Memberi Napas Baru Pembelajaran Media Seni

Posted on Updated on


Seni, seperti disebut Gloria Bley Miller, singkatnya, sangat penting bagi perkembangan anak-anak dan menolong mereka untuk menjadi orang dewasa yang lebih imajinatif dan responsif. Mempertimbangkan waktu yang mereka habiskan untuk duduk di depan layar komputer (dan televisi) zaman sekarang, pengalaman praktis yang ditawarkan seni menjadi lebih penting dari sebelumnya.

Perguruan tinggi pendidikan seperti UPI, memang tidak menyiapkan secara khusus pembelajaran seni untuk anak-anak. Pihak UPI hanya menyerahkan salah satu bentuk pendidikan untuk anak-anak lewat program Pendidikan Guru SD dan PAUD, dimana pembelajaran seni untuk anak-anak diajarkan, sebagai salah satu mata kuliah. Itu pun tidak semua jenis kesenian dijadikan bahan pembelajaran, atau mata kuliah.

Di Kampus UPI Cibiru, Kabupaten Bandung, misalnya, salah satu mata kuliah yang diajarkan adalah seni rupa, yang mendapat porsi empat SKS. Ini bisa dimaklumi, karena frame pembuat kurikulum maupun program pendidikannya, tetap menempatkan para guru SD dan PAUD sebagai pendidik borongan. Harus multitalenta.

Jika UPI program SD dan PAUD yang terkonsentrasi pada Penjaskes (Pendidikan Jasmani dan Kesehatan) sudah ada, tetapi untuk yang konsentrasi pada seni tampaknya masih dalam proses.

Untuk sedikit mengatasi problem itu, Ardiyanto, MSen, dosen mata kuliah seni rupa di Kampus UPI Cibiru, seperti mencoba keluar dari kotak pekat pendidikan seni (khususnya seni rupa) bagi guru SD dan PAUD. Ia menggagas pameran seni rupa hasil karya para mahasiswanya, beberapa dosen lain, bahkan juga menyertakan seorang anggota satpam, dalam tajuk “Pameran Seni Rupa Spirit dan Harmoni”, 24-29 Juni 2013.

Gagasan ini menitikberatkan pada upaya pencapaian maksimal para mahasiswanya dalam berkarya, agar mempunyai karya berkualitas. Imbasnya tentu pada pembelajaran seni rupa yang berkualitas juga kepada anak-anak didiknya kelak. Selain mengakomodasi dosen maupun karyawan di kampus tersebut, yang mempunyai minat pada seni rupa.

“Gagasan ini semula banyak ditolak, karena memang harus ada kerja tambahan yang lebih keras setelah tugas mata kuliah. Namun, lewat pendampingan yang terus menerus, mereka yang tadinya merasa tidak mampu, kemudian ternyata berhasil menjalani proses berkarya, hingga mengelola pamerannya di dalam kampus ini. “Saya kira ini yang penting, agar calon guru SD dan PAUD terbiasa memberikan yang terbaik untuk diri dan lingkungannya. Dan tidak ada cara lain untuk mewujudkannya selain dengan kerja keras!” tutur Ardiyanto, yang beberapa tahun lalu (dalam konstelasi seni rupa Indonesia), banyak terlibat dalam perhelatan seni rupa/visual berskala nasional hingga internasional.

Pameran ini memang terbilang besar, dengan melibatkan sekitar 265 peserta, dan setiap peserta memamerkan sedikitnya satu hingga enam karya. Beberapa karya yang dihadirkan di antaranya berupa eksplorasi bentuk, membentuk monster (berbahan terigu), eksplorasi komik, seni surat/warkat, eksplorasi boneka tangan, seni lukis, seni gambar, seni kriya, dan eksplorasi buku artistik.

Pameran dengan ragam porsi seni rupa seperti ini memang terbilang langka. Dan di antara sebagian besar karya itu, tampak pula karya-karya yang menarik.

Pada karya-karya eksplorasi buku artistik misalnya, banyak menghadirkan bentuk-bentuk buku berbahan kain dan kasa yang imajinatif, tema yang unik dan cocok untuk anak, serta mampu memberi ruang lebar pada kemungkinan imajinasi itu pada anak didik. Begitu pula di seni lukis pada beragam bentuk kaleng bekas biskuit hingga kanvas, menyajikan karya yang tampak digarap serius lewat pola bentukan visual dan tema-tema yang unik. Sebuah kaleng persegi empat, misalnya, melukiskannya dengan tema “7 Keajaiban Dunia”, selain ornamentik yang cantik. Sementara itu, di lukisan kanvas, lukisan kontemporer yang berkelas juga hadir menguatkan kesan serius pameran ini.

Begitu pula pada eksplorasi bentuk seperti pada bentukan abstrak kertas duplek yang disusun agak menumental, serta membentuk monster yang tak kalah imajinatifnya, bahkan juga dengan membuat kemasannya.

Meski dihadirkan bukan pada ruang yang komprehensif, seperti menempatkan lukisan abstrak, artefak rupa pada bentangan plastic vertical, hingga kriya dan boneka monster di hampir sebagian besar lorong-lorong kampus, serta di beberapa kelas yang juga biasa digunakan kuliah, pameran ini memberikan spirit baru bagi pameran seni rupa yang jarang disentuh, khususnya yang diperuntukkan bagi media pembelajaran seni.

Saya kira jika digarap secara konsisten dan lebih serius, pameran seperti ini, tidak hanya akan menghasilkan karya-karya seni rupa berkualitas, namun juga dapat mengangkat moralitas dan harga diri para pekerjanya. Modal sosial para pembelajar seni itu, bagaimanapun memerlukan portofolio, semisal pameran, yang akan jadi pusat perhatian atau penilaian masyarakat luas.

 

Eriyandi Budiman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s