Karena Kau Yang Meyakinkanku (Parallel)

Posted on


Sepulang kerja, kunyalakan Notebook dan mencoba untuk bersantai di kostan. Memainkan beberapa game kecil sekedar melepas lelah dan penat dari urusan kerja dan dari pikiran itu yang terus memenuhi alam sadarku. Sebuah persoalan saat aku menyadari semakin hari aku tak lagi muda, semakin hari semakin kujauhi masa remaja, persoalan saat yang aku inginkan adalah kepastian, persoalan yang telah berhasil membuatku terlambat datang bulan karena banyak pikiran. Persoalan yang bahkan tak bisa kubagi dan kucari solusi dengan orang yang memberiku persoalan ini. Kamu pasti tahu siapa.

Entah kenapa saya bisa terlibat semua ini. Menjalani hubungan dengannya tanpa kejelasan selama bertahun-tahun. Mungkin aku bodoh, merasa nyaman dengan orang sepertinya yang sudah bertunangan. Tapi apa mau dikata, hati berkata lain, makin lama rasa itu makin nyata. Kukira aku saja, ternyata dia juga. Dan ketika kuminta kepastiannya, dia hanya menjawab “nanti pasti diselesaikan dek”. Aku puas dengan jawaban itu? Tidak sama sekali. Dan kalau kau Tanya kenapa aku mau saja. Entahlah. Awal rasa yang berasal dari entahnya, terjalani begitu saja entah dengan alasan apa, dan terpuaskan dengan entahnya juga. Tak ada yang lebih memusingkan memang dari sesuatu yang tak bisa diprediksi juga didefinisi. Untuk saat ini, ini diluar kendaliku.

Ah sudahlah, aku tak mau terpojok dengan keherananmu padaku. Lebih baik kubahas tentangmu saja. Pasti kau puas menertawakanku sekarang kan? Tenang saja, kita berpikiran sama. Kadang aku juga suka ingin menertawakan diri sendiri, bukan menertawakan perihal hubunganku dengannya, yang kutertawakan adalah soal nasihatku padamu dulu. Dulu saat kita belum menjadi mantan, juga menjadi pacar. Kau ingat? Aku berpesan padamu jangan pernah gantungin perempuan dalam sebuah hubungan. Aku yang paling tau bagaimana sakitnya terabaikan tanpa kepastian. Dan lucunya, hal yang paling kubenci itu malah terjadi lagi sekarang, seolah tak belajar dari pengalaman, seolah semua sakitnya terbayar hanya dengan sebuah ‘nyaman’.

Sekarang kau semakin senang kan? Tertawa melihatku seperti ini kan? Tidak? Kau memang orang yang paling tidak pintar berbohong. Kau selalu bilang wajahku jelek, tubuhku pendek, tapi aku tahu semua itu hanya kebohonganmu, karena setelah kau membuatku marah dengan perkataanmu kau selalu rela mati-matian meminta maaf padaku. Dan tak pernah kuberi dengan gampang. Ya, aku menang dan selalu menang darimu.

Tapi satu kebohonganmu yang menurutku paling tidak masuk akal dan tak habis pikir, orang macam apa yang bisa terayu dengan gombal gagalmu itu. Ketika kau bilang “apakah aku perempuan yang jatuh dari surga?”, aku benar-benar terbahak dengan pertanyaan konyolmu itu, dulu tak sempat kujawab, karena belum terpikir jawaban yang paling tepat dan masuk akalnya, tapi dari sekian kemungkinan jawaban, mungkin aku akan bilang “apa kau bercanda?” Bukankah kita dulu adalah pasangan yang jatuh dari surga? Kenapa kau memberiku pertanyaan yang sudah kau ketahui jawabannya. Kau tahu kita jatuh dari surga bersama. Sebagai pasangan yang jatuh ke bumi. Pasangan yang saat ini kuyakini bukan untuk bersatu, tapi untuk saling membantu, melengkapi, dan berbagi. Seperti cerita ini yang kubagi denganmu. Kau percaya semua itu? Aku harap tidak, karena aku Cuma menggodamu saja. Ya, lagi-lagi aku menang darimu.

Bagaimanapun kau tidak akan pernah bisa menebak sikapku. Jangankan kamu aku sendiri pun bahkan tak bisa menebaknya. Seperti aku tak bisa menebak akhir cerita dari sebuah novel bermutu, Akhir dari sebuah pertandingan tinju, juga menebak seperti apa sekarang badanmu? Makin buncit kah perutnya? Menghitamkah kulit putih nya? Makin tinggikah? Ternyata sudah lama juga kita tidak pernah bertemu, Selama aku tak lagi merindukanmu seperti sekarang ini.

Ya, ternyata aku rindu. Rindu orang yang dulu grogi ketika didekatku. Orang yang selalu membuang semua benda logam pemberianku. Orang yang tangannya gemetaran saat motongin kuku. Orang yang dulu kusayang dan menyayangiku. Dan yakin sekarangpun juga kau masih sayang padaku. Untuk urusan ini kamu tak perlu tahu alasan kenapa aku bisa seyakin itu. Intuisi perempuan.

Berapa kali kita membuat janji temu. Untuk sekedar bertukar kabar atau berbagi cerita lucu. Tapi semuanya tak pernah terjadi. Kau pasti tahu aku pelupa. Seolah ada pembagian tugas masing-masing, tugasmu mengingatkan dan tugasku melupakan, tugasku menjelaskan dan tugasmu menerima. Awalnya mungkin sulit bagimu, tapi dengan ajaib kau bisa memakluminya, rela menerima penjelasanku, seperti kau rela kubawa berjalan berjam-jam di mal atau di pusat perbelanjaan untuk mencari high heel kesukaanku. Kau layak dapat medali dalam hal itu, hal yang jarang sekali bisa dilakukan pria biasanya.

Selain karena aku pelupa, kita juga terpisah kota. Pekerjaan yang menuntut kita berjauhan, kesibukan yang mengharuskan kita tak memikirkan lagi untuk bersama. Tapi tenang saja, kita masih bisa teleponan, karena dari sekian banyak hal yang kulupa ternyata aku masih ingat nomor hp mu, dua belas angka, diluar kepala, sepertinya kini giliranku mendapat medali darimu untuk hal ini.

Baru saja tadi aku meneleponmu. Mengurai rindu, walaupun aku tak bilang itu kau pun pasti sudah tahu. Tak ada yang berubah, kau masih saja tersenyum ketika mendengar suaraku. Aku yakin itu.

Karena kau yang meyakinkanku.

 

Harmoni, 11 September 2013

00:22 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s