Belajar Dari Hewan

Posted on Updated on


Aku bukan seorang yang ahli agama, bukan seorang yang cerdas berilmu, atau memiliki kemampuan untuk menjawab semua pertanyaan di dunia, bukan pula mantan mahasiswa dengan IPK sempurna, atau mantan pelajar dengan nilai raport nyaris tanpa cela. Aku hanya seorang pemikir, dengan logika yang hampir tak pernah sama dengan kebanyakan orang, dengan sedikit ilmu agama yang aku punya serta secuil iman yang kuyakin tak lebih besar dari orang yang membaca tulisan ini.

Tak banyak orang yang berpikir, atau mungkin menyadari, kenapa manusia yang dipilih menjadi khalifah di muka bumi? Bukan hewan? Atau tumbuhan? Atau makhluk halus yang tiap orang beriman wajib meyakini keberadaanya. Tapi saya punya pikiran, jawaban yang mungkin benar atau minimal mengurangi rasa penasaran(cuman Allah yang Maha benar). Akal. Manusia punya akal, kemampuan untuk belajar, belajar dari alam, orang lain, bahkan dari dirinya sendiri.

Seperti yang kulihat ketika ayam mengusir anaknya yang sudah cukup besar untuk tidak terus mengikuti induknya. Kenapa begitu? Apa induknya sudah tak sayang lagi terhadap anaknya? Atau mungkin induknya paham kalau anaknya sudah cukup besar untuk hidup sendiri? bisa mencari makan sendiri? lalu terlintas di pikiran, bagaimana dengan manusia? Kebanyakan orang yang belum nikah walaupun sudah bekerja tetap bersama orang tuanya? Bahkan beberapa yang sudah berkeluarga juga tetap serumah dengan orangtuanya?Apa manusia itu manja? Lemah? Secara fisik manusia memang lebih lemah dari hewan. Anak kambing perlu beberapa menit sampai dia bisa berdiri, anak manusia? Perlu 2 tahun untuk dia bisa mulai berdiri dan belajar berjalan. Tapi, saya yakin, akal dan perbuatan manusia lah yang membuat manusia jauh lebih baik dari hewan, dan bisa juga lebih buruk.

Manusia sebagai mahluk social, tak akan pernah bisa melupakan orang tuanya, keluarganya. Walaupun terpisah jauh dari keluarga, orang tua. Sejauh dan selama apapun dia pergi, keluarga dan orang tua lah tempatnya kembali. Itu yang membedakan manusia dan ayam. Seperti saya yang mungkin merindukan keluarga ketika menulis tulisan ini. Dan saya yakin itu salah kalau hanya sebuah mungkin.

Dan salah juga kalau saya melihat cicak yang mengumpulkan makanan untuk dia makan besok. Bagaimana dengan manusia? Dengan banyaknya persediaan makanan dan minuman di lemari es nya? Apa mereka(manusia) takut besok tidak punya makanan? Atau cicaknya saja yang terlalu percaya dan yakin kalau besok mereka masih bisa mendapat nyamuk dan serangga lain untuk dia makan?

Untuk keyakinan, sepertinya saya harus belajar dari cicak. Besok saya belum tentu masih bisa melihat atau mengedit tulisan ini, besok belum tentu saya masih bisa mengetikkan jari di keyboard ini, belum tentu saya masih bisa tidur dan membuka mata esok paginya, belum tentu masih bisa makan masakan padang dan minum air putih dingin lagi. Jadi kenapa saya harus menyiapkan makanan untuk persediaan selama seminggu? Sepintas terasa bodoh, tapi di lain sisi akal menyuruh saya membuat perencanaan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.

Seperti semut. Berusaha dan bergotong royong mengangkut makanan ke sarangnya, untuk kepentingan dan persediaan koloninya, untuk ratunya, untuk kelangsungan hidup mereka. Tak pernah lelah walau benda yang mereka angkat berkali lipat dari berat tubuhnya.

Seperti nyamuk, mencari makan dengan mempertaruhkan nyawa. Sehabis kenyang menghisap darah yang saya yakin banyak mengandung kolesterol dan lemak tak jenuhnya kemudian mati dipukul manusia, atau mabok mencium obat nyamuk bakar, atau gosong dihajar raket listrik. Tapi bila tanpa mempertaruhkan nyawa mereka tidak akan bisa makan, mereka mati kelaparan. Bukan soal mencoba hal yang sia-sia, tapi itulah gunanya usaha, menghisap darah manusia atau tidak, ujungnya mereka pasti mati juga.

Berserah diri seperti cicak, berusaha seperti semut, selalu mencoba seperti nyamuk, dan memperlakukan keluarga jangan seperti ayam. Sedikit yang kudapat dari pengamatan terhadap binatang. Sisanya masih banyak yang belum terjawab. Terlalu banyak pertanyaan di dunia ini dibanding jawabannya, seperti terlalu banyak tanda Tanya di tulisan ini ketimbang pengurai Tanya-nya.

Semuanya tak jadi soal selama kita masih mau belajar. Mengamati dan mendengar apapun yang terjadi di sekitar. Membaca dan mendengar bahasa alam.

29 September 2013

19:57

One thought on “Belajar Dari Hewan

    krisnadwi said:
    October 2, 2013 at 8:01 am

    Semoga manusia juga bisa lebih mengerti hewan. Sangat banyak manusia yang menyiksa hingga membunuh hewandemi materi semata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s