Unspoken ‘Goodbye’

Posted on


Akhirnya waktuku habis juga. Habis kugunakan untuk mencari tahu siapa yang menanti dan siapa yang ternanti. Penantian yang sekarang telah menemukan pantainya. Muara dari segala hari yang telah sirna. Hari yang sudah kukira-kira sejak lama, kubayangkan dan khayalkan seperti apa jadinya jika ia datang dan menampakkan rupa. Tepat didepanku mencoba menggoda menawarkan kecewa serta bahagia. Apakah bahagiaku akan membuncah? Hingga kupamerkan senyum ke segala arah? Atau malah terselip sebongkah kesedihan yang mampu membuat air mata rahasiaku jatuh? Menyesali tiap tetesnya yang buatku lelah dan luluh?

Dan hari ini, ia memenuhi janji untuk datang padaku. Tepat setelah tahun baru dan sebelum sebuah band unjuk Gigi di 11 januari. Aku bingung memilih wajah berbentuk apa untuk menyambut. Aku memang paling tak bisa jika harus ramah tamah dan berlemah lembut. Di satu sisi, menunggunya adalah saat paling menyebalkan. Terlebih bila aku sendiri tak tahu sampai kapan harus menunggu. Tapi dengan menunggunya, aku bisa menunjukkan kesabaran yang tak pernah kumiliki. Juga keteguhan yang tak pernah kusadari. Sebaliknya, saat ia datang adalah tentang meninggalkan dan merindukan. Perpisahan setelah pertemuan. Ia akan menjadi kenangan. Serta air mata. Karena kurasa, kenangan lebih sering menyakitkan.

Ah, aku akan merindukan kalian, sahabat-sahabat terbaik, musuh-musuh termanis. Kumohon jangan bersedih karena merah matamu akan membuatku berfikir mengulangi langkah. Menengok ke belakang hanya untuk memastikan apa aku telah salah melangkah. Sebelum aku beranjak, kita akan saling memeluk dan berbagi keluhan yang terlalu vulgar untuk disampaikan pada si penyebab. Mungkin keadaan, mungkin waktu, atau mungkin Aku. Tetapi keluhan datangnya dari dalam diri, bukan hal di luarnya, kan? Ya, ini memang pilihanku, bukan keadaan yang mengharuskan ataupun waktu yang memaksa. Kawan, semoga kita terus mengenang tawa renyah saat jam istirahat dan makan siang datang. Menyuap nasi berlauk tahu, tempe juga tawa. Tawa yang semakin membahana saat hari Jumat tiba namun meredup di Senin pagi. Pemimpin hari yang paling bisa merubah semangat menjadi emosi. Rasa kantuk dan mood buruk menguasai. Moccacino panas tak mempan mengobati. Wajah ditekuk, tuts keyboard ditekan berlebihan, telinga disumpal earphone dengan musik volume maksimal. Mengoceh sendirian ketika perjalanan pulang. Kita tak mau berdamai tapi terlalu takut menghancurkan barang-barang, dan membayangkan Surat Peringatan. Maka kita memilih mengisolasi diri. Dan mengumpat dalam hati.

Aku juga akan rindu kamu, dinding beku. Teman terbaik dari yang baik. Tempat bersandar terluas dari yang luas. Aku tak begitu paham bahasamu. Tapi aku bisa mengerti dari diammu. Aku merasa kamu tak mau aku pergi namun senang akhirnya aku berani mengambil keputusan. Dan kuyakin kamu cukup kuat untuk menerima keputusanku itu. Tubuhmu adalah beberapa lapis kayu pilihan mahal yang tak bisa berbuat apa-apa ketika seseorang mengepal tinju atau membisikkan kata-kata kotor. Dan tak pernah kau balas. Kamu juga tak bergeming ketika seseorang menangis tertahan  di hadapanmu. Kamu hanya ingin berbagi bahu dan menyarankannya menangis sekuatnya.

Aku akan merindukanmu, dinding berdebu. Di saat mereka membuatku merasa tak berguna, kamu selalu ada memasang telinga dengan hati-hati. Memasang mata meski buta, memasang mulut meski bisu. Tanpa pernah balas mengoceh menyalahkanku. Entah mengapa mereka kerap memfitnahmu. Katanya dinding punya telinga, jangan bicara aneh-aneh di sini, pasti akan tersebar ke seluruh penjuru. Kamu memang punya ribuan telinga kecil yang awas namun mereka lupa satu hal, tak satupun mulut tajam berbisa yang kamu miliki.

Cerialah, aku sesekali mungkin akan mengunjungimu. Memastikan apakah mereka memolesimu cat dinding terbaru dengan rapi. Dan memastikan apakah mereka memperlakukanmu dengan baik. Sehingga kamu tidak mengambil keputusan yang sama sepertiku. Tak mengikuti jejakku. Nanti akan kubawakan stiker bunga matahari kesukaanmu. Walaupun aku lebih suka stiker panda dengan beberapa giginya yang tajam semacam drakula. Ya, lesung pipimu terlihat jelas saat kutempeli stiker itu sekali waktu, sayang kau tak suka.

Bergembiralah, tidak semua orang akan menyumpah serapah di depanmu atau menempeli permen karet bekas di badanmu. Mungkin suatu saat nanti mereka berani meludah di depan orang yang memang ingin mereka ludahi, bukan ke wajahmu lagi. Memukul orang yang memang ingin mereka pukul, bukan memukulimu lagi. Mungkin suatu saat nanti kita akan berhenti berpura-pura. Mereka juga. Semoga.

Kawan, akhirnya kuucapkan ‘sampai jumpa lagi’ karena firasatku mengatakan suatu hari nanti kita akan berjodoh lagi. Bertemu di suatu masa datang yang belum ditentukan sekedar untuk berbagi kenangan yang sama dan cerita setelahnya. Kamu tahu kan  betapa firasatku terlalu sering benar?

 

Bekasi
02.45 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s