Sastra Dangdut

Posted on Updated on


Kami berbincang-bincang lewat obrolan di thread inbox facebook, bicara soal sastra dangdut. Obrolan yang semula ngaler ngidul ini jadi serius. Saya, Ahda Imran, Bambang Q Anees, Bode Riswandi, Bunyamin Fasya dan lain-lain jadi semakin “khusyuk” memperbincangkan sastra dangdut, hingga larut pagi obrolan kami makin “wihdatul dangdut” dan tak selesai.

Sastra dangdut adalah pembacaan puisi diiringi musik dangdut, kata Bunyamin Fasya. Yang lain menimpali, tidak hanya itu, tapi lirik lagu dangdut benar-benar puitis dan itu sudah masuk pada wilayah puisi.

Mari kita simak syair lagu Fazal Dath yang dinyanyikan oleh Meggy Z:

Aku bagaikan kupu-kupu di atas mata air

Ingin rasanya ku minum…

Tapi aku takut tenggelam

Ho…Oo…Oo…

“Nah, itu kan mengandung tafsir yang sangat dalam dan multitafsir, biasa juga ditafsir sebagai posisioning seks,” timpal Ahda Imran.

“Lagu-lagu Meggy Z memang lebih kuat dari syair para penyair Indonesia” Bambang Q Anees tak mau kalah seraya mengatakan bahwa kupu-kupu itu akhir maqam dalam tasawuf dan mata air bisa ditafsir sumber kebenaran.

Lebih jauh pada lirik lagu Meggy Z, menurut Bunyamin Fasya “Kau yang nyalakan, engkau pula yang padamkan. Tah eta mah makrifat tingkat tinggi” katanya.

Begitulah kami berbincang, dan pada akhirnya sampai pada penyesalan bahwa dangdut kekinian hanya mengandalkan penampilan saja, goyangnya saja. Dangdut sekarang hanya sebagai pertunjukkan tidak sampai pada lirik yang bagus.
Simak juga lagu dangdut karya Rhoma Irama berjudul “Janji” yang dinyanyikan Rita Sugiarto dan Evie Tamala:

Syurga yang engkau janjikan/neraka yang kau berikan
Manis yang kau khayalkan/pahit yang aku rasakan

Tingginya janjimu padaku/mengalahkan langit yang biru

Manisnya janjimu padaku/mengalahkan manisnya madu//

Keindahan bunyi dalam syair lagu tersebut, dan pengolahan kata secara eufimisme, mampu membawa pendengar memahaminya, dengan penilaian subjektif masing-masing tentunya. Puisi dangdut memang bisa memberi kita makna yang sangat dalam ketika ditulis dengan kejujuran dan berdasar pada kehidupan yang sesungguhnya.

Simak juga pada lirik lagu “Adu Domba”:

Adu domba adu domba mengadu domba

demi keuntungan domba jadi korban

demi kesenangan domba kesakitan

Puisi dangdut pada “Adu Domba” itu memang sangat gagah sebenarnya kalau dikatakan puisi yang baik, ibarat kapak tajam yang memacahkan kebekuan es dalam kepala kita. Tetapi memang harus diakui, puisi dangdut Rhoma Irama selalu menggoda kita untuk mendengarkan berulang kali.

Beberapa puisi Rhoma Irama memiliki daya tarik unsur bunyi yang indah, gagasan dan liriknya bersenyawa, idiomnya sederhana, ada kejutan, jujur dan imaji liar.

Dalam beberapa lagunya Rhoma memasuki wilayah sosial, politik dan budaya, sebagian besar lagunya mencoba “masuk” ke dalam persoalan itu. Ada semacam protes lembut dari hampir semua puisi dangdutnya.

Sejumlah pengalaman batin, menggambarkan realitas hidup, penuh estetika, idiom, dan metafor ditulis secara gamblang. Bang Haji tengah menulis realitas. Kematangan nalar kemudian menjadi persoalan dalam bekerja menulis puisi dangdut, karena meskipun lagunya ditulis dengan rekaan kata, isinya adalah realitas kata.

Setiap penulis lagu dangdut memiliki wilayah perhatian tersendiri, pun pada lagu-lagu dangdut masa kini, hingga akhirnya muncul lagu “Goyang Inul”, “Alamat Palsu”, “Pacar Lima Langkah”, “ABG Tua”, dan lainnya.

Musik dangdut, sebagai salah satu dari genre seni musik yang berkembang di Indonesia berakar dari musik melayu pada tahun 1940-an lalu. Musik ini sudah mengakar sejak tahun 1970-an, dimana popularitas musik dangdut sudah mulai terbuka untuk mempermisikan pengaruh jazz, rock, keroncong, reggae dan house music.

Sejak Rhoma Irama mempopulerkan musik dangdut dengan besutan rock, diakui atau tidak musik dangdut melejit dan menembus industri pasar. Lalu lahir penyanyi-penyanyi dangdut generasi kemudian seperti Mansyur, Meggy Z, Mukhsin Alatas, Elvi Sukaesih, Camelia Malik, Rita Sugiarto, Iis Dahlia, Ike Nurjannah, Nita Thalia, dan seabrek nama lainnya. Suatu masa dangdut heboh dengan lahirnya Inul Daratista, Dewi Persik, Ayu Tingting dan Trio Macan.

Musik dangdut sebenarnya merupakan musik yang tak pernah padam, pada setiap generasi selalu hadir, meski tak sehebat pada era tahun 1990-an, dimana musik dangdut menjadi lebih hidup dan meriah. Bahkan banyak dari para penyanyi yang tadinya beraliran pop dan rock beralih ke dangdut dan kemudian tercipta jenis musik baru yaitu pop dangdut, rock dangdut, dangdut reggae, dangdut jazz, hingga dangdut campursari.

Dan dari uraian di atas, saya yakin dangdut akan tidak menjadi musik murahan jika ita bersentuhan dengan sastra yang baik seperti “sastra dangdut”nya Rhoma Irama, Fazal Dath, dan Meggy Z. Syair dangdut akan terasa sastranya manakala ia bisa diiringi joget yang sederhana, joget yang tak mengumbar nafsu, bahkan jogetnyapun menjadi joget yang puitis.

Nah, dari sekian banyak musik, tampaknya jarang ahli sastra Indonesia, menulis mengenai sastra dangdut. Padahal dangdut adalah salah satu genre musik dan sastra yang menjadi mainstream rakyat di Indonesia.
Hayu ah…tarik, Mang…!

 

Matdon, Rois Am Majelis Sastra Bandung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s