lengkeeeng…!

09:53 pm

Unspoken ‘Goodbye’

Posted on


Akhirnya waktuku habis juga. Habis kugunakan untuk mencari tahu siapa yang menanti dan siapa yang ternanti. Penantian yang sekarang telah menemukan pantainya. Muara dari segala hari yang telah sirna. Hari yang sudah kukira-kira sejak lama, kubayangkan dan khayalkan seperti apa jadinya jika ia datang dan menampakkan rupa. Tepat didepanku mencoba menggoda menawarkan kecewa serta bahagia. Apakah bahagiaku akan membuncah? Hingga kupamerkan senyum ke segala arah? Atau malah terselip sebongkah kesedihan yang mampu membuat air mata rahasiaku jatuh? Menyesali tiap tetesnya yang buatku lelah dan luluh?

Dan hari ini, ia memenuhi janji untuk datang padaku. Tepat setelah tahun baru dan sebelum sebuah band unjuk Gigi di 11 januari. Aku bingung memilih wajah berbentuk apa untuk menyambut. Aku memang paling tak bisa jika harus ramah tamah dan berlemah lembut. Di satu sisi, menunggunya adalah saat paling menyebalkan. Terlebih bila aku sendiri tak tahu sampai kapan harus menunggu. Tapi dengan menunggunya, aku bisa menunjukkan kesabaran yang tak pernah kumiliki. Juga keteguhan yang tak pernah kusadari. Sebaliknya, saat ia datang adalah tentang meninggalkan dan merindukan. Perpisahan setelah pertemuan. Ia akan menjadi kenangan. Serta air mata. Karena kurasa, kenangan lebih sering menyakitkan.

Ah, aku akan merindukan kalian, sahabat-sahabat terbaik, musuh-musuh termanis. Kumohon jangan bersedih karena merah matamu akan membuatku berfikir mengulangi langkah. Menengok ke belakang hanya untuk memastikan apa aku telah salah melangkah. Sebelum aku beranjak, kita akan saling memeluk dan berbagi keluhan yang terlalu vulgar untuk disampaikan pada si penyebab. Mungkin keadaan, mungkin waktu, atau mungkin Aku. Tetapi keluhan datangnya dari dalam diri, bukan hal di luarnya, kan? Ya, ini memang pilihanku, bukan keadaan yang mengharuskan ataupun waktu yang memaksa. Kawan, semoga kita terus mengenang tawa renyah saat jam istirahat dan makan siang datang. Menyuap nasi berlauk tahu, tempe juga tawa. Tawa yang semakin membahana saat hari Jumat tiba namun meredup di Senin pagi. Pemimpin hari yang paling bisa merubah semangat menjadi emosi. Rasa kantuk dan mood buruk menguasai. Moccacino panas tak mempan mengobati. Wajah ditekuk, tuts keyboard ditekan berlebihan, telinga disumpal earphone dengan musik volume maksimal. Mengoceh sendirian ketika perjalanan pulang. Kita tak mau berdamai tapi terlalu takut menghancurkan barang-barang, dan membayangkan Surat Peringatan. Maka kita memilih mengisolasi diri. Dan mengumpat dalam hati.

Aku juga akan rindu kamu, dinding beku. Teman terbaik dari yang baik. Tempat bersandar terluas dari yang luas. Aku tak begitu paham bahasamu. Tapi aku bisa mengerti dari diammu. Aku merasa kamu tak mau aku pergi namun senang akhirnya aku berani mengambil keputusan. Dan kuyakin kamu cukup kuat untuk menerima keputusanku itu. Tubuhmu adalah beberapa lapis kayu pilihan mahal yang tak bisa berbuat apa-apa ketika seseorang mengepal tinju atau membisikkan kata-kata kotor. Dan tak pernah kau balas. Kamu juga tak bergeming ketika seseorang menangis tertahan  di hadapanmu. Kamu hanya ingin berbagi bahu dan menyarankannya menangis sekuatnya.

Aku akan merindukanmu, dinding berdebu. Di saat mereka membuatku merasa tak berguna, kamu selalu ada memasang telinga dengan hati-hati. Memasang mata meski buta, memasang mulut meski bisu. Tanpa pernah balas mengoceh menyalahkanku. Entah mengapa mereka kerap memfitnahmu. Katanya dinding punya telinga, jangan bicara aneh-aneh di sini, pasti akan tersebar ke seluruh penjuru. Kamu memang punya ribuan telinga kecil yang awas namun mereka lupa satu hal, tak satupun mulut tajam berbisa yang kamu miliki.

Cerialah, aku sesekali mungkin akan mengunjungimu. Memastikan apakah mereka memolesimu cat dinding terbaru dengan rapi. Dan memastikan apakah mereka memperlakukanmu dengan baik. Sehingga kamu tidak mengambil keputusan yang sama sepertiku. Tak mengikuti jejakku. Nanti akan kubawakan stiker bunga matahari kesukaanmu. Walaupun aku lebih suka stiker panda dengan beberapa giginya yang tajam semacam drakula. Ya, lesung pipimu terlihat jelas saat kutempeli stiker itu sekali waktu, sayang kau tak suka.

Bergembiralah, tidak semua orang akan menyumpah serapah di depanmu atau menempeli permen karet bekas di badanmu. Mungkin suatu saat nanti mereka berani meludah di depan orang yang memang ingin mereka ludahi, bukan ke wajahmu lagi. Memukul orang yang memang ingin mereka pukul, bukan memukulimu lagi. Mungkin suatu saat nanti kita akan berhenti berpura-pura. Mereka juga. Semoga.

Kawan, akhirnya kuucapkan ‘sampai jumpa lagi’ karena firasatku mengatakan suatu hari nanti kita akan berjodoh lagi. Bertemu di suatu masa datang yang belum ditentukan sekedar untuk berbagi kenangan yang sama dan cerita setelahnya. Kamu tahu kan  betapa firasatku terlalu sering benar?

 

Bekasi
02.45 pm