Quarterlife Crisis: Equlibration Phase

Posted on


Sekitar seminggu yang lalu, salah satu kolega saya (ceileh kolega -_-) yang kerja di Jakarta pulang ke Bandung. Kami ketemuan sambil ngobrol-ngobrol. Seperti biasa, obrolan kami tersebut berkembang ke mana-mana, layaknya obrolan ringan warung kopi.

Di salah satu episode obrolan kami hari itu, dia  ngebahas tentang Quarter life crisis. Dari apa yang saya lihat, Dia seperti sedang berada di masa itu dan tampak lumayan galau. Dia mulai mempertanyakan tepat atau enggaknya pilihan dia, gelisah sama achievement, dan banyak dinilai sekaligus dituntut sama orang-orang di sekitar. Saya dengerin aja ceritanya dan bukannya apa-apa, Ngedenger cerita dia bikin saya ngerasa mundur beberapa taun. Been there.

 

Saya jadi inget. Taun 2009-2010 adalah taun-taun yang nggak gampang buat saya. saya mulai mempertanyakan pilihan saya sendiri. Realistis dan nggak realistis jadi isu baru di kehidupan pribadi. Achievement jadi sesuatu yang rasanya harus cepet-cepet diraih biar ngerasa aman. saya sering khawatir, takut salah ngelangkah, dan jadi sensitif kalo orang ngomong soal pencapaian. Sebenernya jauh di dalem hati, saya tau kok apa yang saya mau. Tapi keinginan itu sempet ketimbun di bawah standard yang berlaku umum, dan komentar-komentar orang tentang ini-itu. saya inget, di masa itu saya banyak denial, ngerasa bersalah entah sama siapa, dan kering keyakinan diri.

Tapi pada suatu ketika, karena perasaannya udah terlalu nggak enak dan nggak tau musti gimana lagi, saya nutup telinga rapet-rapet dari omongan di luar, supaya bisa ngedenger ke dalem diri sendiri secara lebih jelas. Hanya perlu inget aja satu hal:

 

Risiko bertumbuh adalah jembatan tak terlalu panjang menuju dataran baru. Ia bergoyang-goyang memintas jurang. And you affraid.


… but all you have to do just walk through the path

karena risiko tidak bertumbuh adalah ditinggal lari. Bahkan oleh dirimu sendiri.

 

Akhirnya kita pasti akan dihadapkan pada suatu keharusan: ngelakuin apa yang kamu mau dengan cara yang kamu yakinin aja. Kamu musti kenalin passion kamu sebaik-baiknya dan kamu ikutin drive-nya. Ketika kamu nutup telinga serapet-rapetnya dari kata-kata orang, achievement nggak lagi jadi hantu. Passion itu tulus. Dia  bensin yang nggak akan pernah ada abisnya. Apa yang kita kerjain dengan passionate nggak butuh alesan apa-apa di luar itu. Kita bisa produktif tanpa itungan, beraktifitas tanpa batesan, dan selalu mempersembahkan yang terbaik tanpa bersyarat. Kebahagiaan kita ketika ngejalaninnya juga ngebawa pengaruh baik buat orang lain maupun diri kita sendiri. Achievement dan penghasilan mengikuti. Tapi cuma sebagai bonus, bukan lagi tujuan.

 

Kalo kamu bisa lakuin itu semua, Kamu bakal bisa ngukur perasaan kamu sendiri. nggak lagi nutup telinga secara ekstrim, dan nggak bakal gampang digoyahin. Quarter life crisis kamu udah lewat. Apapun kemungiknan yang bakal terjadi di depan nanti, kamu bakal ngerasa jejek dan taken for granted sama apa yang kamu tapakin saat ini.

 

Ada satu point penting yang bakal kamu dapet kalo berhasil melewati quarter life crisis.

 

“Passion is something you’re in love with, not something you’re just adjust with”

 

Nggak percaya?

 

ya emang, Jangan, entar MUSYRIK!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s