Musibah di Depan Hikmah

Posted on


Duck face, duck face, duck face everywhere. Banyak sekali, mungkin itu kata yang tepat untuk mewakili saking intensnya saya temukan foto facebook teman perempuan yang memasang gaya duck face. Baginya mungkin itu keren, manis, imut, lebih keren juga mungkin dan tentunya berpikiran itu dapat menunjang rasa percaya dirinya. Tapi menurutku, dari sudut pandang laki-laki, entah kenapa melihatnya tuh merasa jijik. Ini masalah selera emang, dia senangnya gaya gitu, saya gak, dia ya dia, saya ya saya, habis perkara. Selesai.

Tapi bukan itu hal yang ingin saya jelaskan disini. Oke ini emang masalah selera, saya lebih suka perempuan yang natural, sederhana, tidak berlebihan gaya, make up, lifestyle, telebih tingkah laku sosialnya. Tapi coba pikir, bibir sudah dikasih bagus sama Allah ko mau-maunya dimonyong-monyongin gitu? Gak habis pikir saya, terkesan tidak menghargai pemberian Allah. (beeeuuh,,kejauhan lu mikirnya..)

Saya percaya semua tingkah laku kita adalah cermin kepribadian kita. Bila menghargai pemberian tuhan saja dia tidak bisa, apalagi menghargai pemberian dari kekasihnya? Dari suaminya nanti? Ini baru satu sisi. Sekarang kita lihat dari sisi yang lain. Percaya diri, orang dengan gaya duck face cenderung lebih percaya diri jika bergaya seperti itu, sebuah indikasi kekurangan kepercayaan diri, minder. Padahal menurut saya, satu-satunya orang yang harus kita percaya sebelum kita percaya dengan orang lain, adalah diri kita sendiri. Sungguh ironis orang yang mengenal orang lain tapi tak mengenal dirinya sendiri, mengenal kepura-puraan orang lain,tapi tak mengenal kesungguhan diri sendiri, mengenal mars tapi tak mengenal bumi, Tak sadar hidup tapi merasa mati. Sia-sia.

Dan lagi-lagi ini menurut selera saya, pandangan saya. senyum itu ibadah. Terdengar klise memang, tapi senyum yang bagaimana dulu, bukan senyum sinis, senyum terpaksa, atau senyum ketika berfoto ria. Tapi senyum tulus, dari hati, dan apa adanyaaa… (yee.. malah nyanyi lagu slank lu). Ya, senyum tulus, obat segala rasa ‘sakit’. Penghilang cape ketika suami pulang kerja disambut senyum tulus istri. Penghilang ngantuk ketika dibangunin pagi-pagi banget sama istri. Penghilang rasa sedih. Pemberi semangat. Penenang ketika sedang gelisah. Apa sih yang tak bisa tersembuhkan dengan senyum tulus? Ada dua, tua, dan mati. Sedang jiwa akan selalu bahagia mendapati senyumnya.

Ada satu yang menarik dari fenomena ini. Saya sebut ini adalah hikmah dibalik musibah per’sosmed’an di Indonesia (set dah… tinggi banget lu ngomongnya). Untung saja banyak perempuan bergaya duck face yang bikin saya jijik. Karena seandainya semua perempuan memasang foto senyum tulus, saya pasti sudah jadi playboy dari dulu.

Alhamdulillah ya Allah…

 

Cibitung, 2 september 2013

21:43

2 thoughts on “Musibah di Depan Hikmah

    Kiki Maylan Riski said:
    September 14, 2013 at 9:10 am

    wahahhahaha, keren gan . ntar aku buat wordpress juga deh ^^

      azuiway responded:
      September 14, 2013 at 9:47 am

      hehe,
      ok ok, ditunggu…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s