Memilih Pemimpin Alternatif

Posted on


Kasak-kusuk kepemimpinan nasional sudah mulai panas dibicarakan kendati perhelatan politik 2014 masih cukup jauh. Partai politik sibuk melakukan pendekatan dan mencari dukungan, juga mulai melakukan penghitungan bagaimana menata kepemimpinan nasional mendatang.

Namun, sebetulnya, pemimpin seperti apa yang diidamkan oleh rakyat indonesia saat ini? Dalam beberapa survei terakhir oleh lembaga-lembaga survei nasional dapat ditunjukkan bahwa rakyat memiliki kecenderungan memilih pemimpin alternatif. Mereka juga menunjukkan kecenderungan untuk memilih pemimpin, bukan karena faktor mereka berasal dari partai apa. Namun, lebih karena figur seseorang dan bukti kedekatan dengan rakyatlah yang menjadi faktor penentu mereka menentukan pemimpin pilihan.

Dalam konteks capres, pada survei Nasional CSIS April 2013, misalnya, dinyatakan bahwa partai yang memperlihatkan tingkat dukungan yang cukup solid dan mengindikasikan bahwa partai ini memiliki jaringan mesin partai yang solid di berbagai daerah, tetapi tingkat dukungan kepada capres partai tersebut justru tidak sama kuatnya.

Dalam beberapa survei terakhir dapat diketahui bahwa partai politik yang kadernya banyak terjerat korupsi juga mengalami penurunan dukungan. Hal ini menjadi pertanda bahwa rakyat semakin kritis dalam menentukan pilihan. Bahkan, walaupun partai tersebut sudah membangun citra diri yang baik sekalipun, publik tidak bisa menerima kebohongan dalam sebuah citra.

Pemimpin Alternatif

Masa reformasi indonesia belum menghasilkan pemimpin autentik dan berkeutamaan yang mampu membawa menuju gerbang perubahan sesungguhnya. Seorang pemimpin yang sanggup berempati secara mendalam dengan kemauan rakyatnya. Indonesia membutuhkan pemimpin yang sungguh-sungguh berperan sebagai leader, bukan dealer. Pemimpin yang memiliki karakter tranformasional daripada melulu transaksional.

Masih terlalu sedikit contoh untuk pola kepemimpinan impian yang dibutuhkan negeri ini. Justru yang banyak adalah mereka yang memimpin dengan kecenderungan dealer layaknya seorang pebisnis. Barter kepentingan dalam dunia politik dan ekonomi justru seringkali melahirkan kebijakan-kebijakan yang menyakitkan. Sebab, tak jarang di dalamnya mengendap kepentingan  yang bersifat pribadi dan golongan daripada kepentingan kemakmuran rakyat semesta.

Karakter kepemimpinan justru banyak diwarnai politik barter. Seperti halnya yang terjadi di masa orde baru, pemimpin menilai kelanggengan kekuasaannya sebagai hal yang utama daripada visi memajukan indonesia sebagai bangsa.

Karena demikian, pola bekerja para pemimpin kita lebih cenderung pada upaya pengamanan kursi kekuasaan daripada menggunakan kekuasaan sebagai alat untuk memajukan negeri. Para pemimpin tidak menegakkan harga diri bangsa dalam tindakan-tindakan kepemimpinannya. Justru kita semakin kehilangan kepercayaan diri sebagai bangsa.

Menjadi pemimpin adalah  panggilan. Berpolitik juga merupakan panggilan untuk menyejahterakan masyarakat. Namun, partai politik kita justru gagal menciptakan situasi kondusif untuk kesejahteraan rakyat. Partai politik gagal menata keadaban politiknya dan memberikan pelayanan terbaik untuk rakyat.

Kini saatnya partai melakukan perubahan mendasar dalam dirinya agar ia kembali diterima. Partai politik diharapkan lebih aktif untuk mencari figur pemimpin yang memiliki keutamaan. Pemimpin yang memiliki keutamaan akan melayani rakyatnya karena itu merupakan panggilan nurani. Kita membutuhkan pemimpin yang tulus mengabdi untuk kesejahteraan bangsa ini. Pemimpin yang betul-betul memperhatikan nasib masa depan bangsa, bukan nasib dirinya sendiri.

Rawan angka golput

Partai-partai besar ada yang mengalami kenaikan, ada pula yang mengalami penurunan cukup drastis. Di sisi lain, ada kenaikan dukungan yang diperoleh oleh partai-partai menengah. Intinya bila partai-partai saat ini tidak bekerja lebih keras, perubahan politik yang cukup fenomenal akan terjadi pada Pemilu 2014. Itu terjadi karena hingga saat ini angka undecided voters masih sangat tinggi.

Angka undecided voters dan golput masih relatif tinggi. Survei Nasional CSIS April 2013 menemukan bahwa kemungkinan salah satu penyebab utamanya adalah hubungan yang lemah antara konstituen dan partai politik/politisi. Inilah yang menimbulkan kualitas hubungan yang buruk antara pemilih dan partai. Survei ini juga semakin menguatkan pandangan tentang tidak terlembaganya partai politik kita yang mengakibatkan proses rekrutmen dan kaderisasi yang merupakan pintu gerbang hubungan partai-konstituen juga lemah.

Temuan tersebut juga menguatkan hasil riset nasional lain yang pernah dilakukan Saiful Mujani Research Center (SMRC) tentang pemilih mengambang (swing voter). Peta kekuatan partai pada 2014 akan berubah terutama karena jumlah swing voter berdasarkan hasil survei ini masih cukup besar, yakni 50 persen.

Swing voter sendiri merupakan perilaku pemilih yang berubah atau berpindah pilihan partai atau calon dari satu pemilu ke pemilu berikutnya. Dijelaskan bahwa dalam sejarah perilaku memilih indonesia sejak pemilu demokratis kembali hidup pada 1999, jumlah swing voter sangat besar. Dari kondisi tersebut, bisa dibaca bahwa 3 kali pemilu menghasilkan 3 partai berbeda sebagai pemenang suara terbanyak. Fenomena ini juga pertanda besarnya swing voter dari satu pemilu ke pemilu berikutnya.

Mengapa swing voter begitu besar dari satu pemilu ke pemilu berikutnya? Salah satu alasannya karena ikatan psikologis pemilih dengan partai (identitas partai) sangat rendah. Tidak ada loyalitas pada partai. Begitu pula dengan kondisi ekonomi yang dirasakan semakin buruk dan pemerintah yang berkuasa berasal dari partai utama. Lalu maraknya skandal politik yang menimpa partai utama dan mendapat perhatian publik secara luas.

Citra partai terpuruk karena kegagalan partai mengoptimalkan fungsi-fungsinya secara konsisten dan konsekuen. Dominasi elite-elitenya yang cenderung manipulatif atas pendukungnya merupakan penyebab utama mengapa partai sulit mengapa partai sulit mengubah kenyataan ini. Dampaknya adalah konflik internal partai yang menjadi bahaya laten setiap saat ketika terjadi proses perebutan kekuasaan.

Temuan awal dalam berbagai survei tersebut sebaiknya membuat partai lebih mawas diri dalam melangkah, baik dalam hal kepemimpinan maupun tingkah laku politik keseharian. Rakyat berdaulat akan menentukan siapa yang menjadi pemimpin negeri ini bukan semata karena anjuran dan pilihan partai.

Setiap pemimpin yang ideal selalu dicita-citakan sebagai pemimpin bangsa masa depan. Politik harus tunduk pada moralitas. Bukan tunduk pada politik barter yang hanya akan menghasilkan pemimpin penakut yang tidak mampu menegakkan harga diri dan martabat bangsa ini.

 

Benny Susetyo

Pemerhati Sosial Politik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s