Tawa Setan di Neraka

Posted on Updated on


Malam hari. Waktu dimana logika desa tak bekerja di kota. Waktu dimana bisa kulihat bulan sabit tersenyum saat kumiringkan kepala. Waktu dimana aku bisa bebas telanjang dada, dan memamerkan otot hasil tempaan balsam geliga juga panasnya Jakarta. Kota yang tak ramah dengan kicauan burung, hanya deru mesin kendaraan yang meraung, derap langkah manusia-manusia dengan dada membusung dan harapan para penarik bajay yang membumbung. Walaupun hanya setinggi atap yang bisa ia tatap.

Tak ada AC di kontrakan, hanya kipas angin berdebu yang digantung di dinding, yang aku yakin orang yang memasang kipas itu sudah tak bisa merasakan lagi hembusan angin, hanya himpitan tanah, dengan arwah di antah berantah. Kumatikan kipas itu. Duduk. Diam. Memangku kaki layaknya bayi. Memeluk lutut dan menaruhnya persis lima senti dibawah mulut.

Kututup mata. Mencoba merasakan panasnya udara. Udara yang kuhirup dan kuhembuskan secara bergantian, hampir selama dua puluh lima tahun tanpa jeda. Udara yang pita suaraku olah menjadi nada, bicara, kata. Dan mungkin itu juga adalah udara yang telingamu dengar berupa dusta.

Kurasakan keringat yang mulai mengucur menjalari dada, juga kepala. Bagaimana dengan ketiak? Tak kalah banyak. Kubayangkan panasnya gurun Sahara, juga Neraka. Kubayangkan kepalaku terbenam di tempat bernama Jahanam. Seketika kubuka mata dan kuahiri menduduki bumi, bangkit dan mulai kupijak lagi dia.

“Aku belum sholat isya”.

04 Oktober 2013

20:22

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s