Hanya Mimpi

Posted on


Kuawali pagi dengan kewajiban yang paling awal dari lima kewajiban yang harus dilakukan, kuakhiri kewajiban itu dengan sebuah usaha, usaha mengajarkan sesuatu yang tak bisa menaikkan dirinya sendiri, tak bisa memanjat sendiri, tanpa tangga, tanpa tali atau apapun untuk membantunya ke atas. Sesuatu yang kupanjatkan berupa doa. Doa yang terselipi nama dari rentetan harap untuknya. Hanya untuknya. Untuk nama orang yang sekarang tak ada di dekatku. Sebuah rutinitas yang sama hampir selama empat tahun.

Sekarang, kuakhiri senja dengan semua pengulangan yang sama seperti saat aku mengawali pagi. Tapi ada beberapa yang berbeda. Kali ini aku berdoa untuk nama orang yang sekarang sedang berbaring di sampingku. Juga sebuah harap baru bagiku, bukan bagimu. Ya, aku berharap ini akan menjadi rutinitasku yang baru, untuk hari ini dan seterusnya.

Hmm. Itu hanya mimpi, tapi aku pikir tak ada salahnya juga mengamini sebuah mimpi. Mimpi yang bahkan saat aku belum sempat terlelap tidur.

Mimpiku yang sama sekali jauh dari mimpimu sekarang, mimpimu yang kuyakin tak kau lihat apapun disana, hanya suara, suara debar dada dan degup jantung yang berirama teratur. Seteratur nafasmu saat tidur pulas meski hanya berbantal dada.

 

04:14 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s