Author: azuiway

“Suke”, Sisi Lain Kedelai

Posted on


Susu merupakan produk pangan yang menjadi sumber utama pemenuhan kebutuhan kalsium (Ca) tubuh. Seperti halnya di negara-negara barat yang konsumsi susunya sudah cukup tinggi, sebagian besar masyarakat Indonesia mengonsumsi susu dalam bentuk susu hewani, terutama susu sapi.

5
Pekerja melakukan proses pembuatan susu kedelai di salah satu produsen susu kedelai di Margaasih Kabupaten Bandung, beberapa waktu lalu.

Belakangan, masyarakat memang sudah mulai gandrung mengonsumsi susu kedelai (soy milk) – lebih populer disebut dengan istilah “suke”. Namun, tetap saja, proporsinya masih jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan konsumsi susu sapi. Ada banyak faktor yang menyebabkan mengapa susu kedelai kurang populer di masyarakat, mulai dari kebiasaan, minimnya kampanye konsumsi, keterbatasan bahan baku kedelai, hingga kurangnya informasi mengenai kandungan gizi suke.

Harus diakui, kandungan kalsium dalam susu kedelai memang lebih rendah daripada yang terdapat dalam susu sapi. Dalam satu liter susu kedelai murni mengandung sekitar 200 mg kalsium atau enam kali lebih rendah daripada yang terdapat pada susu sapi. Meski demikian, susu kedelai komersial umumnya sudah diperkaya dengan tambahan kalsium hingga kandungannya mencapai 1.200 mg per liter atau sama dengan kalsium yang terdapat dalam susu sapi.

Sebagian besar produsen susu kedelai menggunakan tri-calcium phosphate sebagai sumber kalsium yang ditambahkan pada produk susu kedelai mereka. Sumber kalsium lainnya, yaitu kalsium karbonat dan kalsium nabati dari ganggang laut (Lithothamnium calcarcum). Sebagai catatan, kalsium di dalam air – digunakan dalam proses pembuatan susu kedelai, sangatlah penting. Takaran kalsium yang dianggap baik berkisar antara 0 – 600 mg per liter.

Yang jadi pertanyaan, apakah kita memang benar-benar membutuhkan kalsium yang begitu tinggi dalam susu kedelai?

Sebuah studi memperlihatkan bahwa asupan susu dan kalsium dari susu yang terlalu tinggi ternyata berhubungan dengan peningkatan risiko terkena osteoporosis. Penelitian yang dilakukan The Harvard’s Nurses Health Study dengan melibatkan sekitar 57.000 wanita, memperlihatkan bahwa wanita yang mengonsumsi sebagian besar kalsium dari produk susu, dua kali lipat mengalami patah tulang pinggul daripada wanita yang menerima asupan kalsium lebih sedikit dari produk susu.

Nilai nutrisi

Nilai nutrisi susu kedelai (per 100 gram) terdiri dari 93.3 gram air, energi 33 kcal (138 kJ), pretein 2.8 gram, lemak 2 gram, asam lemak jenuh 0.21 gram, asam lemak tak jenuh 1.13 gram, karbohidrat 1.8 gram, serat 1.3 gram, abu 0.27 gram, isoflavon 8.8 mg, kalsium (Ca) 4 mg, besi (Fe) 0.58 mg, magnesium (Mg) 19 mg, fosfor (P) 49 mg, kalium (K) 141 mg, natrium (Na) 12 mg, seng (Zn) 0.23 mg, tembaga (Cu) 0.12 mg, mangan (Mn) 0.17 mg, selenium (Se) 1.3 mikrogram, vitamin B1 (thiamin) 0.161 mg, vitamin B2 (riboflavin) 0.07 mg, vitamin B3 (niacin) 0.147 mg, vitamin B5 (asam panthotenic) 0.048 mg, vitamin B6 0.041 mg, asam folat 1.5 mikrogram, vitamin A 3 mikrogram, vitamin E 0.01 mg. (Sumber: USDA Nutrient Database for Standard Reference).

Memang, jika standarnya hanya mengacu pada kandungan kalsium, susu kedelai kalah oleh susu sapi. Namun, jika dilihat dari berbagai faktor, susu kedelai menawarkan lebih banyak manfaat dan keuntungan, khususnya demi alasan kesehatan. Dengan alasan itu pula, kini kian banyak orang menyukai susu kedelai. Bahkan konsumsi susu kedelai kini jadi tren di masyarakat barat, terutama sejalan dengan makin banyaknya orang yang menganut pola makan vegetarian. Setidaknya ada tujuh kelebihan susu kedelai jika dibandingkan dengan susu sapi.

Pertama, susu kedelai berisi hanya protein nabati. Keberadaan protein nabati memberi keuntungan tersendiri karena menyebabkan sedikit kehilangan kalsium melalui ginjal.

Kedua, susu kedelai tak mengandung laktose. Sekitar 75 persen penduduk dunia tidak toleran terhadap laktosa. Beberapa kelompok etnik lebih banyak terpengaruh daripada yang lainnya. Sebagai contoh, sekitar 75 persen orang Afrika dan 90 persen orang Asia tidak toleran terhadap laktosa. Manfaat tambahannya, susu kedelai mengandung gula prebiotik stachyose dan raffinose. Gula-gula prebiotik ini mampu meningkatkan imunitas dan membantu mereduksi racun dalam tubuh.

Ketiga, lebih sedikit orang yang alergi susu kedelai. Sekitar 0.5 persen anak-anak alergi terhadap susu kedelai, sedangkan 2.5 persen alergi terhadap susu sapi. Fakta ini penting karena faktor alergi terhadap susu bisa jadi hambatan tersendiri bagi seseorang untuk bisa mendapatkan nilai gizi dari susu. Susu kedelai bisa jadi substitusi bagi mereka yang alergi terhadap susu sapi.

Keempat, susu kedelai mampu menurunkan kolesterol. Lemak jenuh yang terdapat dalam susu sapi sangatlah tidak sehat dan meningkatkan kadar kolesterol tubuh. Protein susu sapi tidak bermanfaat bagi kolesterol. Sebaliknya, protein kedelai bisa menurunkan kadar kolesterol. FDA (Food and Drugs Administration of US) atau Badan Pangan dan Obat-obatan AS mengkonfirmasi, sebagai bagian dari diet rendah lemak jenuh dan kolesterol, susu kedelai secara signifikan bisa mereduksi risiko jantung koroner. FDA juga merekomendasikan agar menyertakan 25 gram protein kedelai dalam menu harian.

Kelima, susu kedelai tak mengandung hormon. Susu sapi tak hanya mengandung hormon alami (dari sapi), tetapi juga hormon sintetis, yang bisa memengaruhi kinerja tubuh kita. Hormon sintetis, seperti RBGH (recombinant bovine growth hormone) diketahui meningkatkan produksi susu hingga 20 persen.

Keenam, susu kedelai tidak menyebabkan ketergantungan insulin pada penderita diabetes. Meski belum ada kesepakatan di antara para ilmuwan, beberapa penelitian memperlihatkan adanya hubungan antara minum susu sapi pada tahap awal kehidupan manusia dan perkembangan ketergantungan insulin pada penderita diabetes. Pada susu kedelai, hubungan ini tidak ada.

Ketujuh, susu kedelai kaya akan isoflavon. Kehadiran isoflavon sangatlah penting dan menjadi manfaat yang unik dari susu kedelai. Tiap cangkir susu kedelai mengandung sekitar 20 mg isoflavon (terdiri atas genistein dan daidzein). Susu sapi tidak mengandung isoflavon.

Isoflavon memiliki banyak manfaat bagi kesehatan, termasuk mereduksi kolesterol, mempermudah gejala menopause, mencegah osteoporosis dan mengurangi risiko kanker (prostat dan paru). Kasus kanker sangat rendah pada negara-negara yang konsumsi produk kedelainya tinggi, termasuk susu kedelai. Isoflavon juga berfungsi sebagai antioksidan yang memproteksi sel tubuh dan DNA melawan oksidasi.

Syarifah S.P.

Advertisements

Hubungan Antara Kepintaran dan Kesuksesan

Posted on Updated on


Lamun maneh pinter mah maneh moal jadi supir angkot, tapi jadi pilot!

Umpatan seorang pengguna mobil pribadi yang dibuat kesal dengan tingkah angkot yang memacetkan lalu lintas dengan mengetem sembarangan, menaikkan dan menurunkan penumpang seenaknya. Tapi, apakah pernyataan tersebut benar?

221594_620
Gubernur kang emil bisa jadi supir angkot, kalo supir angkot bisa jadi gubernur?

Menurut pendapat saya ungkapan tersebut ada benarnya tapi ada salahnya juga. Benar, karena pendidikan punya porsi untuk menentukan jenjang profesi seseorang. Orang boleh terlahir dari keluarga miskin, tapi bila dia pintar, dia bisa mendapatkan beasiswa dari SD sampai kuliah. Kesempatan mengecap bangku kuliah di Universitas terkemuka terbuka lebar, lulus dengan predikat cum laude pun bukan hal yang mustahil. Ijazah dari Universitas terkemuka bisa dijadikan modal baginya untuk mendapatkan profesi impiannya atau bahkan membuka usaha baru sesuai dengan passionnya. Yang pasti bukan sopir angkot kan?

Nah, ungkapan tersebut ada poin salahnya atau tidak melulu harus pintar untuk bisa sukses. Banyak contoh publik figure yang sukses dengan pendidikan rendah, misalnya Bob Sadino (pendidikan terakhir SMA, latar belakang keluarga berkecukupan), Susi Pudjiastuti (pendidikan terakhir SMP kemudian dilanjutkan dengan mengikuti Paket C, latar belakang keluarga berkecukupan) dan masih banyak lagi.

Ada beberapa parameter yang menentukan tingkat kesuksesan seseorang, salah satunya emang faktor kepintaran/kecerdasan (IQ), tapi kombinasi dari gairah, sabar, pantang menyerah, dan ketekunan atas KECERDASAN dan BAKAT adalah hal-hal penentu sukses tidaknya seseorang.

Jadi nih, menurut Angela Duckworth, seorang profesor psikologi di University of Pennsylvania, ada dua persamaan yang menunnjukkan bagaimana kita mendapatkan bakat dari kesuksesan:

  1. Bakat x Usaha = Terampil (Skill)
  2. Skill x Usaha = Prestasi

Jadi menurut si Angela ini, potensi seseorang ada dua, yaitu kecerdasan, dan bakat. Kalo Cerdas tanpa bakat, Fail, Bakat tanpa Cerdas pun Fail juga. Bakat dikali usaha yang dilakukan maka akan menghasilkan Terampil/Skill, nah dari Skill yang dihasilkan itu harus dikali dengan usaha lagi agar menghasilkan prestasi/kesuksesan. Masuk akal kan?

Sekarang ada pertanyaan, Bakat saya apa? “da urang mah teu bisa nanaon?”

Gampang nyari tahunya, pertama, miliki dulu minat, kamu sebenarnya minat dalam hal apa/bidang apa. Kedua, kalo sudah tahu minat kalian apa, giat berlatih untuk memperdalam minat kalian tersebut. Ketiga, miliki tujuan, kamu berlatih belajar ini itu biar apa sih? untuk apa? pengen jadi apa?. Terakhir, harapan, harapan apa yang ingin dicapai kalo kalian udah berbakat dalam suatu hal? Sederhana kan. Kuncinya jangan lupa sertai setiap usaha yang kalian lakukan dengan Sabar, Pantang Menyerah, Tekun dan jangan lupa berdoa, karena usaha tanpa doa = sombong, doa tanpa usaha = sia-sia. Betul tidak? hihihi

Buat kalian yang sampai saat ini masih merasa unless, gak berguna, berpikiran negatif terus, gak bisa apa-apa. Come on, orang tamat SMP aja bisa jadi menteri kok, tamatan SMA aja bisa jadi pengusaha besar kan? peluang tetap ada, gak usah berpikiran telat atau terlambat “ah da urang mah ges kolot, sok weh nu ngarora“, menjadi pribadi yang lebih baik tidak mengenal usia mang!

Kan kata agama juga orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, orang yang rugi adalah orang yang hari ini sama aja atau lebih buruk dari hari kemarin.

Jadi, Yuk para supir angkot, tong loba ngetem sangenahna jeng naeken nurunken panumpang sangenahna, teu make rihting deuih mun rek nyisi teh, bisi loba nu ngadoaken teu bener. Doa orang teraniaya diijabah lho!

Bandung 29 November 2018

Handphone Bisa Membunuh (Mengemudi di Bawah Pengaruh Teknologi)

Posted on


Sering kita menjumpai perilaku “kampungan” yang dilakukan beberapa pengemudi kendaraan. Ada yang mengemudi dengan cara ugal-ugalan, mengambil jalur orang lain seenaknya, belok tanpa memperlihatkan tanda lampu peringatan, jarak kendaraan yang terlalu rapat, dan tindakan lain seolah-olah mereka tak peduli dengan kendaraan lain. Bukan saja mengganggu, tetapi jelas-jelas membahayakan keselamatan jiwa, baik dirinya maupun orang lain.

4
Mengemudi sambil mendengarkan atau membaca SMS di layar “handphone” sudah menjadi pemandangan yang umum kita jumpai sehari-hari. Padahal, tindakan tersebut sangat berbahaya dan mengancam keselamatan.

Bertolak belakang dengan perilaku ugal-ugalan dan kebut-kebutan, belakangan juga kita sering menjumpai sebuah kecenderungan orang mengemudikan kendaraan (mobil) mereka dalam kecepatan rendah di bawah normal. Meskipun berkecepatan rendah, namun karena di bawah normal, tetap saja berdampak sama, merugikan dan dalam beberapa hal mengancam keselamatan orang lain.

Mereka seolah-olah melaju sendirian di jalan raya dan tak perduli dengan kendaraan lain di sekitarnya. Mereka seperti tak mendengar teriakan, bentakan, atau suara klakson yang menyalak. Mereka juga seolah tak melihat sorot lampu dim berkali-kali dari mobil yang ada di belakang. Yang menjadi penyebab semua itu adalah perangkat bernama telefon genggam alias handphone.

Ya, ini memang sebuah fakta yang harus kita terima. Handphone yang bersifat mobile telah menciptakan suatu perubahan psikologi bagi para pemakainya. Sesuai karakteristiknya, handphone memungkinkan sang pengguna bisa berkomunikasi dalam kondisi mobile (bergerak), dimana saja, dan kapan saja, sepanjang masih dalam cakupan area jaringan. Oleh karena itu, setiap orang pun berusaha memanfaatkan setiap kesempatan berbicara melalui handphone, termasuk ketika ia sedang menyetir kendaraan.

Perilaku demikian -yang sebenarnya sangat buruk- sudah menjadi pemandangan umum di jalanan setiap hari. Tak hanya pengendara mobil mewah, para pengemudi taksi, sopir angkutan umum, hingga sopir truk, bahkan sudah biasa “berhandphone ria” sambil menyetir kendaraan mereka. Yang lebih gila lagi, ada beberapa pengemudi yang tergolong “berani mati”. Bukan hanya sebatas berbicara lewat handphone, sambil menyetir kendaraan, beberapa pengemudi justru membaca dan menulis SMS (short message services/layanan pesan pendek). Celakanya, perilaku buruk berkaitan dengan handphone itu juga menular ke pengendara motor.

Padahal, berbicara, membaca, atau menulis SMS lewat handphone sambil menyetir menyebabkan apa yang disebut sebagai distorsi orientasi. Fokus dan konsentrasi pengemudi tidak lagi pada laju kendaraan dan lalu-lalang kendaraan di sekitarnya. Selama menyetir, konsentrasi mereka terpecah oleh aktivitas pembicaraan atau aksi fisik berkaitan dengan handphone mereka. Tentu saja, terpecah dan hilangnya fokus pada saat berkendaraan, bukan saja menghambat kelancaran arus lalu lintas, tapi juga bisa menjadi sumber malapetaka yang mengancam keselamatan jiwa.

Reaksi lambat

Para pakar mengidentikkan perilaku mengemudi sambil menggunakan handphone sama seperti orang mengemudi sambil mabuk. Hasil penelitian terbaru memperlihatkan bahwa waktu yang dibutuhkan pengemudi yang menggunakan handphone sambil menyetir sangatlah lambat. “Jika anda mendapati seorang pengemudi berusia 20 tahun tengah mengemudi sambil berbicara lewat handphone, waktu reaksi mereka sama dengan seorang berusia 70 tahun yang nyetir tapi tidak menggunakan handphone,” kata David Strayer, profesor psikologi Universitas Utah, AS.

Strayer bersama sejumlah koleganya melakukan simulasi komputer untuk menguji sejauh mana dampak penggunaan handphone sambil menyetir terhadap arus lalu lintas dan keselamatan. Strayer secara detil mengumumkan hasil temuannya dalam suatu presentasi pada pertemuan tahunan Badan Riset Transportasi Amerika Serikat pada tanggal 16 Januari 2008.

Dalam simulasi tersebut, para partisipan berada dalam simulator yang menggunakan instrumen dashboard, roda kemudi (steer), pedal rem gas dari sedan Ford Crown Victoria. Untuk menciptakan kesan seolah-olah berada di jalan raya, partisipan dikelilingi oleh tiga layar yang berisi gambar pemandangan jalan raya dengan lalu lintasnya, termasuk gerakan mobil yang sebentar-sebentar mengerem mendadak sebanyak 32 kali yang dimunculkan di depan partisipan.

Jika partisipan gagal mengerem, mereka akan menabrak bagian belakang mobil yang ada di depannya. Tiap partisipan menjalani empat simulasi dengan jarak tempuh 10 mil perjalanan di jalan tol selama 10 menit. Mereka juga diharuskan berbicara menggunakan handphone dengan pembantu peneliti selama setengah perjalanan dan mengemudi tanpa bicara dengan handphone pada setengah lainnya. Pembicaraan menggunakan perangkat handsfree.

Dari hasil studi Strayer terlihat, pengemudi yang berbicara menggunakan handphonenya selama menyetir, waktunya 18 persen lebih lambat untuk mengerem. Selain itu, waktu mereka juga 17 persen lebih lama untuk memulai kembali melajukan kecepatan mobilnya pasca pengereman. Itu jelas menghalangi dan mengganggu orang lain.

“Begitu pengemudi yang berbicara lewat handphone itu mengerem mobilnya, ia butuh waktu lebih lama untuk kembali ke kecepatan yang normal,” kata Strayer. “Hasil bersihnya, mereka merintangi dan mengganggu arus lalu lintas secara keseluruhan.”

“Jika anda bicara menggunakan handphone selama berkendaraan, itu akan menjadikan perjalanan anda lebih jauh, karena kecepatan kendaraan anda lebih rendah. Akibatnya, orang lain yang ada di jalan juga jadi telat.” kata Joel Cooper, mahasiswa doktoral bidang psikologi di Universitas Utah yang membantu studi tim Strayer.

“Handsfree” bukan jaminan

Memang, ada anjuran agar kita menggunakan perangkat handsfree jika ingin aman dan selamat saat berbicara menggunakan handphone selama menyetir. Handsfree dinilai sebagai salah satu solusi mujarab karena pengguna tidak lagi harus memegang handphone, melihat display nomor siapa yang masuk, lalu menempelkannya di telinga ketika berbicara. Begitu nada panggil berbunyi, pengguna cukup mengklik satu kali tombol di handsfree dan setelah itu bisa berbicara sambil menyetir dengan dua tangan.

Namun, persoalannya tidak sesederhana yang dilihat. Memang betul, dengan menggunakan fasilitas handsfree, pengemudi tidak harus menggunakan satu tangan untuk memegang handphone, sementara tangan lain menyetir. Yang jadi sumber masalah, lambatnya reaksi pengemudi terhadap setiap perubahan selama menyetir bukan lantaran adanya “gangguan” gerak semata seperti halnya mengangkat handphone. Akan tetapi, gangguan bisa dalam bentuk lain. Hal ini terbukti lewat hasil penelitian Jonathan Levy.

Levy, psikolog dari Universitas California, San Diego, AS, melakukan penelitian yang mirip dengan yang dilakukan David Strayer. Ia melibatkan 40 orang mahasiswa dan menggunakan simulator berupa setir, pedal gas, dan rem, serta layar plasma di sekeliling mereka. Para mahasiswa itu dikondisikan seolah-olah sedang menyetir mobil dan mengikuti mobil yang ada di depannya.

Pada sesi pertama, mereka diharuskan menyetir saja, tanpa melakukan pekerjaan apa pun, lalu diberitahu untuk mengerem secepat mungkin begitu lampu rem mobil di depannya menyala. Pada sesi kedua, sambil menyetir para mahasiswa itu diharuskan melakukan pekerjaan lain yang sifatnya sederhana, seperti menekan-nekan tombol yang ada di setir atau mengucapkan kata-kata secara nyaring saat lampu rem mobil di depannya menyala. Saat itu, kecepatan reaksi mereka untuk mengerem dicatat.

Ternyata, kecepatan reaksi pada sesi kedua 174 milidetik lebih lambat dari kecepatan reaksi mahasiswa pada sesi pertama yang mencapai 350 milidetik. Setelah dihitung, keterlambatan selama 174 milidetik itu sama dengan jarak 16 kaki atau 5 meter lebih pada kecepatan mobil 65 mph.

Poin penting dari penelitian Levy adalah konsentrasi dan fokus orang yang sedang menyetir bisa terganggu oleh adanya satu input, baik berupa suara (didengar) atau dalam bentuk visual (dilihat), baik respons vokal maupun manual. “Hasil penelitian ini memperlihatkan, tangan yang bebas (karena tidak memegang handphone) tidak menghasilkan reaksi berupa waktu mengerem yang lebih cepat. Otak manusia berusaha untuk melihat dan mendengar pada waktu yang bersamaan,” kata Levy.

T.A. Taufik S.T.

Kopi Tak Seburuk Yang Dikira

Posted on


Karena dianggap tak baik bagi kesehatan, sebagian orang menolak minum kopi. Sementara itu, sebagian yang lain – karena tak bisa menahan diri – tetap minum kopi, meski dibayang-bayangi kekhawatiran akan reputasi buruk kopi sebagai minuman yang dapat menyebabkan tekanan darah meninggi, perasaan gelisah, tangan gemetar, jantung berdebar kencang, otot menegang, kadar kolesterol meningkat, membantu terjadi penyumbatan arteri, sembelit dan diare.

3
Biji kopi yang sudah digoreng

Kurangi risiko penyakit

Kopi tak seburuk yang dikira. Dalam beberapa dekade terakhir ada ribuan penelitian mengenai pengaruh kopi terhadap kesehatan. Sebagian besar hasilnya akan membuat gembira mereka yang rutin minum kopi karena sisi baik kopi lebih banyak dibanding sisi buruknya. Sejumlah besar bukti ilmiah menunjukkan bahwa minum kopi secara moderat atau tak berlebihan (sebagian menyatakan bahwa yang moderat itu adalah sekitar 3-5 cangkir per hari, sebagian yang lain 2 cangkir per hari), dapat mengurangi risiko beberapa jenis penyakit.

Pertama, mengurangi risiko diabetes tipe 2. Kebiasaan minum lima cangkir kopi atau lebih per hari dapat memperbaiki pengaturan dan toleransi glukosa dan secara substansial menurunkan risiko diabetes tipe 2 (35-75 persen) pada berbagai populasi di Amerika Serikat, Eropa dan Jepang. Kopi kaya akan zat-zat antioksidan seperti quinine, lignan, asam klorogenat, tokoferol dan mineral seperti magnesium yang dapat meningkatkan sensitivitas insulin sehingga memperbaiki respon tubuh terhadap insulin dan metabolisme glukosa. Baik kopi yang mengandung kafein ataupun yang decaffeinated (kafeinnya telah dihilangkan) memiliki efek yang sama.

Kedua, mengurangi risiko kanker. Salah satu hal yang menarik adalah kemungkinan peranan senyawaan dalam kopi sebagai pelindung dari kanker. Senyawa-senyawa tersebut adalah zat antioksidan polifenolat (derivatif asam klorogenat) dan antioksidan yang dihasilkan melalui pemanasan (hasil reaksi Maillard, termasuk senyawa heterosiklik volatil dan polimer melanoidin cokelat). Penelitian menunjukkan, dibanding tidak minum kopi, konsumsi sedikitnya dua cangkir kopi per hari sama dengan menurunkan risiko kanker usus sebanyak 25 persen. Penelitian juga menunjukkan peminum kopi memiliki kemungkinan terkena kanker liver 50 persen lebih rendah dibanding bukan peminum kopi.

Ketiga, mengurangi risiko penyakit liver. Minum sedikitnya dua cangkir kopi per hari sama dengan penurunan risiko terkena sirosis hati sebesar 80 persen. Perokok dan peminum berat yang mengonsumsi sejumlah besar kopi secara rutin memiliki kemungkinan lebih rendah terkena penyakit jantung dan kerusakan hati dibanding perokok dan peminum yang tidak minum kopi.

Keempat, mengurangi risiko penyakit kardiovaskuler. Beberapa penelitian menunjukkan adanya peningkatan risiko penyakit jantung koroner pada orang-orang yang minum kopi dalam jumlah yang sangat besar dibanding pada orang-orang yang minum kopi dalam jumlah yang moderat atau kecil.

Minum kopi dapat meningkatkan atau sebaliknya menurunkan risiko penyakit kardiovaskuler tergantung pada interaksinya dengan kondisi lain seperti stres dan kondisi kesehatan seseorang. Sementara sebuah penelitian komprehensif selama 20 tahun pada sekitar 130.000 pria dan wanita yang tak memiliki penyakit jantung atau kanker tidak menunjukkan adanya bukti apa pun bahwa konsumsi kopi meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.

Kelima, mengurangi risiko penyakit parkinson. Penelitian epidemiologis menunjukkan hubungan yang kuat antara efek neuroprotektif dari kafein dan pengurangan risiko terjadinya parkinson. Beberapa penelitian dalam neurofarmakologi menunjukkan, hanya satu cangkir kopi per hari (sama dengan 80-140 mg kafein) dapat menurunkan risiko parkinson sampai setengahnya. Pada kenyataannya, obat untuk parkinson yang sedang dikembangkan saat ini mengandung derivatif kafein.

Kandungan kafein

Manfaat kopi muncul berkat kandungan kafeinnya yang tinggi (kafein juga terkandung dalam teh, coklat dan soft drink seperti cola). Kafein membantu dalam perawatan asma dan sakit kepala. Kafein juga merupakan pembantu yang kuat untuk meningkatkan daya tahan dan performa atlet. Begitu kuatnya sehingga kafein dalam kopi atau dalam bentuk lainnya dianggap oleh Komite Olimpiade sebagai substansi yang harus diawasi.

Minum kopi juga dapat meningkatkan kesiagaan mental, fungsi kognitif, mengurasi risiko penyakit alzheimer, batu ginjal, batu empedu, dan depresi. Senyawa trigonelin yang memberikan rasa pahit dan aroma khas pada kopi memiliki sifat antibakteri dan antiadesif yang dapat membantu mencegah pembentukan lubang pada gigi.

Meski memiliki banyak manfaat, masih disarankan untuk membatasi atau menghindari minum kopi bagi pasien penyakit jantung, yang memiliki risiko osteoporosis dan ibu hamil. Juga, bagi orang-orang yang memiliki sejarah dan kondisi medis tertentu, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum memutuskan untuk menjadi peminum kopi.

Kopi adalah minuman dengan kandungan kimia yang kompleks. Dalam satu cangkir kopi terdapat sekira 800 senyawa aromatik. Penelitian-penelitian masih terus dilakukan untuk mengetahui lebih banyak mengenai efek kopi terhadap kesehatan manusia.

Ahmad Taufik S.P.

Tafakur Bersama Ubur-ubur

Posted on


Lautan memang menyimpan banyak misteri yang menantang manusia. Di kedalaman air yang senyap, terdapat kehidupan yang bukan saja unik, aneh dan mengerikan, tetapi juga menawarkan pesona yang menakjubkan. Rahasia dan pesona lautan dengan segala makhluk hidupnya di dalamnya, hanya sebagian kecil saja yang sudah diketahui manusia. Informasi yang tergalinya pun masih terbatas. Sisanya, manusia masih buta dan butuh waktu lama untuk menguaknya.

2
Ubur-ubur kotak atau the box jellyfish adalah jenis ubur-ubur yang memiliki racun paling mematikan di dunia. Racun yang dimiliki ubur-ubur kotak merupakan salah satu keajaiban makhluk yang 95 persen tubuhnya terdiri dari air ini.

Salah satu fenomena menakjubkan dalam lautan adalah ubur-ubur. Mengapa ubur-ubur istimewa? Cobalah amati secara cermat makhluk transparan ini.

Hampir 95 persen tubuh ubur-ubur tersusun oleh air dan tidak bertulang belakang (invertebrata). Meski demikian, makhluk tembus pandang dan bertentakel yang menjuntai dari bagian bawah tubuhnya ini punya banyak keistimewaan yang kadang bisa mengejutkan manusia.

Ubur-ubur dapat hidup di hampir segala iklim, dan sebagian besar berbahaya bagi makhluk lainnya. Pada beberapa spesies, ada cairan beracun di dalam tentakelnya. Ubur-ubur menangkap mangsanya dengan cara menyemprotkan racun ini dan membunuh musuh-musuhnya. Sebagian jenis ubur-ubur membuat bingung musuh-musuhnya dengan memancarkan cahaya, sementara sebagian yang lain menghasilkan racun mematikan di dalam tubuhnya.

Bahkan, ada satu jenis ubur-ubur, yakni ubur-ubur kotak atau the box jellyfish yang mampu menghasilkan racun paling mematikan di dunia. Racunnya mengandung toksin yang menyerang jantung, sistem syaraf, dan sel-sel kulit. Selain mematikan, sengatan dari tentakel ubur-ubur kotak juga menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.

Manusia yang terkena bisa tenggelam karena tubuhnya mengalami shock, bahkan sebelum dia jantungnya terkena efek dari racun. Umumnya korban meninggal hanya dalam beberapa menit setelah terkena tentakel ubur-ubur ini. Korban yang selamat dari sengatan sangatlah jarang dan walaupun selamat, rasa sakit dan luka dari sengatan bisa bertahan sampai berminggu-minggu.

Ubur-ubur kotak memiiki lebar tubuh sekitar 25 cm dan berat tubuh bisa mencapai 2 kilogram. Disebut ubur-ubur kubus karena bentuknya seperti kubus. Dari tiap sudut kubus tubuhnya keluar sekitar 15 tentakel dan panjangnya bisa mencapai tiga meter. Tiap tentakel bisa memiliki 5.000 sengat. Ubur-ubur kotak hidup bebas di lepas pantai Australia timur dan perairan Indo-Pasifik.

Keberadaan racun mematikan pada ubur-ubur adalah bagian dari skenario atau rancangan besar makhluk tersebut dalam upayanya mempertahankan diri. Lantas, bagaimana dengan ubur-ubur yang tak punya racun? Apakah mereka jadi lemah karena tidak punya alat pertahanan diri sehingga mudah diserang musuh atau predator?

Tentu saja ubur-ubur yang tak punya racun bukan berarti mereka tak bisa mempertahankan diri. Inilah salah satu keunikan dan keajaiban ubur-ubur. Sebagian diantara ubur-ubur mampu mempertahankan diri dengan cara menghasilkan cahaya. Tindakan ubur-ubur dalam mempertahankan dan menyelamatkan diri sungguh terencana. Ketika berenang melarikan diri dari musuh-musuhnya, seluruh tubuh ubur-ubur memancarkan cahaya. Biasanya, musuh ubur-ubur adalah kura-kura, burung laut, dan ikan paus.

Akan tetapi, saat musuh mencoba menggigitnya, cahaya di bagian tubuh yang berbentuk lonceng pun padam dan tentakel yang masih bercahaya dilepaskan dari tubuhnya. Dengan cara ini, musuh-musuh mereka mengalihkan perhatian pada tentakel tersebut. Ubur-ubur mengambil keuntungan dari situasi ini dan segera melarikan diri.

Ubur-ubur serdadu perang Portugis memiliki organ yang mirip layar berwarna biru tua yang muncul sampai 20 cm (8 inci) dari permukaan laut. Organ inilah yang memungkinkan hewan berenang dan bergerak. Pada tentakelnya yang berbentuk spiral ada kapsul yang mengandung racun yang menyebabkan kelumpuhan.

Semua keistimewaan ubur-ubur ini menarik perhatian. Bagaimana mungkin makhluk yang hampir seluruhnya terdiri dari air ini, yang layu dan mati segera bila terkena matahari, menghasilkan zat-zat kimia? Dan bagaimana makhluk ini dapat mengembangkan taktik untuk membingungkan musuh-musuhnya?

Ubur-ubur tidak memiliki mata untuk melihat mangsa dan musuhnya, tidak pula memiliki otak. Makhluk ini hanya berupa massa air seperti agar-agar. Walaupun demikian, dia menjalankan tingkah laku berakal seperti berburu dengan menggunakan berbagai taktik dan meloloskan diri dari musuh-musuhnya.

Bila kita meneliti setiap potong informasi tentang ubur-ubur dari sudut pandang ini, kita mutlak sampai pada kesimpulan yang sangat penting dan memperluas cakrawala kita. Seseorang yang merenungi dan menafakuri ubur-ubur, serta keistimewaan dan tindakannya, akan memahami bahwa Tuhan telah menciptakan makhluknya dengan segala kesempurnaan. Tugas kita sebagai manusia adalah menafakuri setiap detail penciptaan Sang Khalik, sekaligus mengambil pelajaran dan manfaat darinya.

harunyahya.com/Nationalgeographic/