Proses Mewujudkan Ide “Game”

Posted on Updated on


Ada pendapat yang mengatakan bahwa ide itu murah dan yang mahal adalah eksekusi. Kalimat itu menjelaskan bahwa kunci dari suatu produk yang baik terdapat pada proses eksekusinya, suatu ide yang luar biasa jika dieksekusi dengan tidak benar tidak akan menghasilkan produk luar biasa. Namun, suatu ide yang biasa saja yang dieksekusi dengan sangat baik bisa menjadi produk luar biasa. Hal ini juga berlaku untuk proses pembuatan sebuah game.

Sebagian besar orang yang bermain game biasanya memiliki satu ide game, baik merupakan pengembangan dari game yang pernah mereka mainkan atau mungkin suatu ide original yang sama sekali baru. Akan tetapi, tak sedikit game yang idenya bagus tapi hasil akhirnya tak sesuai dengan yang dijanjikan.

Contoh kasus, pada masa lalu misalnya game Duke Nukem Forever. Karena developernya terlalu ingin mengikuti teknologi terbaru, proses pembuatan game tersebut justru terus tertunda sampai lebih dari sepuluh tahun. Mereka lebih banyak melakukan penyesuaian ulang dengan teknologi baru yang digunakan.

Proses pengembangan softwara/game yang paling dasar biasa disebut dengan waterfall, di mana proses pembuatan game dilakukan berurutan dari awal hingga akhir, dan selalu diawali dengan planning, developing, testing, modifikasi, baru selesai. Dengan proses seperti ini, kita baru bisa melihat game kita sebagai suatu produk utuh pada akhir proses.

Metode yang lebih baik adalah metode iteratif, intinya adalah dengan membuat siklus pembuatan game dilakukan lebih cepat tapi bertahap. Mirip dengan proses seleksi ide bertahap yang dijelaskan pada artikel sebelumnya (http://gedebuk.org/56), proses iteratif ini akan membagi game ke dalam beberapa tahap berdasarkan kelengkapan fitur, dengan tujuan agar kita bisa memastikan setiap fitur terimplementasi dengan baik.

Contoh tahap yang biasa digunakan dalam proses iteratif misalnya alpha atau beta (mungkin sering dengar istilah alpha build atau beta testing). Detail apa saja yang harus diselesaikan untuk tahap alpha dan beta bisa berbeda-beda tergantung tim atau studio yang mengerjakan, misalnya:

– Alpha: gameplay utama sudah diimplementasi, tanpa fitur pendukung seperti menu atau leaderboard.

– Beta: semua fitur dalam game sudah diimplementasi, tapi tidak semua konten game sudah masuk, misalnya jenis-jenis musuh atau barang dalam game.

– Final version: semua konten sudah masuk ke dalam game dan bisa dibilang sudah lengkap.

Keuntungan yang bisa didapat dari proses iteratif adalah kita bisa lebih cepat menguji gameplay yang kita rancang, dan kita bisa bereaksi lebih cepat kalau ada sesuatu yang salah, tak perlu menunggu sampai semua fitur/konten selesai. Misalnya, kita perlu mengganti gameplay game tower defense dari pola pergerakan jalur seperti Kingdom Rush, ke pergerakan sederhana (kanan ke kiri saja) seperti Plant vs Zombie misalnya karena pola jalur membuat gamenya berjalan lambat. Pada proses waterfall, kita baru bisa tahu gamenya lambat setelah semua pola jalur selesai dibuat, sedangkan pada proses iteratif kita bisa tahu lebih cepat, bahkan sebelum pola jalur level dibuat.

Apakah kita harus menunggu game kita masuk tahap final baru kita rilis? Tidak, justru akan lebih baik kalau kita memberikan kesempatan untuk orang lain mencoba game kita pada tahap-tahap sebelum final. Kita bisa berikan pada teman-teman dekat atau sesama pembuat game, biasanya akan banyak masukan yang bisa diterapkan untuk membuat game kita lebih baik lagi.

Punya pertanyaan tentang pembuatan game? Tulis komentar di http://gedebuk.org/57.

 

Tim Gedebuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s