Apalagi Kalau Itu Kamu

Posted on Updated on


Malam itu, titik dimana power bank hp tak berguna, terlalu banyak telepon darimu, dering pertanda bahwa suara yang tak asing akan segera menyapa. Suara yang dulu bercerita tentang kita. Tapi tidak dengan sekarang. Ceritamu, cerita tentang dia dan dirinya. Cerita tentang sepasang kekasih yang memulainya dari benci. Benci yang tak lebih dari aku membenci situasi seperti saat itu, berlagak sok bijak, kuat, tegar seolah semuanya adalah cerita pahit manis yang aku alami sendiri.

Berawal dari saling sapa, Tanya kabar dan semua pernyataan retoris lainnya, semuanya biasa saja kecuali telepon ini yang tak biasa karena sudah berbulan-bulan saya tak pernah ada kontak denganmu. Aku sudah punya pikiran pasti bakal ada sebuah cerita yang perlu menyisihkan simpatiku yang tak banyak ini. Dan benar saja. Cerita tentang sulitnya mengambil keputusan, satu keputusan yang menentukan untuk kebahagiaan satu orang dan kesedihan buat yang tersisih. Dan tentu saja aku yang paling tahu rasa sedih buat yang tersisih.

Kamu adalah orang yang dulu selalu kubangunkan tiap pagi, dan kukirimi ucapan selamat tidur tiap malam, orang yang pernah berbagi sendok, gelas, piring, tangan, kaki, pipi juga hati. Sekarang kamu bercerita tentang pacarmu, orang yang dulu merupakan penduaan dariku. Pacarmu yang ternyata juga menduakanmu.

Pacarmu yang merasa dia seolah memiliki sosok seorang istri saat bersamu, dan merasa punya seorang pacar ketika bersama pacarnya yang lain. Aku pikir posisimu kuat. Susah sekali bagi seorang pria matang(kelewat matang) sepertinya untuk bisa melihat perempuan sebagai istri idaman. Ya, kamu tak usah takut. Saya yakin dia cuman menghabiskan rasa penasaran “berpetualang” di penghujung mudanya, tak lebih. Akhirnya dia pasti pilih kamu. Sama seperti dulu kamu memilih dia ketika kau temukan sosok suami idaman darinya, bisa ‘ngemong’, tidak padaku. Ya, aku tersisih.

Tapi kamu tau? Aku bisa melihat lebih luas ketika aku berada di luar lingkaran. Lingkaran dirimu. Dirimu dengannya, dan sekarang bertambah dengan pacarnya yang lain. Lega rasanya bisa keluar dari lingkaran itu, lingkaran cemburu, kebohongan, pembelaan diri, dan semua yang meremukkan hati.

Sesekali kuselingi ceritamu dengan ‘iya’ dan ‘hmm’, aku tau kamu akan membentakku seperti ibu guru membentak muridnya kalau tiba-tiba saja kuselipkan satu kalimat pendek atau kalimat Tanya diantara rentetan ceritamu. Tapi itu dulu, entah dengan sekarang. Kucoba, dan benar saja, kamu masih saja seperti itu. Ciri khas kebanyakan perempuan. Hanya ingin didengarkan tanpa banyak dikomentari. Masih saja ada yang bisa membuatku tersenyum darimu.

Satu jam dua puluh tujuh menit lima detik, durasi terpanjang dari serangkaian telepon-teleponmu malam itu. Seperti jalanan yang mulai lengang di malam hari dan kendaraan yang lancar tak terjebak macet ketika hari makin malam. Begitu juga dengan ceritamu. Tak kutemukan titik apalagi koma dari nada intonasimu, hanya tanda seru. Ciri khasmu dari dulu. Tapi selama apapun kau bercerita, dalam beberapa menit awal saya pasti sudah tau titik pangkal permasalahannya, point inti dari semua yang kau utarakan, untuk yang satu ini, inilah ciri khas ku.

Kamu lega setelah meluapkan segala unek-unekmu padaku. Aku lega karena tak perlu memberimu sebuah saran, nasihat atau sebuah lawakan garing untuk mengendorkan kerut keningmu. Aku percaya kamu yang menjalaninya dan kamu yang lebih tau mana baik buruknya jika mempertahankan atau merubah sebuah keputusan. Tapi kalaupun aku harus berkomentar. Aku berharap, semua ekspektasimu padanya terwujud, kamu perempuan, intuisi nya lebih kuat dari laki-laki. Intuisi untuk memilih mana yang terbaik bukan hanya sekedar nyaman. Dan tiga tahunmu bersamanya lah yang sebenarnya bisa menjawab semua keraguanmu.

Tak ada yang perlu tersisih lagi sepertiku. Apalagi kalau itu kamu.

Cibuntu, 9 September 2013

23:30

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s