Literature

Ramadan

Posted on Updated on


Mendiang Nurcholis Madjid di buku-hebatnya tentang Ramadan, 30 Sajian Ruhani: Renungan di Bulan Ramadlan (Mizan, 2000) lebih memilih kata Ramadlan daripada Ramadhan atau Ramadan. Padahal di buku gaya selingkung penerbit tercantum Ramadhan, bukan Ramadlan. Penerbit memilih ikut kemauan Cak Nur daripada patuh pada gaya selingkungnya sendiri. Ada pula cerita tentang buku gibah yang ditunda pencetakannya gara-gara ada yang tak setuju dengan penulisan kata gibah, tetapi lebih menghendaki ghibah.

Bukan hanya dua kata itu yang sering ditulis beragam dan mengundang polemik. Kata salat, wudu, azan, fikih, batin, ustaz hadis, sahih, mudarat, zuhur, magrib, subuh, isya, asar, dan lain-lain penulisannya sering menjadi perdebatan. Ada yang menulis salat, shalat, atau sholat. Wudu, wudhu, atau wudlu. Azan, adzan. Fikih, fiqih, fiqh. Batin atau bathin. Hadis atau hadits. Dalam menyikapi keberagaman penulisan ini, biasanya setiap penerbit menentukan kebijakan sendiri-sesuai dengan keyakinannya-yang dituangkan dalam pedoman penulisan atau gaya selingkung penerbit.

Sebenarnya bahasa Indonesia sudah mengatur keberagaman penulisan ini. Bahasa Indonesia hanya mengenal empat gabungan huruf konsonan: kh (khusus, akhir, tarikh), ng (ngilu, bangun, senang), ny (nyata, banyak), dan sy (syara, isyarat). Gabungan konsonan dl (Ramadlan), dh (Ramadhan), gh (ghibah) tidak termasuk pada keempat aturan itu. Jadi, ia bukan ragam baku. Yang baku adalah Ramadan, gibah.

Bolehkah kita ingin tetap menggunakan kata Ramadhan atau Ramadlan? Bahasa Indonesia membolehkan, tetapi dengan catatan kata tersebut bercetak miring atau digarisbawahi. Hal itu sebagai penanda bahwa kata-kata itu belum diserap secara sempurna ke dalam bahasa Indonesia. Namun, aturan itu pada pelaksanaannya tidak berhenti sampai di situ. Tidak elok dipandang mata atau istilah penerbitannya keterbacaannya rendah jika satu buku yang membahas tentang Ramadan kata Ramadhan atau Ramadlan dimiringkan semua. Dalam satu halaman banyak kata yang tercetak miring.

Ada beberapa gabungan huruf konsonan selain dl dan dh tadi-umumnya berasal dari bahasa Arab-yang mesti juga diperhatikan dan sering menjadi polemik, misalnya ts (hadits), dz (adzan), sh (shalat, shubuh), th (bathin), zh (zhuhur), gh (ghibah). Beberapa penerbit buku Islam sering mencantumkan Pedoman Tranliterasi bahasa Arab dalam terbitannya. Juga pedoman tentang pembacaan panjang pendek atau penulisan ain dan hamzah-yang satu ini tentu saja tak dikenal dalam bahasa Indonesia.

Seyogianya harus ada komunikasi yang intens antara pihak terkait-Badan Bahasa, penerbit, media, Kementrian Agama, para ahli bahasa (Arab, Indonesia)-dalam menyikapi keberagaman penulisan ini. Teman-teman di FBMM (Forum Bahasa Media Massa) sudah melakukannya dengan menggelar diskusi-diskusi bahasa dengan mengundang pihak-pihak terkait. Sebelum ada kesepahaman, untuk sementara-seperti halnya penentuan awal Ramadhan-kita dibolehkan sesuai dengan keyakinan masing-masing untuk menentukan sikap memilih penulisan yang  mana. Yang penting kita saling menghargai.

Dudung Ridwan

Penyunting bahasa di Mizan Publishing House

Advertisements

Ketika Roti Menjadi Sajak

Posted on Updated on


Ketika Sajak

 

Ketika sajak tak lebih dari sekedar jarak

Mata kita masih meminjam telinga

Dan suara-suaramu menjadi bait

Doa yang retak

 

Pertemuan tak lebih kekal dari sebaris sajak

Yang di tatapmu, menjadi hujan

Tanpa rima, jatuh

di belantara pertanyaan

 

Bandung 1 Desember 2012

 

Sekerat Roti yang Kemarin

 

Bersama sekerat roti yang kemarin,

pisau dapur yang berkarat dan selai kacang di atas meja.

Kita memulai ritus hari-hari.

 

Mimpi malam yang menyelinap,

kau tuang ke dalam gelas, bersama gula dan kopi,

Atas nama pagi pula, kita menyesapnya,

hingga tandas, tak menyisa ampas.

 

Jarum jam di atas kulkas, memanggilku,

memanggilmu. Untuk gegas berangkat,

memjadi Cerberus di gedung-gedung kota.

Selalu saja ada yang kita lewatkan,

Di atas meja makan.

 

Sebuah pertanyaan,

tentang kata-kata yang tak lagi hangat.

 

Bandung 1 Desember 2012

 

Menjadi Jejak

 

Perjalanan ini seperti menempuh pertanyaan

Kaki kita hanya memanah kebingungan

Bergerak, jalan semakin bercecabang

Diam, arah semakin membelukar

Berpikir, hanya mengubah ruang menjadi runyam

 

Angin yang lusuh,

Keringat yang runtuh,

Dan sebersit kebosanan,

Semakin lekat, di wajah tanah

Menjadi jejak-jejak.

 

Bandung 1 Desember 2012

 

Absurditas Malka

Dongeng Emak

Posted on Updated on


Aku mendengar dongeng ini dari Emak. Dongeng dari buku gambar tua yang Emak bacakan. Ini satu-satunya cerita yang dia punya. Kisah tentang penyihir wanita yang memeram kesumat pada sang guru. Lelaki durjana di masa lalu.

Alkisah, di negeri antah berantah terjadi huru-hara. Penyihir wanita yang tak pernah tua tengah mengamuk murka. Ini perihal dendam kesumatnya yang belum terbalaskan. Darah harus berbalas darah. Air mata harus dibayar air mata.

Mentari memerah serupa darah, lalu menciut dalam bayangan jubah hitam sang penyihir. Langit jadi kelam. Pekat menggurita. Perlahan dari dalam tanah, mayat-mayat bangkit dari tidur lelapnya. Serigala-serigala keluar dari sarangnya. Semua berkumpul. Menyatu di kaki sang penyihir.

“Di bawah sana, penduduk meringkuk, takut,” ucap Emak sambil menunjuk halaman bawah pada buku dongeng bergambar itu. Aku mendekat. Bukan untuk melihat dan memastikan, tapi aku merapat karena takut.

“Ia harus mati. Sang guru itu. Ia harus membayar semua yang telah ia lakukan pada penyihir,” mata Emak seterang kilat. Napasnya tersengal. Jari-jemarinya pelan-pelan merapat. Mengepal. Mencengkeram halaman cerita dengan kuat. Tangan Emak bergetar. Gemerutup giginya terdengar sangat jelas. Seperti lagu kematian yang didendangkan.

Aku merasa pelan-pelan tubuhku membeku. Rasa takut ini menjalar seperti es.

Semua ikut membeku. Termasuk Bu Hilma, guru Bahasa Indonesia-ku, juga teman-teman yang terngangah di bangku masing-masing. Semua mata menatapku, berkilat dalam baluran kengerian. Aku melihat dengan jelas semua itu terbaca di wajah mereka. Tak ada yang bersuara.

“Penyihir itu sudah menyiapkan mantra pembunuh yang paling kejam,” aku masih melanjutkan cerita, tak peduli dengan wajah tegang teman-teman. “Sang guru akan mati pelan-pelan. Ia akan memotong-motongnya seperti daging ayam. Memasukkannya dalam belanga. Menjadi sup. Dan akan dimakannya saat malam.”

“Sudah. Tak usah dilanjutkan,” Bu Hilma tiba-tiba menahan mulutku yang hendak berucap lagi. Aku menatap ke arahnya. Melempar tanya lewat sorot mata: Mengapa aku tak boleh menuntaskan ceritaku? Bukankah ini giliranku untuk bercerita? Inilah cerita yang Emak kisahkan padaku? Dan ini baru pembukaannya.

Bu Hilma tak menjawab satu pun pertanyaanku itu. Dari kilatan matanya. Ia memintaku duduk. Aku enggan melangkah ke arah bangku, tapi akhirnya aku melangkah juga ketika melihat mata Bu Hilma sekali lagi. Berpasang mata teman-teman mengiringiku langkah.

Ceritaku selalu menakutkan, kata Bu Hilma. Saat teman-teman berhamburan pulang, Bu Hilma menjegal langkahku. Ia bertanya: Mengapa aku tak minta Emak menceritakan si Kancil Anak Nakal? Atau cerita tentang siput yang menang melawan kancil dalam lomba lari. Bisa juga cerita tentang beruk yang menanam jantung pisang agar cepat berbuah.

Tak ada kata yang bisa kuucapkan. Aku membatu. Beku di kursi. Aku tak pernah mendengar cerita-cerita itu dari Emak. Emak hanya punya satu cerita saja, tentang penyihir wanita yang tak pernah tua dan guru durjana. Mulut Bu Hilma meracau, seperti beo kurang makan.

Di Depanku, Emak masih berkomat-kamit menguraikan cerita. Jari-jemarinya yang hitam kapalan terlihat gemetar membuka lembar berikutnya. Aku melihat getar itu. Ujung-ujung kukunya menghitam, dimasuki getah karet yang sudah mengeras. Seperti kuku beracun. Racun yang akan membunuh lawannya seketika. Racun yang mungkin juga tercampur dalam masakan Emak untukku. Aku menelan ludah. Apakah malam ini aku akan mati ketika memakan sup buatan Emak?

“Periuk besi sudah siap. Para dedemit kaki tangan penyihir sudah menyiapkan tungku besar untuk memasak sang guru.”

Kudukku meremang. Ringkikan tawa Emak menembus membran telingaku. Seketika bulu-bulu di tubuhku berdiri kian tegak. Tawa itu terlalu menakutkan. Seperti tawa kematian dari malaikat neraka. Api berkobar-kobar dalam halaman dongeng bergambar. Sosok-sosok gelap mengitari api, di puncak-puncak bukit serigala berdiri.

**

Emak selalu kelelahan dalam dongengnya. Keringat membanjir. Napas tersengal. Mata berkilat. Aku menyentuh jari-jemari Emak yang kurus menghitam itu. Memegangnya dan pelan-pelan menutup halaman buku dongeng bergambar di pangkuannya.

Wajah emak terlihat mengeras. Mengerikan. Baru aku sadar, betapa Emak cepat menua. Kerut-kerut di wajahnya begitu kentara. Emak tak seperti perempuan berusia dua puluh limaan. Ia seperti nenek-nenek tua yang hampir sekarat. Pipi bergelambir. Kantong mata melorot jauh, seperti bubur yang tumpah dari mangkuk.

Aku meraba wajah Emak yang menakutkan. Ah, benarkah wajah serupa hantu yang mati penasaran ini wajah Emakku? Aku merebahkan kepala di pundaknya.

Lampu temaram. Angin dingin menyelinap. Cupingku yang tertempel dekat dada emak mendengar degup jantungnya dengan jelas. Ritma napasnya yang tersengal juga begitu terang. Udara panas menderu. Menerpa-nerpa wajahku.

“Penyihir itu bersumpah, ia akan membunuh sang guru dengan tangannya sendiri,” lanjut Emak tanpa membaca dari buku dongeng bergambar.

Aku menatap jemari Emak yang membelai pipiku. Kuku-kuku hitam beracun itu sejengkal dari mataku.

Aku membayangkan kuku beracun itu yang akan menebarkan kutuk paling mematikan untuk sang guru. Dari ujung kuku-kukunya yang menghitam, racun dan mantera paling laknat berkumpul. Pelan-pelan keduanya keluar dan terbang mengitari penyihir, ketika penyihir cantik yang tak pernah menua itu meniupnya, kutuk berbalur racun itu terbang melesat. Membelah malam, menembus pekat.

Kepergian senjata pembunuh penyihir disambut sorak-sorak pengikutnya. Semua bersatu dalam seru. Busuk memenuhi rongga hidung. Kutuk berbalur racun itu terus melesat. Jauh. Mengejar sang guru yang terlelap dalam bilik bersama istrinya.

Mata berkilat emak meredup, menatapku. Aku membalasnya. Dua pasang mata bertemu. Aku menemukan cerita lain di mata Emak. Cerita awal dendam itu.

Semua seperti mimpi semata. Lelaki bergelar sang guru itu menerkamnya tanpa belas. Barulah perempuan belia itu tersadar, sang guru yang bermanis muka, bukanlah domba tapi serigala jadi-jadian. Namun semua sudah terlambat. Rumah terlalu lengang. Istri sang guru tengah tak ada. Hanya ada sosok mungil tak berdaya dalam ayunan.

Lalu, benih berbau busuk itu tumbuh perlahan dalam perutnya. Ia panik. Tak tahu harus berbuat apa. Siapa yang hendak jadi pahlawan? Tak ada. Tak ada sesiapa. Bau bangkai telah tercium sempurna. Sang guru bersilat lidah ketika ia menyebut namanya. Orang-orang beringas dalam murka. Emak dan ebaknya seketika hilang muka. Dan bisa ditebak, ia terlempar ke alam orang-orang mati. Terkucil. Sendiri. Sepi.

Sejak itu langit berubah gelap. Musim semi yang terbentang sepanjang tahun langsung sirna. Matahari memerah, pohon-pohon meranggas. Bunga layu dan mati seketika. Lalu, ia menangkap matahari, dimasukkan dalam baju. Pekat menyelubungi semesta. Dendam kesumat yang tersemat di dada, membesar dan ia jaga.

**

“Hari ini Emak akan menamatkan dongeng penyihir itu untukmu,” aku tak jadi mengunyah makanan yang sudah kusuap. Kutatap Emak. Matanya berkilat dengan senyum yang seumur hidup baru kali ini kujumpa. Terasa ganjil melihat kerut-kerut di wajah tuanya tertarik membentuk senyum. Seperti seringai hantu penasaran. Aku seketika merasa, tenggorokanku panas. Apa mungkin Emak sudah memasukkan racun dari kukunya dalam sarapanku?

“Agar kamu bisa menceritakan dongeng ini secara lengkap di depan kelas,” aku kembali mengunyah makanan pelan. Sesungguhnya, aku hendak berucap. Giliranku sudah lama usai. Aku pun tak akan bisa mengisahkannya, tersebab Bu Hilma bilang, ceritaku terlalu mengerikan.

Langit masih seperti kemarin. Hitam pekat. Pohon-pohon sepanjang jalan menuju sekolah yang sepeda Emak lewati masih sama. Meranggas, Telanjang. Emak tiba-tiba membelokkan sepedanya. Kita akan menunggu di balik pohon, menunggu dongeng dikhatamkan, katanya.

Di kejauhan sebuah sepeda terlihat mendekat. Bu Hilma dan suaminya, pak kepala. Tangan Emak merapat. Kuku-kuku hitamnya bersinar. Gemerutup giginya seperti mantera kematian. Ketika sepeda itu hampir sampai, Emak mendadak meloncat ke tengah jalan. Mereka terkesiap. Oleng. Lalu jatuh serempak ke tanah. Aku masih berdiri mengintip di balik pohon. Lelaki itu pias. Emak berjalan mendekat.

Aku melihat kuku-kuku Emak semakin menghitam dan berkilat. Wajahnya yang tua dan bergelambir mendadak cantik. Saat itu juga, aku melihat Emak sudah mengenakan jubah hitam bersayap gagak.

Aku sedang membaca halaman terakhir buku dongeng bergambar itu. Penyihir cantik yang tak pernah menua itu menghujamkan sebilah kuku beracunnya ke tubuh sang guru. Darah hitam muncrat. Membasahi wajah cantik penyihir, seketika wajah itu menua ketika darah sang guru menyentuh pipinya. Sang guru meregang nyawa. Istrinya lari terbirit-birit ketakutan. Di udara, koakan gagak dan serigala membahana. Sorak-sorak dari neraka terdengar ramai. Aku mematung dalam senyap.

“Dongengnya sudah tamat. Kini kamu bisa menceritakannya secara lengkap,” ucap Emak sambil berjalan ke arahku dengan kuku hitam yang meneteskan darah.***

 

C59, Mei 2012 – Maret 2013

Guntur Alam

 

Sastra Dangdut

Posted on Updated on


Kami berbincang-bincang lewat obrolan di thread inbox facebook, bicara soal sastra dangdut. Obrolan yang semula ngaler ngidul ini jadi serius. Saya, Ahda Imran, Bambang Q Anees, Bode Riswandi, Bunyamin Fasya dan lain-lain jadi semakin “khusyuk” memperbincangkan sastra dangdut, hingga larut pagi obrolan kami makin “wihdatul dangdut” dan tak selesai.

Sastra dangdut adalah pembacaan puisi diiringi musik dangdut, kata Bunyamin Fasya. Yang lain menimpali, tidak hanya itu, tapi lirik lagu dangdut benar-benar puitis dan itu sudah masuk pada wilayah puisi.

Mari kita simak syair lagu Fazal Dath yang dinyanyikan oleh Meggy Z:

Aku bagaikan kupu-kupu di atas mata air

Ingin rasanya ku minum…

Tapi aku takut tenggelam

Ho…Oo…Oo…

“Nah, itu kan mengandung tafsir yang sangat dalam dan multitafsir, biasa juga ditafsir sebagai posisioning seks,” timpal Ahda Imran.

“Lagu-lagu Meggy Z memang lebih kuat dari syair para penyair Indonesia” Bambang Q Anees tak mau kalah seraya mengatakan bahwa kupu-kupu itu akhir maqam dalam tasawuf dan mata air bisa ditafsir sumber kebenaran.

Lebih jauh pada lirik lagu Meggy Z, menurut Bunyamin Fasya “Kau yang nyalakan, engkau pula yang padamkan. Tah eta mah makrifat tingkat tinggi” katanya.

Begitulah kami berbincang, dan pada akhirnya sampai pada penyesalan bahwa dangdut kekinian hanya mengandalkan penampilan saja, goyangnya saja. Dangdut sekarang hanya sebagai pertunjukkan tidak sampai pada lirik yang bagus.
Simak juga lagu dangdut karya Rhoma Irama berjudul “Janji” yang dinyanyikan Rita Sugiarto dan Evie Tamala:

Syurga yang engkau janjikan/neraka yang kau berikan
Manis yang kau khayalkan/pahit yang aku rasakan

Tingginya janjimu padaku/mengalahkan langit yang biru

Manisnya janjimu padaku/mengalahkan manisnya madu//

Keindahan bunyi dalam syair lagu tersebut, dan pengolahan kata secara eufimisme, mampu membawa pendengar memahaminya, dengan penilaian subjektif masing-masing tentunya. Puisi dangdut memang bisa memberi kita makna yang sangat dalam ketika ditulis dengan kejujuran dan berdasar pada kehidupan yang sesungguhnya.

Simak juga pada lirik lagu “Adu Domba”:

Adu domba adu domba mengadu domba

demi keuntungan domba jadi korban

demi kesenangan domba kesakitan

Puisi dangdut pada “Adu Domba” itu memang sangat gagah sebenarnya kalau dikatakan puisi yang baik, ibarat kapak tajam yang memacahkan kebekuan es dalam kepala kita. Tetapi memang harus diakui, puisi dangdut Rhoma Irama selalu menggoda kita untuk mendengarkan berulang kali.

Beberapa puisi Rhoma Irama memiliki daya tarik unsur bunyi yang indah, gagasan dan liriknya bersenyawa, idiomnya sederhana, ada kejutan, jujur dan imaji liar.

Dalam beberapa lagunya Rhoma memasuki wilayah sosial, politik dan budaya, sebagian besar lagunya mencoba “masuk” ke dalam persoalan itu. Ada semacam protes lembut dari hampir semua puisi dangdutnya.

Sejumlah pengalaman batin, menggambarkan realitas hidup, penuh estetika, idiom, dan metafor ditulis secara gamblang. Bang Haji tengah menulis realitas. Kematangan nalar kemudian menjadi persoalan dalam bekerja menulis puisi dangdut, karena meskipun lagunya ditulis dengan rekaan kata, isinya adalah realitas kata.

Setiap penulis lagu dangdut memiliki wilayah perhatian tersendiri, pun pada lagu-lagu dangdut masa kini, hingga akhirnya muncul lagu “Goyang Inul”, “Alamat Palsu”, “Pacar Lima Langkah”, “ABG Tua”, dan lainnya.

Musik dangdut, sebagai salah satu dari genre seni musik yang berkembang di Indonesia berakar dari musik melayu pada tahun 1940-an lalu. Musik ini sudah mengakar sejak tahun 1970-an, dimana popularitas musik dangdut sudah mulai terbuka untuk mempermisikan pengaruh jazz, rock, keroncong, reggae dan house music.

Sejak Rhoma Irama mempopulerkan musik dangdut dengan besutan rock, diakui atau tidak musik dangdut melejit dan menembus industri pasar. Lalu lahir penyanyi-penyanyi dangdut generasi kemudian seperti Mansyur, Meggy Z, Mukhsin Alatas, Elvi Sukaesih, Camelia Malik, Rita Sugiarto, Iis Dahlia, Ike Nurjannah, Nita Thalia, dan seabrek nama lainnya. Suatu masa dangdut heboh dengan lahirnya Inul Daratista, Dewi Persik, Ayu Tingting dan Trio Macan.

Musik dangdut sebenarnya merupakan musik yang tak pernah padam, pada setiap generasi selalu hadir, meski tak sehebat pada era tahun 1990-an, dimana musik dangdut menjadi lebih hidup dan meriah. Bahkan banyak dari para penyanyi yang tadinya beraliran pop dan rock beralih ke dangdut dan kemudian tercipta jenis musik baru yaitu pop dangdut, rock dangdut, dangdut reggae, dangdut jazz, hingga dangdut campursari.

Dan dari uraian di atas, saya yakin dangdut akan tidak menjadi musik murahan jika ita bersentuhan dengan sastra yang baik seperti “sastra dangdut”nya Rhoma Irama, Fazal Dath, dan Meggy Z. Syair dangdut akan terasa sastranya manakala ia bisa diiringi joget yang sederhana, joget yang tak mengumbar nafsu, bahkan jogetnyapun menjadi joget yang puitis.

Nah, dari sekian banyak musik, tampaknya jarang ahli sastra Indonesia, menulis mengenai sastra dangdut. Padahal dangdut adalah salah satu genre musik dan sastra yang menjadi mainstream rakyat di Indonesia.
Hayu ah…tarik, Mang…!

 

Matdon, Rois Am Majelis Sastra Bandung.

Hantu Bapak

Posted on Updated on


Cerpen Bashirah Delmora Anjali

Silong buru-buru menyelesaikan pekerjaannya. Piring terakhir di tangannya bahkan belum bersih benar dari minyak. Dengan sigap diletakkannya piring itu di meja kayu. Sisa-sisa air merembes membasahi meja dan membuat urat kayu meja itu terlihat lebih jelas. Baru saja salah seorang rekan menepuk bahunya.

“Dipanggil Bos,” ucap rekan itu. Jempolnya menunjuk ke ruangan majikan.

Keluar dari ruangan majikan Silong ingin segera pulang menemui Ibunya. Sudah beberapa hari ini Silong merasakan firasat yang kurang baik. Perasaan yang tidak nyaman setiap bangun pagi. Silong meraba-raba apa yang membuat perasaannya jadi tidak nyaman seperti itu. Tapi semakin dirabanya semakin tak ditemuinya jawaban yang pasti. Rupanya inilah yang terjadi. Silong harus berhenti bekerja sebagai pramusaji sekaligus pencuci piring di rumah makan ini. Dan mulai besok ia harus susah payah lagi mencari kerja.

Di rumah, Ibunya seperti biasa, bersenandung kecil di ruang tamu. Sambil mengipas wajahnya dengan selembar koran bekas.

“Pulang cepat?” tanya ibunya demi melihat Silong bengong di depan pintu.

Silong diam saja. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Silong merasa kesal dengan dirinya, dengan perasaan-perasaan buruknya. Memang, rumah ini hanya akan mereka tempati beberapa hari lagi. Itu pun karena kompromi saja.

Mestinya rumah ini sudah disita beberapa bulan lalu untuk menebus utang-utang yang menumpuk. Sebagian hutang itu diwariskan oleh bapaknya untuk membiayai kampanye menjadi Walikota, yang akhirnya gagal. Semenjak kegagalan itu, Bapaknya sering jatuh sakit. Barangkali karena malu, kecewa atau memikirkan betapa telah banyak modal yang dikeluarkan. Sampai akhirnya Bapaknya meninggal dunia dan meninggalkan pula begitu banyak utang.

“Eh, kok malah bengong. kamu kenapa, sakit?” Ibu menabrak lamunan Silong dengan suaranya yang melengking.

“Bukan. Saya izin tadi, capek Bu.”

Silong menyesali kata-katanya. Seharusnya dia tidak melontarkan kata capek di depan ibunya. Sejak Bapak meninggal, kemudian disusul dengan kebangkrutan mereka, Ibunya jadi mudah bersedih. Buru-buru Silong menghampiri ibunya dan mengalihkan perhatiannya dengan bercerita kalau majikannya, pemilik warung makan, adalah orang yang baik hati. Tentu saja, Silong tidak akan bercerita kalau ia sudah diberhentikan, setidaknya sampai ia mendapat pekerjaan lain.

**

Kalau saja dulu bapak tidak tergoda untuk mencalonkan diri menjadi Walikota. Kalau saja Bapak tidak memilih untuk membuang jabatannya sebagai Kepala Dinas. Hari ini Silong pasti tidak akan menjadi pelayan sekaligus tukang cuci piring, harus siap-siap diusir, mencari rumah kontrakan dan sendirian merawat Ibunya yang kelihatan lebih tua dari usianya. Tidak ada keluarga yang mau membantu mereka.

Awalnya masih ada yang bersimpati. Mengunjungi mereka, memberi semangat dan sedikit bantuan. Tapi itu cuma beberapa bulan saja setelah Bapaknya meninggal dunia. Lambat laun, orang-orang itu mulai jarang muncul. Jangankan mendatangi, bila didatangi saja mereka kerap menghindar dan pura-pura tak ada di rumah. Apalagi semenjak mereka tahu kalau Bapak banyak sekali mewariskan utang.

Tak ada cara lain, semua harta mereka harus direlakan untuk melunasi utang. Kalau tidak penjara menjadi taruhannya. Bila nanti ada sisa uang rencananya akan dipakai Silong, yang terpaksa putus kuliah, untuk memboyong ibunya ke rumah kontrakan.

Mengontrak sepetak rumah dan mencari kerja. Menjadi pelayan dan tukang cuci piring di rumah makan adalah pilihan yang mesti diambil sembari mencari kesempatan lain.

Pada saat-saat paling buruk, Silong jadi begitu benci pada Bapaknya. Kasihan ibu, perempuan yang dulu anggun dan disegani orang. Makin lama Ibu makin menunjukkan tanda-tanda yang ganjil. Tak ada yang dilakukan Ibu setiap hari, kecuali duduk di beranda atau ruang tamu, bersenandung kecil sembari mengipas wajahnya dengan koran bekas. Mungkin itu yang membuat Silong sering khawatir. Mungkin saja, suatu hari, Ibunya akan bunuh diri saking tak kuat lagi menanggung kesedihannya.

Kebencian Silong tak hanya pada Bapaknya, tapi juga pada kawan-kawan Bapaknya. Mereka yang dulu begitu menggebu-gebu meyakinkan Bapak untuk mencalonkan diri menjadi walikota. Terutama Haji Kamir. Lelaki yang paling sering datang ke rumah Bapak. Silong ingat benar kata-kata Haji Kamir bahwa bapak sangat pantas menjadi walikota.

“Kalau Bapak kan sangat dipercaya oleh masyarakat, saya yakin Bapak adalah pemimpin yang amanah. Pada diri Bapak terdapat sifat-sifat itu. Soal biaya tenang saja pak, kita bisa saling berbagi lah.”

“Tapi saya tidak terlalu tertarik dengan politik, Pak Haji. Apa bisa saya ini nanti amanah?”

“Lho, daripada artis-artis itu. Coba Bapak lihat. Bisa apa sih mereka? Tapi banyak yang jadi kan? Padahal mereka cuma mengandalkan ketenaran saja. Kalau bapak lain, saya kenal bapak sebagai orang yang dermawan dan merakyat. Pak, janganlah biarkan posisi ini dipegang oleh orang-orang yang punya sifat buruk. Nanti masyarakat kita buruk pula nasibnya. Tak terurus keperluannya. Apa bapak tak merasa kasihan?”

“Kenapa bukan Pak Haji saja yang mencalonkan diri?”

“Lha, saya ini tak punya sifat-sifat seperti Bapak. Saya khawatir bisa-bisa saya menyalahgunakan jabatan kalau saya terpilih. Lagi pula saya ini tak sepopuler Bapak.”

“Tapi saya juga khawatir soal itu.”

“Percayalah sama saya pak. Bapak sudah ditakdirkan untuk menjadi pemimpin kami, bapak akan menjadi pemimpin yang mampu memperjuangkan kepentingan masyarakat kita.”

Bujukan Haji Kamir memang beralasan. Bapak termasuk orang yang sangat dihormati oleh masyarakat. Selain dermawan, Bapak juga tidak pernah memandang sebelah mata pada siapa saja. Tidak sedikit orang datang ke rumah meminta bantuan Bapak. Meminjam uang, minta tolong agar dicarikan pekerjaan, atau memohon sumbangan untuk acara tertentu.

Semenjak Bapak menyanggupi untuk maju menjadi wali kota, lebih banyak lagi orang yang datang ke rumah. Tetapi yang datang bukan lagi masyarakat, lebih sering Haji Kamir dan beberapa orang lain yang tak pernah benar-benar Silong ketahui namanya. Ibu mendukung sepenuhnya keputusan Bapak. Dan Silong sendiri, pada saat itu, diam-diam juga sudah membayangkan bagaimana nanti bila Bapaknya terpilih. Tentu sebagai anak seorang wali kota, nantinya Silong juga kecipratan baiknya.

Bapak mulai kampanye kesana-kemari, didukung oleh sebuah partai Bapak dipasangkan dengan seorang anak muda yang kelihatan pendiam. Semakin gencar kampanye yang dilakukan, semakin tersita pikiran dan tenaga. Dan ongkos dari semua usaha itu tidaklah sedikit. Bapak mundur dari jabatan yang sudah dipegangnya. Untuk itu, dengan baik hati, Haji Kamir rela meminjamkan uang. Tentu saja dengan jaminan, kalau bapak nanti terpilih, semua hutang-hutang itu akan dilunasi. Karenanya, jaminan yang lain diperlukan sebagai tanda hitam di atas putih. Maka semua harta bapak, rumah dan aset-aset usaha dijadikan jaminan.

Begitulah, Bapak kalah telak. Ditinggalkan orang-orang yang dulu dengan menggebu-gebu mendukungnya. Ditinggalkan bersama setumpuk hutang. Sedang perjanjian harus ditepati, rumah dan semua aset-aset Bapak bakal disita.

Sekarang Silong hanya berpikir bagaimana mendapatkan pekerjaan. Bersama ibu ia ingin mengubur semua yang telah terjadi. Entah sampai berapa lama mereka bisa mendapat belas kasihan, tidak diusir dari rumah yang bukan lagi menjadi hak mereka. Sayang, Ibunya seperti belum bisa menghilangkan kesedihan dan kekecewaannya. Malam ini bahkan Silong gagal membujuk ibunya untuk berhenti membicarakan Bapak yang katanya tiap malam datang ke rumah ini.

“Bapakmu sering datang, Nak. Wajahnya bersih sekali. Sudah tua dia, tapi masih tampan dan romantis.”

“Sudahlah Bu, ini sudah malam. Ibu masuk dulu, istirahat” potong Silong.

“Eh, kamu itu. Ibu belum selesai cerita. Tadi malam bapakmu datang lagi, kali ini wajahnya sedikit kusam. Seperti orang yang sedang bersedih. Ibu tanya, ada apa? Dia diam, Ibu mendesak dia untuk bercerita.” Ibu terdiam sejenak.

“Bapakmu merindukan ibu, Nak.” Ibu menatap Silong. Suatu cahaya lembut terpancar dari matanya. Lembut tapi kelabu. Seperti sarat oleh kesedihan yang tak bisa lagi tertanggungkan.

“Ibu..”

“Bapakmu sendirian disana. Dia tak punya siapa-siapa. Ibu tidak bisa membiarkannya kesepian begitu. Dia juga menanyakanmu. Dia sampaikan permintaan maafnya. Dia ingin kamu ikhlas dan menerima semuanya dengan tabah. Malam ini dia berjanji akan datang menjemput Ibu.”

“Ibu..”

“Dia juga bercerita tentang kebiasaannya yang baru. Memakan kembang. Katanya kembang-kembang di tempatnya enak dimakan. Dia berjanji membawakan ibu nanti bersama pakaian pengantin. Bapakmu mau melamar ibu lagi..”

“Ibu..!”

**

Jendela kamarnya tidak ditutup sejak semalam. Ataukah ibu yang telah membukanya? Silong terjaga oleh silau yang memancar dari luar jendela. Seketika itu dia disergap perasaan yang aneh. Bukan kecemasan, bukan pula kesedihan. Meski semalam susah payah ia menepiskan pikiran-pikiran buruk di kepalanya.

Pintu memang tidak dikunci. Artinya benar, ibunya yang telah membuka jendela. Silong melangkah keluar kamar dan mencari ibunya. Di kamar tamu, tidak ada. Di dapur, tidak ada. Pintu kamar mandi terbuka. Silong menuju beranda sembari memanggil kecil. Tak ada jawaban. Beranda kosong.

Sedikit cemas, Silong masuk lagi, menuju kamar ibunya. Silong mengetuk pintu, mula-mula pelan. Lama-lama semakin keras sambil memanggil-manggil. Pintu tidak terkunci. Silong menengok ke dalam. Tak ada siapa-siapa, kamar itu kosong. Tapi di tempat tidur tergeletak sepasang pakaian. Seperti pakaian pengantin yang baru dikeluarkan dari lemari. Dada Silong berdebar, kecemasan mulai menjalari pikirannya. Kamar ibunya seperti baru disemprot oleh pewangi. Seperti wangi kamboja. Silong semakin cemas. Baru saja ia hendak menghambur, dari luar terdengar suara orang-orang riuh. Seperti mendekat ke rumah itu.***

Lombok, Maret 2013