You Are Right!

Posted on Updated on


Kadang. Kumohon dicatat bila kamu membacanya. Ya, hanya terkadang. Aku merasa merindukanmu. Hmm.. bagaimana mendeskripsikannya, susah diungkapkan. Begini, rindu, seperti ingin melihat. Ingin berbicara. Ya, mungkin sedikit ingin menyentuh, merasakan lagi goresan telapak tangan mu yang kutau tak tertulis namaku di garis tanganmu itu. Walaupun tak bijak rasanya menyamakan garis tangan dengan garis takdir. Tapi keadaan memaksaku menyerah. Menyerah setelah melihatmu menyerah lebih dulu. Melihatmu tertawa bersamanya lalu pergi kesebuah restoran sederhana dan sedikit makan siang disana. Ya, aku serius. Hanya sedikit rindu yang semacam itu. Rindu menemanimu makan siang bersama seperti dulu.

Bukan rindu ingin memeluk atau bermesraan. Tidak. Bukan yang seperti itu. itu masih kulit terluarnya rindu. Rindu yang bisa terpuaskan kontak fisik bukanlah sebenar-benarnya rindu. Seperti yang mbah Sudjiwo Tedjo bilang “Puncak rindu yang paling dahsyat itu ketika dua orang tidak saling menelpon, SMS, BBM dan lain-lain tetapi keduanya diam-diam saling mendoakan”. Ya walaupun akhirnya sekarang kutau kesalahan kita adalah tak pernah saling mengamini.

Tapi kemudian untuk beberapa saat aku tersenyum. Sungguh hanya tersenyum. Mungkin satu sampai lima detik saja. Lalu senyum itu langsung berhenti. Pipi yang mengembang seketika seolah mati. Ketikan jari di keyboard pun tiba-tiba terhenti. Aku tak tau harus bagaimana sesudahnya. Seperti seseorang yang terkena jetlag selepas turun dari pesawat. Bingung.

Mungkin sebaiknya aku benar-benar melupakanmu. Tapi adalah hal yang mustahil melupakan satu saja episode hidup bersamamu. Karena semuanya telah melekat kuat di lobus temporal otakku yang tak sengaja terrubah oleh hippocampus menjadi sebuah memori permanen, begitu kalau aku tidak salah belajar. Dan itu bukan tentangmu saja, tapi tentang semua orang dan semua hal. Aku bukan pelupa.

Lalu mau kuapakan ingatan ini? Apa harus kusimpan, kumasukkan dalam kotak hitam yang kuberi nama Pandora lalu kuikat dengan tali? Talinya putih dan tidak akan terlalu erat karena, ya, mungkin di suatu siang yang panas dan membosankan selepas aku membersihkan debu di kipas angin kamarku aku ingin melongok ke dalamnya. Untuk sekedar mengecek tentu saja. Sungguh.

Atau mungkin ingatan ini sama sekali tak kuperlukan. Hanya membebani saja.  Ah, tapi kenapa aku menikmati sedikit kesedihan yang ditinggalkannya. Aku menyukainya. Sometimes, feel sad is good. Tanpanya aku tak akan merasa sesemangat ini memainkan pulpen di jari dan menuliskan sepatah dua patah kata sampai akhirnya terangkai kalimat yang akan menjembataniku untuk bercerita tentangmu. Ya, siapa lagi.

Melihat foto-fotomu yang telah bisa tersenyum bahagia tanpa aku, tiba-tiba ada semacam zat aneh mengaliri pembuluh darahku. Bukan darah. Tapi sesuatu yang tak bisa kujelaskan. Aku merasa ini tidak benar. Kamu tak seharusnya begitu. Seharusnya hanya aku yang bisa membuatmu tersenyum seperti itu. Seharusnya hanya aku yang bisa membuatmu bersemangat seperti itu. Seharusnya hanya aku yang bisa.

Ah, sudahlah, waktu tak pernah termangu. Apalagi menunggu seorang pengeluh ulung mendapati cerianya. Ia akan mengubah apa saja yang kelihatannya tak mungkin berubah. Sekuat apapun kau mencoba mempertahankannya. Tanpa peringatan, tanpa pemberitahuan. Yang kau bisa hanya bersiap menerima kehilangan. Kapanpun itu.

Mungkin memang sebaiknya begitu. Aku harus mengunci rapat-rapat ingatan itu. Tak lagi berusaha melihatnya, apalagi mengulangnya. Kamu dan aku akan tetap tersenyum pada fajar yang sama, senja yang sama, juga bulan yang sama. Meski tak lagi saling bertatapan dan berpegangan. Kita akan tetap saling merindukan. Walaupun kita tak akan pernah tau apa yang sebenarnya kita rindukan, orangnya? Ataukah kenangannya?

As long as life I never agree with your opinion, too many difference of us. But when you always thought of your name first when I ask you to think about the simple beautiful things in the world, well I think you are right!

09:40 PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s