Dongeng Emak

Posted on Updated on


Aku mendengar dongeng ini dari Emak. Dongeng dari buku gambar tua yang Emak bacakan. Ini satu-satunya cerita yang dia punya. Kisah tentang penyihir wanita yang memeram kesumat pada sang guru. Lelaki durjana di masa lalu.

Alkisah, di negeri antah berantah terjadi huru-hara. Penyihir wanita yang tak pernah tua tengah mengamuk murka. Ini perihal dendam kesumatnya yang belum terbalaskan. Darah harus berbalas darah. Air mata harus dibayar air mata.

Mentari memerah serupa darah, lalu menciut dalam bayangan jubah hitam sang penyihir. Langit jadi kelam. Pekat menggurita. Perlahan dari dalam tanah, mayat-mayat bangkit dari tidur lelapnya. Serigala-serigala keluar dari sarangnya. Semua berkumpul. Menyatu di kaki sang penyihir.

“Di bawah sana, penduduk meringkuk, takut,” ucap Emak sambil menunjuk halaman bawah pada buku dongeng bergambar itu. Aku mendekat. Bukan untuk melihat dan memastikan, tapi aku merapat karena takut.

“Ia harus mati. Sang guru itu. Ia harus membayar semua yang telah ia lakukan pada penyihir,” mata Emak seterang kilat. Napasnya tersengal. Jari-jemarinya pelan-pelan merapat. Mengepal. Mencengkeram halaman cerita dengan kuat. Tangan Emak bergetar. Gemerutup giginya terdengar sangat jelas. Seperti lagu kematian yang didendangkan.

Aku merasa pelan-pelan tubuhku membeku. Rasa takut ini menjalar seperti es.

Semua ikut membeku. Termasuk Bu Hilma, guru Bahasa Indonesia-ku, juga teman-teman yang terngangah di bangku masing-masing. Semua mata menatapku, berkilat dalam baluran kengerian. Aku melihat dengan jelas semua itu terbaca di wajah mereka. Tak ada yang bersuara.

“Penyihir itu sudah menyiapkan mantra pembunuh yang paling kejam,” aku masih melanjutkan cerita, tak peduli dengan wajah tegang teman-teman. “Sang guru akan mati pelan-pelan. Ia akan memotong-motongnya seperti daging ayam. Memasukkannya dalam belanga. Menjadi sup. Dan akan dimakannya saat malam.”

“Sudah. Tak usah dilanjutkan,” Bu Hilma tiba-tiba menahan mulutku yang hendak berucap lagi. Aku menatap ke arahnya. Melempar tanya lewat sorot mata: Mengapa aku tak boleh menuntaskan ceritaku? Bukankah ini giliranku untuk bercerita? Inilah cerita yang Emak kisahkan padaku? Dan ini baru pembukaannya.

Bu Hilma tak menjawab satu pun pertanyaanku itu. Dari kilatan matanya. Ia memintaku duduk. Aku enggan melangkah ke arah bangku, tapi akhirnya aku melangkah juga ketika melihat mata Bu Hilma sekali lagi. Berpasang mata teman-teman mengiringiku langkah.

Ceritaku selalu menakutkan, kata Bu Hilma. Saat teman-teman berhamburan pulang, Bu Hilma menjegal langkahku. Ia bertanya: Mengapa aku tak minta Emak menceritakan si Kancil Anak Nakal? Atau cerita tentang siput yang menang melawan kancil dalam lomba lari. Bisa juga cerita tentang beruk yang menanam jantung pisang agar cepat berbuah.

Tak ada kata yang bisa kuucapkan. Aku membatu. Beku di kursi. Aku tak pernah mendengar cerita-cerita itu dari Emak. Emak hanya punya satu cerita saja, tentang penyihir wanita yang tak pernah tua dan guru durjana. Mulut Bu Hilma meracau, seperti beo kurang makan.

Di Depanku, Emak masih berkomat-kamit menguraikan cerita. Jari-jemarinya yang hitam kapalan terlihat gemetar membuka lembar berikutnya. Aku melihat getar itu. Ujung-ujung kukunya menghitam, dimasuki getah karet yang sudah mengeras. Seperti kuku beracun. Racun yang akan membunuh lawannya seketika. Racun yang mungkin juga tercampur dalam masakan Emak untukku. Aku menelan ludah. Apakah malam ini aku akan mati ketika memakan sup buatan Emak?

“Periuk besi sudah siap. Para dedemit kaki tangan penyihir sudah menyiapkan tungku besar untuk memasak sang guru.”

Kudukku meremang. Ringkikan tawa Emak menembus membran telingaku. Seketika bulu-bulu di tubuhku berdiri kian tegak. Tawa itu terlalu menakutkan. Seperti tawa kematian dari malaikat neraka. Api berkobar-kobar dalam halaman dongeng bergambar. Sosok-sosok gelap mengitari api, di puncak-puncak bukit serigala berdiri.

**

Emak selalu kelelahan dalam dongengnya. Keringat membanjir. Napas tersengal. Mata berkilat. Aku menyentuh jari-jemari Emak yang kurus menghitam itu. Memegangnya dan pelan-pelan menutup halaman buku dongeng bergambar di pangkuannya.

Wajah emak terlihat mengeras. Mengerikan. Baru aku sadar, betapa Emak cepat menua. Kerut-kerut di wajahnya begitu kentara. Emak tak seperti perempuan berusia dua puluh limaan. Ia seperti nenek-nenek tua yang hampir sekarat. Pipi bergelambir. Kantong mata melorot jauh, seperti bubur yang tumpah dari mangkuk.

Aku meraba wajah Emak yang menakutkan. Ah, benarkah wajah serupa hantu yang mati penasaran ini wajah Emakku? Aku merebahkan kepala di pundaknya.

Lampu temaram. Angin dingin menyelinap. Cupingku yang tertempel dekat dada emak mendengar degup jantungnya dengan jelas. Ritma napasnya yang tersengal juga begitu terang. Udara panas menderu. Menerpa-nerpa wajahku.

“Penyihir itu bersumpah, ia akan membunuh sang guru dengan tangannya sendiri,” lanjut Emak tanpa membaca dari buku dongeng bergambar.

Aku menatap jemari Emak yang membelai pipiku. Kuku-kuku hitam beracun itu sejengkal dari mataku.

Aku membayangkan kuku beracun itu yang akan menebarkan kutuk paling mematikan untuk sang guru. Dari ujung kuku-kukunya yang menghitam, racun dan mantera paling laknat berkumpul. Pelan-pelan keduanya keluar dan terbang mengitari penyihir, ketika penyihir cantik yang tak pernah menua itu meniupnya, kutuk berbalur racun itu terbang melesat. Membelah malam, menembus pekat.

Kepergian senjata pembunuh penyihir disambut sorak-sorak pengikutnya. Semua bersatu dalam seru. Busuk memenuhi rongga hidung. Kutuk berbalur racun itu terus melesat. Jauh. Mengejar sang guru yang terlelap dalam bilik bersama istrinya.

Mata berkilat emak meredup, menatapku. Aku membalasnya. Dua pasang mata bertemu. Aku menemukan cerita lain di mata Emak. Cerita awal dendam itu.

Semua seperti mimpi semata. Lelaki bergelar sang guru itu menerkamnya tanpa belas. Barulah perempuan belia itu tersadar, sang guru yang bermanis muka, bukanlah domba tapi serigala jadi-jadian. Namun semua sudah terlambat. Rumah terlalu lengang. Istri sang guru tengah tak ada. Hanya ada sosok mungil tak berdaya dalam ayunan.

Lalu, benih berbau busuk itu tumbuh perlahan dalam perutnya. Ia panik. Tak tahu harus berbuat apa. Siapa yang hendak jadi pahlawan? Tak ada. Tak ada sesiapa. Bau bangkai telah tercium sempurna. Sang guru bersilat lidah ketika ia menyebut namanya. Orang-orang beringas dalam murka. Emak dan ebaknya seketika hilang muka. Dan bisa ditebak, ia terlempar ke alam orang-orang mati. Terkucil. Sendiri. Sepi.

Sejak itu langit berubah gelap. Musim semi yang terbentang sepanjang tahun langsung sirna. Matahari memerah, pohon-pohon meranggas. Bunga layu dan mati seketika. Lalu, ia menangkap matahari, dimasukkan dalam baju. Pekat menyelubungi semesta. Dendam kesumat yang tersemat di dada, membesar dan ia jaga.

**

“Hari ini Emak akan menamatkan dongeng penyihir itu untukmu,” aku tak jadi mengunyah makanan yang sudah kusuap. Kutatap Emak. Matanya berkilat dengan senyum yang seumur hidup baru kali ini kujumpa. Terasa ganjil melihat kerut-kerut di wajah tuanya tertarik membentuk senyum. Seperti seringai hantu penasaran. Aku seketika merasa, tenggorokanku panas. Apa mungkin Emak sudah memasukkan racun dari kukunya dalam sarapanku?

“Agar kamu bisa menceritakan dongeng ini secara lengkap di depan kelas,” aku kembali mengunyah makanan pelan. Sesungguhnya, aku hendak berucap. Giliranku sudah lama usai. Aku pun tak akan bisa mengisahkannya, tersebab Bu Hilma bilang, ceritaku terlalu mengerikan.

Langit masih seperti kemarin. Hitam pekat. Pohon-pohon sepanjang jalan menuju sekolah yang sepeda Emak lewati masih sama. Meranggas, Telanjang. Emak tiba-tiba membelokkan sepedanya. Kita akan menunggu di balik pohon, menunggu dongeng dikhatamkan, katanya.

Di kejauhan sebuah sepeda terlihat mendekat. Bu Hilma dan suaminya, pak kepala. Tangan Emak merapat. Kuku-kuku hitamnya bersinar. Gemerutup giginya seperti mantera kematian. Ketika sepeda itu hampir sampai, Emak mendadak meloncat ke tengah jalan. Mereka terkesiap. Oleng. Lalu jatuh serempak ke tanah. Aku masih berdiri mengintip di balik pohon. Lelaki itu pias. Emak berjalan mendekat.

Aku melihat kuku-kuku Emak semakin menghitam dan berkilat. Wajahnya yang tua dan bergelambir mendadak cantik. Saat itu juga, aku melihat Emak sudah mengenakan jubah hitam bersayap gagak.

Aku sedang membaca halaman terakhir buku dongeng bergambar itu. Penyihir cantik yang tak pernah menua itu menghujamkan sebilah kuku beracunnya ke tubuh sang guru. Darah hitam muncrat. Membasahi wajah cantik penyihir, seketika wajah itu menua ketika darah sang guru menyentuh pipinya. Sang guru meregang nyawa. Istrinya lari terbirit-birit ketakutan. Di udara, koakan gagak dan serigala membahana. Sorak-sorak dari neraka terdengar ramai. Aku mematung dalam senyap.

“Dongengnya sudah tamat. Kini kamu bisa menceritakannya secara lengkap,” ucap Emak sambil berjalan ke arahku dengan kuku hitam yang meneteskan darah.***

 

C59, Mei 2012 – Maret 2013

Guntur Alam

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s