Ketika Roti Menjadi Sajak

Posted on Updated on


Ketika Sajak

 

Ketika sajak tak lebih dari sekedar jarak

Mata kita masih meminjam telinga

Dan suara-suaramu menjadi bait

Doa yang retak

 

Pertemuan tak lebih kekal dari sebaris sajak

Yang di tatapmu, menjadi hujan

Tanpa rima, jatuh

di belantara pertanyaan

 

Bandung 1 Desember 2012

 

Sekerat Roti yang Kemarin

 

Bersama sekerat roti yang kemarin,

pisau dapur yang berkarat dan selai kacang di atas meja.

Kita memulai ritus hari-hari.

 

Mimpi malam yang menyelinap,

kau tuang ke dalam gelas, bersama gula dan kopi,

Atas nama pagi pula, kita menyesapnya,

hingga tandas, tak menyisa ampas.

 

Jarum jam di atas kulkas, memanggilku,

memanggilmu. Untuk gegas berangkat,

memjadi Cerberus di gedung-gedung kota.

Selalu saja ada yang kita lewatkan,

Di atas meja makan.

 

Sebuah pertanyaan,

tentang kata-kata yang tak lagi hangat.

 

Bandung 1 Desember 2012

 

Menjadi Jejak

 

Perjalanan ini seperti menempuh pertanyaan

Kaki kita hanya memanah kebingungan

Bergerak, jalan semakin bercecabang

Diam, arah semakin membelukar

Berpikir, hanya mengubah ruang menjadi runyam

 

Angin yang lusuh,

Keringat yang runtuh,

Dan sebersit kebosanan,

Semakin lekat, di wajah tanah

Menjadi jejak-jejak.

 

Bandung 1 Desember 2012

 

Absurditas Malka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s