Opinion

Memilih Pemimpin Alternatif

Posted on


Kasak-kusuk kepemimpinan nasional sudah mulai panas dibicarakan kendati perhelatan politik 2014 masih cukup jauh. Partai politik sibuk melakukan pendekatan dan mencari dukungan, juga mulai melakukan penghitungan bagaimana menata kepemimpinan nasional mendatang.

Namun, sebetulnya, pemimpin seperti apa yang diidamkan oleh rakyat indonesia saat ini? Dalam beberapa survei terakhir oleh lembaga-lembaga survei nasional dapat ditunjukkan bahwa rakyat memiliki kecenderungan memilih pemimpin alternatif. Mereka juga menunjukkan kecenderungan untuk memilih pemimpin, bukan karena faktor mereka berasal dari partai apa. Namun, lebih karena figur seseorang dan bukti kedekatan dengan rakyatlah yang menjadi faktor penentu mereka menentukan pemimpin pilihan.

Dalam konteks capres, pada survei Nasional CSIS April 2013, misalnya, dinyatakan bahwa partai yang memperlihatkan tingkat dukungan yang cukup solid dan mengindikasikan bahwa partai ini memiliki jaringan mesin partai yang solid di berbagai daerah, tetapi tingkat dukungan kepada capres partai tersebut justru tidak sama kuatnya.

Dalam beberapa survei terakhir dapat diketahui bahwa partai politik yang kadernya banyak terjerat korupsi juga mengalami penurunan dukungan. Hal ini menjadi pertanda bahwa rakyat semakin kritis dalam menentukan pilihan. Bahkan, walaupun partai tersebut sudah membangun citra diri yang baik sekalipun, publik tidak bisa menerima kebohongan dalam sebuah citra.

Pemimpin Alternatif

Masa reformasi indonesia belum menghasilkan pemimpin autentik dan berkeutamaan yang mampu membawa menuju gerbang perubahan sesungguhnya. Seorang pemimpin yang sanggup berempati secara mendalam dengan kemauan rakyatnya. Indonesia membutuhkan pemimpin yang sungguh-sungguh berperan sebagai leader, bukan dealer. Pemimpin yang memiliki karakter tranformasional daripada melulu transaksional.

Masih terlalu sedikit contoh untuk pola kepemimpinan impian yang dibutuhkan negeri ini. Justru yang banyak adalah mereka yang memimpin dengan kecenderungan dealer layaknya seorang pebisnis. Barter kepentingan dalam dunia politik dan ekonomi justru seringkali melahirkan kebijakan-kebijakan yang menyakitkan. Sebab, tak jarang di dalamnya mengendap kepentingan  yang bersifat pribadi dan golongan daripada kepentingan kemakmuran rakyat semesta.

Karakter kepemimpinan justru banyak diwarnai politik barter. Seperti halnya yang terjadi di masa orde baru, pemimpin menilai kelanggengan kekuasaannya sebagai hal yang utama daripada visi memajukan indonesia sebagai bangsa.

Karena demikian, pola bekerja para pemimpin kita lebih cenderung pada upaya pengamanan kursi kekuasaan daripada menggunakan kekuasaan sebagai alat untuk memajukan negeri. Para pemimpin tidak menegakkan harga diri bangsa dalam tindakan-tindakan kepemimpinannya. Justru kita semakin kehilangan kepercayaan diri sebagai bangsa.

Menjadi pemimpin adalah  panggilan. Berpolitik juga merupakan panggilan untuk menyejahterakan masyarakat. Namun, partai politik kita justru gagal menciptakan situasi kondusif untuk kesejahteraan rakyat. Partai politik gagal menata keadaban politiknya dan memberikan pelayanan terbaik untuk rakyat.

Kini saatnya partai melakukan perubahan mendasar dalam dirinya agar ia kembali diterima. Partai politik diharapkan lebih aktif untuk mencari figur pemimpin yang memiliki keutamaan. Pemimpin yang memiliki keutamaan akan melayani rakyatnya karena itu merupakan panggilan nurani. Kita membutuhkan pemimpin yang tulus mengabdi untuk kesejahteraan bangsa ini. Pemimpin yang betul-betul memperhatikan nasib masa depan bangsa, bukan nasib dirinya sendiri.

Rawan angka golput

Partai-partai besar ada yang mengalami kenaikan, ada pula yang mengalami penurunan cukup drastis. Di sisi lain, ada kenaikan dukungan yang diperoleh oleh partai-partai menengah. Intinya bila partai-partai saat ini tidak bekerja lebih keras, perubahan politik yang cukup fenomenal akan terjadi pada Pemilu 2014. Itu terjadi karena hingga saat ini angka undecided voters masih sangat tinggi.

Angka undecided voters dan golput masih relatif tinggi. Survei Nasional CSIS April 2013 menemukan bahwa kemungkinan salah satu penyebab utamanya adalah hubungan yang lemah antara konstituen dan partai politik/politisi. Inilah yang menimbulkan kualitas hubungan yang buruk antara pemilih dan partai. Survei ini juga semakin menguatkan pandangan tentang tidak terlembaganya partai politik kita yang mengakibatkan proses rekrutmen dan kaderisasi yang merupakan pintu gerbang hubungan partai-konstituen juga lemah.

Temuan tersebut juga menguatkan hasil riset nasional lain yang pernah dilakukan Saiful Mujani Research Center (SMRC) tentang pemilih mengambang (swing voter). Peta kekuatan partai pada 2014 akan berubah terutama karena jumlah swing voter berdasarkan hasil survei ini masih cukup besar, yakni 50 persen.

Swing voter sendiri merupakan perilaku pemilih yang berubah atau berpindah pilihan partai atau calon dari satu pemilu ke pemilu berikutnya. Dijelaskan bahwa dalam sejarah perilaku memilih indonesia sejak pemilu demokratis kembali hidup pada 1999, jumlah swing voter sangat besar. Dari kondisi tersebut, bisa dibaca bahwa 3 kali pemilu menghasilkan 3 partai berbeda sebagai pemenang suara terbanyak. Fenomena ini juga pertanda besarnya swing voter dari satu pemilu ke pemilu berikutnya.

Mengapa swing voter begitu besar dari satu pemilu ke pemilu berikutnya? Salah satu alasannya karena ikatan psikologis pemilih dengan partai (identitas partai) sangat rendah. Tidak ada loyalitas pada partai. Begitu pula dengan kondisi ekonomi yang dirasakan semakin buruk dan pemerintah yang berkuasa berasal dari partai utama. Lalu maraknya skandal politik yang menimpa partai utama dan mendapat perhatian publik secara luas.

Citra partai terpuruk karena kegagalan partai mengoptimalkan fungsi-fungsinya secara konsisten dan konsekuen. Dominasi elite-elitenya yang cenderung manipulatif atas pendukungnya merupakan penyebab utama mengapa partai sulit mengapa partai sulit mengubah kenyataan ini. Dampaknya adalah konflik internal partai yang menjadi bahaya laten setiap saat ketika terjadi proses perebutan kekuasaan.

Temuan awal dalam berbagai survei tersebut sebaiknya membuat partai lebih mawas diri dalam melangkah, baik dalam hal kepemimpinan maupun tingkah laku politik keseharian. Rakyat berdaulat akan menentukan siapa yang menjadi pemimpin negeri ini bukan semata karena anjuran dan pilihan partai.

Setiap pemimpin yang ideal selalu dicita-citakan sebagai pemimpin bangsa masa depan. Politik harus tunduk pada moralitas. Bukan tunduk pada politik barter yang hanya akan menghasilkan pemimpin penakut yang tidak mampu menegakkan harga diri dan martabat bangsa ini.

 

Benny Susetyo

Pemerhati Sosial Politik

Dalam Pasrah

Posted on Updated on


Tangis dan air mata sudah lama tak lagi menjadi sahabat Nyonya Farantina (46 tahun). Ia sudah menyadari bahwa ratapan dan rintihan hanyalah menghasilkan sebuah keterpurukan. Walau mencoba menguak kenyataan, akhirnya segalanya kembali seperti sebelumnya. Dunia suaminya bukan lagi yang dulu. Ia sudah beranjak jauh dari titik keberangkatan mereka, sedetik setelah menikah. Apa yang sudah diukir dalam kata-kata, hanya sesaat menjadi bukti.

Ia mencurahkan isi hati ini kepada pengasuh. Berikut adalah percakapannya:

Dulu saya berpikir bahwa pernikahan adalah episode akhir dalam kehidupan cinta. Artinya tak akan ada lagi romansa baru, apalagi pernikahan kedua dalam sebuah mahligai rumah tangga. Ternyata tak demikian bagi kehidupan saya. Kebahagiaan pernikahan rasanya hanya sesaat saja. Selanjutnya hanyalah derita batin berkepanjangan. Saya hampir tak mengenali lagi lelaki yang dulu sangat saya kagumi. Ia sudah berganti kebiasaan.

Kami menikah atas dasar cinta. Saya mengagumi sikapnya yang ajek. Dalam segala hal ia selalu tampak serius. Tak ada kata setengah-setengah bila ia mengerjakan sesuatu. Yang ada dalam benaknya hanyalah satu, keberhasilan. Ia pun pantang berhenti bila apa yang menjadi obsesinya terwujud. Saya bangga menjadi istrinya. Selain ia tangguh dalam mengejar cita-cita, kasih sayangnya pada keluarga nyaris tanpa cela. Semakin tenanglah saya.

Suatu perjamuan makan diadakan pimpinan tertinggi di perusahaan swasta tempat suami saya bekerja. Seseorang yang ternyata teman SMA suami mengajak suami pindah pekerjaan. Saya bangga ketika beliau memilih suami sebagai tangan kanannya. Sejak suami pindah ke kantornya, ia sering dibawa-bawa lelaki yang selalu perlente itu. Kehidupan kami meningkat dari segi ekonomi. Kebutuhan sekunder mulai terpenuhi. Walau tebusannya, saya sering kehilangan dia. Sering kali ia harus berdinas luar, bahkan hingga sebulan lamanya. Saya mulai gelisah.

Kekhawatiran saya beralasan. Suami yang dulu sangat maskulin, kini jadi dandy, pesolek. Ia bahkan mulai mengenal wewangian mahal. Ketika saya tanyakan, jawabnya tuntutan profesi. Rupanya tak hanya penampilan yang menjadi tuntutan profesinya itu, kencan pun mulai dikenalnya. Pernah suatu malam, ada dinner party. Saya baru melahirkan si bungsu. Ia tak bisa membatalkan acara itu karena semua rekannya menunggu, katanya. Yang membuat saya tak enak, ia tetap membawa pendamping, walau istrinya baru saja berjuang melawan kesakitan. Katanya wanita itu rekan sekantornya. Saya tak menanggapi apa pun yang dikatakannya.

Karena seringnya ia tidak pulang, saya sudah terbiasa. Sampai pada puncaknya, melalui rekan-rekan yang “kasihan” pada saya, terbukalah tirai realitas. Ternyata, ia sudah punya yang “baru”. Mulanya saya marah, berang, dan sakit hati. Bahkan, tersirat ingin bercerai. Tetapi setelah saya pikir, apa yang mau saya berikan kepada anak-anak. Saya tidak bekerja, tak punya keahlian apa-apa. Saya pasrah saja. Saya biarkan telinga ini dijejali berita tentang kencan-kencan suami dengan wanita-wanita cantik.

Saya diajak istri rekan sejawat suami agar aktif di organisasi wanita kantor mereka. Ternyata saya tak sendiri. Saya mulai melihat ada kemampuan untuk maju. Sederhana saja. Bermula dari kedatangan ibu-ibu ke rumah. Mereka memuji masakan saya. Tiba-tiba ada yang memesan masakan saya untuk ulang tahun putrinya. Ternyata itu menjadi kunci keberhasilan. Pesanan datang bertubi-tubi. Tak sampai tiga tahun, saya berhasil membuat katering. Semua karyawannya adalah ibu-ibu yang senasib. Mulanya hanya mengisi waktu, lama-lama menjadi bisnis besar. Usaha saya lebarkan lagi, walau masih dengan yang sejenis.

Suami masih bertualang, tetapi saya sudah tidak sakit hati lagi. Saya pasrah pada keadaan, tetapi bukan dengan merenung dalam lautan air mata. Apa saja pekerjaan positif saya ikuti. Mulai dari pertemuan kerohanian, sampai kegiatan olah raga, tak saya lewatkan. Suatu waktu, ia datang dengan wajah keruh. Seperti biasa, saya layani dia makan dan minum. Tiba-tiba ia bertanya tentang cinta dan kesetiaan.

Ada apa? Ternyata ia minta agar saya tak minta cerai darinya. Takut juga ternyata ia berpisah dari saya. Lalu, mengapa harus ada wanita lain? Ia tidak bisa menjawab. Mengikuti tren? Atau tuntutan profesi? Akhirnya saya sarankan agar dia berhenti dari pekerjaannya. Kembalilah pada pekerjaan lama, biar penghasilan tak melimpah, tetapi hati bahagia. Lama ia tenggelam dalam dunianya. Tampaknya ia merenungkan saran saya, tetapi belum tahu bagaimana caranya melepaskan diri dari dunianya yang sekarang. Saya pasrah saja, semoga Tuhan memberi jalan keluar kepada kami.

Asuhan Aam Amilia

Ciri Khas Orang Sunda

Posted on Updated on


ciri khas orang sunda

Polemik dua anak sunda yang rupanya “terdengar” hingga ke telinga orang Eropa, hingga membuatnya “tertarik, tetapi agak cemas juga”. Ada dua bekal utama Watson. Pertama, kekhawatirannya atas kemungkinan bangkitnya Ki Sunda. Kedua, formula bagaimana orang Sunda seharusnya berbuat di masa depan.

Bekal pertama, dapat dipahami jika melihat sosok Watson yang menganut paradigma skeptisisme. Dalam pandangannya, budaya suatu bangsa (ciri khas suatu etnis) harus dianggap tidak ada, terhadap pengakuan jati diri suatu etnis perlu disikapi skeptis dan dipersoalkan, munculnya kata-kata seperti “mampu bersaing”, “berani”, dan “fighting” wajib dicurigai bahwa hal itu mengandung bibit pikiran yang sangat berbahaya kalau dibiarkan tumbuh, terlebih lagi imbauan politikus supaya memperhatikan nasib orang Sunda harus diwaspadai dan ditolak. Bekal kedua, Watson mengajari orang Sunda dalam menghadapi masa depannya. Menurut dia, “Mestinya begini”: (1) budaya (dalam makna seni/sastra/musik) harus mati-matian dilestarikan dan dicarikan penggagas dan pemimpin yang tepat untuk itu, dan (2) memperhatikan orang miskin dan tertindas.

Sebagai orang yang belajar politik, untuk bekal Watson pertama, saya memandang ia sedang menjalankan usaha “antropolog” yang secara mendasar berhubungan dengan proses pembenaran hubungan kekuasaan yang tidak simetris, berhubungan dengan proses pembenaran dominasi (Thompson, 2007: 17). Dorongan ini akan mengikat seluruh analisisnya pada pertanyaan kritis dekonstruktif, apa pun itu, bagaimanapun caranya, bahkan terlepas dari substansi sekalipun, yang penting satu target teramankan: yaitu mempertahankan hubungan asimetris alias dominasi. Ini cara berpikir yang amat mengimani “metodologi”, jika Foucault menggunakan istilah kuasa wacana (concept of discourse), Thompson memakai critical conception of ideology, sementara Watson berlindung di balik “celah antropologi”. Sejauh menyangkut apa yang ingin diajarkan Watson kepada orang Sunda ke depan, saya hanya mengatakan bahwa ajarannya itu Snouck Hurgronje banget!

Secara sederhana diungkapkan, itu ceramah tentang Sunda yang seharusnya dulang tinande alias nrimo dengan nasib yang ada, jangan melawan atau menyusun keberanian, jati diri yang hilang pun tidak perlu disusun kembali karena memang tidak ada (hanya mitos), dan sebagainya yang senada. Terhadap ceramah ini, saya menolak. Sisanya, anjuran tentang masa depan orang Sunda yang tidak perlu membangkitkan sisi “perjuangan” budaya (lebih tepatnya yang saya maksud adalah biopolitics) mencukupkan pada sisi “seni” budaya saja dan sebagai gantinya harus fokus memperhatikan orang miskin. Terhadap anjuran ini, saya juga menolaknya. Pengentasan kemiskinan itu adalah tugas konstitusional negara. Kita membantu atau menguatkan.

Saya ingin menyatakan kembali beberapa kutipan penting sebelumnya, bahwa “dalam setiap aktivitas manusia selalu ada porsi konstan yang bisa diisolasikan ke dalam ciri-ciri pribadi” dan bahwa “sifat khas tidaklah aktif setiap saat, tapi tetap tertahan walaupun dalam keadaan laten dan mudah aktif kembali cukup dengan rangsangan  yang lemah”. Dan saya adalah satu di antara barudak Sunda yang sedang berusaha untuk mengaktifkan kembali sifat-sifat khas Sunda seperti Ki Sunda, tha fighting Sundanesse, lalaki langit lalanang jagat tanpa ada kekhawatiran sedikit pun berubah jadi fasis seperti Hitler. Sepengetahuan saya, di tatar Sunda tidak ada sejarah fasisme dan Hitler bukanlah bangsa Sunda. “Sabab Pajajaran mah hanteu ngajar mudu jahat, hanteu widi keuna jail”. (Pantun Bogor).

Soal kebangkitan Ki Sunda, secara tegas ia mendukung, “Kebangkitan Sunda bukan primordialisme, melainkan kesadaran kolektif akan harga diri.”

Persis di situ inti masalahnya. Self-awareness orang Sunda! Sebab, di dalam literatur disebutkan self-awareness adalah satu di antara “components of authentic leadership development” (Avolio & Gardner, 2005: 324-325). Orang Sunda sulit menyusun konsep kepemimpinan tanpa adanya kesadaran kolektif akan harga dirinya.

Perasaan minder akibat terlalu lama dijajah yang diprasangka berdampak pada minimnya peran kepemimpinan politik Sunda terutama di level nasional, lalu ditunjang oleh langkanya literatur tertulis tentang konsep-konsep kesundaan khususnya tentang politik dan kepemimpinan, adalah di antara “PR” yang menurut saya mendesak disikapi oleh para putuin seke seler Sunda. Saya berada di dalamnya dan sangat mencita-citakan agar kebangkitan pemikiran Ki Sunda memiliki landasan kognitif yang kokoh dan relevan dengan tuntutan zaman.

Melalui beberapa artikel, saya berusaha saling menyemangati untuk mengubah tradisi lisan ke tradisi tulisan; dari premis yang berserakan menjadi ilmu pengetahuan. Paralel dengan itu, jika tidak ada aral melintang, saya sedang melakukan penelitian akademis tentang kepemimpinan otentik politik Sunda yang digali dari khazanah lokal yang sangat khas Sunda yaitu Uga Wangsit Siliwangi.

 

Husin M Al Banjari (Tengah menempuh studi pada program S-3 ilmu politik FISIP Unpad)

Fenomenologi Poligami

Posted on Updated on


 

fenomenologi poligami

Aceng Fikri yang Bupati Garut akhirnya dilengserkan dari jabatannya gara-gara menikah siri empat hari dengan Fany Octora yang berusia 18 tahun, di luar istri pertamanya. Terbukti poligami tidak selalu bermanfaat, meskipun hingga batas tertentu dibolehkan.

Pada sebagian masyarakat Muslim, termasuk di Indonesia, para lelaki berpoligami bukan karena pertama-tama ingin mengikuti sunah Nabi, tetapi karena mereka adalah penganut patriarki sejati. Karakter suatu kaum lazim tercermin dalam berbagai wacana, termasuk humor. Bahwa pria cenderung poligamis, tersirat dalam dialog berikut ini.

“Jika suami beristri banyak itu apa namanya?”

“Poligami.”

“Kalau suami beristri satu?”

“Monogami.”

“Bukan. Monoton.”

Atau seperti dalam gurauan seorang pria berusia 60 tahunan seperti berikut: “Kawan saya bilang bahwa istrinya cuma satu dan berumur 60 tahun. Saya bilang, daripada satu istri berumur 60 tahun, lebih baik dua istri berumur 30 tahun.”

Para pria penganut patriarki sering menjadikan ayat tentang pembolehan poligami dalam Alquran (An Nisa:3) sebagai pembenaran, meskipun keluar dari konteks historisnya. Sesungguhnya, poligami yang dilakukan Nabi pada zamannya adalah untuk “mengangkat derajat wanita”, karena saat itu lelaki lazim beristri banyak, bukan hanya di tanah Arab, tetapi juga di berbagai wilayah di luar arab. Bahkan sebelum era Islam, poligami lazim di kalangan bangsa-bangsa Ibrani, Yunani, Mesir kuno, Persia, Romawi, Nasrani, India kuno, Babilonia, dsb. Kitab Taurat membolehkan poligami tanpa menyebutkan batasannya.

Konon jumlah istri Nabi Sulaiman pun lebih dari 100 orang. Ketika Muhammad diutus  menjadi Rasul, banyak pria Arab (jahiliyah) yang mempunyai 10 istri, seperti Ghailan bin Salamah dan Mas’ud bin Amir di kalangan bani Tsaqif (Muhammad As Syarif, 2012). Namun, saat itu umat Nabi tidak diperintahkan untuk mengambil satu istri dan menceraikan sisanya, melainkan boleh memiliki maksimal empat istri, asalkan sang suami bisa berlaku adil (jika tidak bisa adil, satu istri saja). Jadi ada faktor kultural atau situasional saat itu yang melatarbelakangi turunnya ayat tersebut. Salah satu tujuannya boleh jadi agar umatnya tidak merasa terlalu terbebani dan tidak menderita gegar budaya.

Konteks lainnya, pada era Nabi, jumlah perempuan jauh lebih banyak daripada jumlah pria, karena suami-suami mereka meninggal di medan perang. Tujuan poligami saat itu bukan hanya untuk melindungi kaum wanita tetapi juga untuk menyantuni anak-anak mereka yang yatim. Tidak ada perintah Nabi untuk menikahi perawan atau janda muda yang bahenol di luar istri pertamanya itu.

Kini tidaklah lazim bagi seorang pria, pemimpin negara sekalipun, untuk menikah dengan puluhan perempuan. Namun poligami masih dibolehkan, terutama dalam keadaan darurat, seperti istri yang sakit permanen, karena itu tidak dapat melayani suaminya, atau mandul. Tidaklah mengherankan jika para ulama terkemuka Al Azhar Mesir seperti Muhammad Abduh, Rashid Ridha dan Muhammad al Madan memperketat penafsiran atas ayat Quran tentang pembolehan poligami. Dengan melihat kondisi Mesir saat itu (1899), Abduh bahkan mengharamkan poligami bagi orang yang khawatir akan berlaku tidak adil. Tanpa bimbingan Allah swt., seperti yang diberikan kepada Nabi-Nya, sulit bagi seorang pria biasa untuk berlaku adil jika, misalnya, kedua istrinya berbeda: yang baru muda dan cantik dan yang lama sudah tua dan tak menarik lagi.

Sebagian orang berpendapat bahwa poligami dibolehkan karena nafsu seksual lelaki yang jauh lebih besar daripada istrinya. Mereka berargumen, “Daripada berzina kan lebih baik menikah secara sah.” Namun, jika kita menghargai hadis Nabi agar bujangan sebaiknya saum untuk mengatasi nafsu seksual mereka, hadis ini tentu berlaku juga bagi pria yang sudah menikah tetapi kelebihan nafsu seksual.

Poligami kehilangan esensinya jika seorang pria dalam keluarga yang bahagia ujug-ujug, tidak ada hujan dan tidak ada angin, menikah lagi dengan perempuan lain yang muda dan menarik, apalagi sambil meninggalkan anak-anaknya yang merasa bahwa ayah mereka telah mengkhianati ibunya. Boleh jadi anak-anak ini menjadi rentan dan bahkan merasakan broken home. Padahal tujuan pernikahan adalah kebahagiaan lahir batin, yang dalam bahasa agama disebut sakinah mawadah warrahmah (kedamaian, cinta dan kasih sayang). Hanya binatang yang selalu memperturutkan syahwatnya tanpa kendali. Dengan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritualnya, manusia seyogianya mampu mengendalikan nafsu primitifnya.

Pernikahan yang sesuai dengan sunah Nabi tidak mungkin menyebabkan istri yang setia dan anak-anak yang bahagia selama perkawinan merasa tersakiti, tersingkirkan dan dikhianati, apalagi jika sang istri telah berjasa besar bagi kesuksesan suaminya. Sang istri juga manusia, punya perasaan dan ingin bahagia. Ia bukan sekadar seonggok daging ataupun robot.

Banyak pria Muslim begitu lugu. Mereka sekadar memahami makna harfiah ayat Alquran yang membolehkan poligami. Mereka tidak memahami esensi di balik teks suci itu. Tidak mengherankan jika dalam pertemuan dua orang pria Muslim, seorang berucap seperti berikut ini: “Apa kabar ya, Akhi? Saya sudah melaksanakan sunah Nabi secara penuh. Istri saya empat sekarang. Masak kamu masih satu saja?”

Poligami bukan inti ajaran Islam, melainkan sekadar pinggiran (feri-feri)-nya. Poligami adalah solusi bukan nafsi-nafsi. Sementara monogami juga bukanlah dosa. Sebagian ulama berpendapat bahwa dalam konteks sekarang poligami sekadar mubah, bukan sunah, tapi bisa jadi haram jika niatnya salah. Masih banyak sunah Nabi yang jauh lebih penting, seperti berdakwah dengan mengorbankan harta dan jiwa (bukan mencari amplop dan popularitas), salat berjamaah di masjid, salat tahajud, menyantuni fakir miskin, dan saum setiap Senin dan Kamis.

“Lelaki inginnya mengambil sunah Nabi yang enak-enak, bukan yang susah-susah seperti yang Nabi lakukan dulu, hingga Nabi dilecehkan dan dilempar kotoran. Nabi pasti akan nangis melihat ‘sunah’ yang dipilih-pilih begini dan berkata, ‘Bukan itu yang saya maksudkan.'” ujar seorang sejawat saya. Percayalah, kita tidak akan pernah lebih saleh dari pada Nabi Muhammad saw., bahkan daripada para sahabatnya sekalipun. Sahabat sekaligus menantu Nabi sendiri, Ali bin Abi Thalib, tidak melakukan poligami, atas perintah Nabi. Nabi tidak tega hati putrinya, Fatimah, tersakiti. Nabi mengingatkan di mimbar masjid, “Apa yang menyakiti Fatimah berarti menyakitiku juga.”

Pria Muslim yang tidak melakukan poligami secara syar’i, pada hakikatnya ia sedang merusak citra Islam dari dalam di mata non muslim. Maka tidak mengherankan jika pertanyaan yang muncul dari seorang non Muslim saat bertemu dengan seorang Muslim adalah tentang poligami ini, “Anda boleh menikah dengan empat istri ya?” Sayangnya, kaum non muslim sering melihat Islam lewat tindakan pria Muslim (termasuk Muslim Arab), bukan bagaimana islam mengajarkan tindakan tersebut. Padahal menurut Ali bin Abi Thalib, “Jika kamu ingin melihat Islam, pelajarilah ajarannya, lalu kamu lihat siapa yang mengikutinya dan siapa yang tidak.” Memang banyak pria Arab beristri lebih dari satu, tetapi itu tidak berarti bahwa tindakannya otomatis bersifat islami. Maka kita pun maklum, meski sedikit tersinggung, jika seorang penulis non Muslim menyampaikan anekdot berikut ini:

Sebuah pertanyaan ditujukan kepada seorang pria Arab dan seorang pria Inggris, “Anda akan memilih siapa di antara ibu kandung anda dan istri anda, jika anda harus mengorbankan salah satunya dalam perahu yang anda tumpangi agar perahu itu tidak tenggelam.” Orang Arab menjawab “Istri saya.” Sementara itu, orang Inggris menjawab, “Ibu saya.” Alasannya, orang Arab: “Ibu saya tidak tergantikan, sedangkan saya bisa mengganti istri setiap kali.” Orang Inggris: “Ibu saya jauh lebih berjasa daripada istri saya karena ia telah melahirkan dan membesarkan saya.”

Saya tidak antipoligami. Jika anda ingin berpoligami, lakukan hal itu sebagai solusi atas problem anda yang sulit anda atasi tanpa poligami. Itupun sebaiknya berdasarkan kerelaan istri. Namun, para praktisnya tidak perlu membentuk organisasi. Pun, poligami tidak perlu dibangga-banggakan, apalagi diperlombakan, karena hal itu lebay dan akan merusak citra Islam.

 

Deddy Mulyana (Guru Besar dan Dekan Fikom Unpad)