Ramadan

Posted on Updated on


Mendiang Nurcholis Madjid di buku-hebatnya tentang Ramadan, 30 Sajian Ruhani: Renungan di Bulan Ramadlan (Mizan, 2000) lebih memilih kata Ramadlan daripada Ramadhan atau Ramadan. Padahal di buku gaya selingkung penerbit tercantum Ramadhan, bukan Ramadlan. Penerbit memilih ikut kemauan Cak Nur daripada patuh pada gaya selingkungnya sendiri. Ada pula cerita tentang buku gibah yang ditunda pencetakannya gara-gara ada yang tak setuju dengan penulisan kata gibah, tetapi lebih menghendaki ghibah.

Bukan hanya dua kata itu yang sering ditulis beragam dan mengundang polemik. Kata salat, wudu, azan, fikih, batin, ustaz hadis, sahih, mudarat, zuhur, magrib, subuh, isya, asar, dan lain-lain penulisannya sering menjadi perdebatan. Ada yang menulis salat, shalat, atau sholat. Wudu, wudhu, atau wudlu. Azan, adzan. Fikih, fiqih, fiqh. Batin atau bathin. Hadis atau hadits. Dalam menyikapi keberagaman penulisan ini, biasanya setiap penerbit menentukan kebijakan sendiri-sesuai dengan keyakinannya-yang dituangkan dalam pedoman penulisan atau gaya selingkung penerbit.

Sebenarnya bahasa Indonesia sudah mengatur keberagaman penulisan ini. Bahasa Indonesia hanya mengenal empat gabungan huruf konsonan: kh (khusus, akhir, tarikh), ng (ngilu, bangun, senang), ny (nyata, banyak), dan sy (syara, isyarat). Gabungan konsonan dl (Ramadlan), dh (Ramadhan), gh (ghibah) tidak termasuk pada keempat aturan itu. Jadi, ia bukan ragam baku. Yang baku adalah Ramadan, gibah.

Bolehkah kita ingin tetap menggunakan kata Ramadhan atau Ramadlan? Bahasa Indonesia membolehkan, tetapi dengan catatan kata tersebut bercetak miring atau digarisbawahi. Hal itu sebagai penanda bahwa kata-kata itu belum diserap secara sempurna ke dalam bahasa Indonesia. Namun, aturan itu pada pelaksanaannya tidak berhenti sampai di situ. Tidak elok dipandang mata atau istilah penerbitannya keterbacaannya rendah jika satu buku yang membahas tentang Ramadan kata Ramadhan atau Ramadlan dimiringkan semua. Dalam satu halaman banyak kata yang tercetak miring.

Ada beberapa gabungan huruf konsonan selain dl dan dh tadi-umumnya berasal dari bahasa Arab-yang mesti juga diperhatikan dan sering menjadi polemik, misalnya ts (hadits), dz (adzan), sh (shalat, shubuh), th (bathin), zh (zhuhur), gh (ghibah). Beberapa penerbit buku Islam sering mencantumkan Pedoman Tranliterasi bahasa Arab dalam terbitannya. Juga pedoman tentang pembacaan panjang pendek atau penulisan ain dan hamzah-yang satu ini tentu saja tak dikenal dalam bahasa Indonesia.

Seyogianya harus ada komunikasi yang intens antara pihak terkait-Badan Bahasa, penerbit, media, Kementrian Agama, para ahli bahasa (Arab, Indonesia)-dalam menyikapi keberagaman penulisan ini. Teman-teman di FBMM (Forum Bahasa Media Massa) sudah melakukannya dengan menggelar diskusi-diskusi bahasa dengan mengundang pihak-pihak terkait. Sebelum ada kesepahaman, untuk sementara-seperti halnya penentuan awal Ramadhan-kita dibolehkan sesuai dengan keyakinan masing-masing untuk menentukan sikap memilih penulisan yang  mana. Yang penting kita saling menghargai.

Dudung Ridwan

Penyunting bahasa di Mizan Publishing House

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s