Dalam Pasrah

Posted on Updated on


Tangis dan air mata sudah lama tak lagi menjadi sahabat Nyonya Farantina (46 tahun). Ia sudah menyadari bahwa ratapan dan rintihan hanyalah menghasilkan sebuah keterpurukan. Walau mencoba menguak kenyataan, akhirnya segalanya kembali seperti sebelumnya. Dunia suaminya bukan lagi yang dulu. Ia sudah beranjak jauh dari titik keberangkatan mereka, sedetik setelah menikah. Apa yang sudah diukir dalam kata-kata, hanya sesaat menjadi bukti.

Ia mencurahkan isi hati ini kepada pengasuh. Berikut adalah percakapannya:

Dulu saya berpikir bahwa pernikahan adalah episode akhir dalam kehidupan cinta. Artinya tak akan ada lagi romansa baru, apalagi pernikahan kedua dalam sebuah mahligai rumah tangga. Ternyata tak demikian bagi kehidupan saya. Kebahagiaan pernikahan rasanya hanya sesaat saja. Selanjutnya hanyalah derita batin berkepanjangan. Saya hampir tak mengenali lagi lelaki yang dulu sangat saya kagumi. Ia sudah berganti kebiasaan.

Kami menikah atas dasar cinta. Saya mengagumi sikapnya yang ajek. Dalam segala hal ia selalu tampak serius. Tak ada kata setengah-setengah bila ia mengerjakan sesuatu. Yang ada dalam benaknya hanyalah satu, keberhasilan. Ia pun pantang berhenti bila apa yang menjadi obsesinya terwujud. Saya bangga menjadi istrinya. Selain ia tangguh dalam mengejar cita-cita, kasih sayangnya pada keluarga nyaris tanpa cela. Semakin tenanglah saya.

Suatu perjamuan makan diadakan pimpinan tertinggi di perusahaan swasta tempat suami saya bekerja. Seseorang yang ternyata teman SMA suami mengajak suami pindah pekerjaan. Saya bangga ketika beliau memilih suami sebagai tangan kanannya. Sejak suami pindah ke kantornya, ia sering dibawa-bawa lelaki yang selalu perlente itu. Kehidupan kami meningkat dari segi ekonomi. Kebutuhan sekunder mulai terpenuhi. Walau tebusannya, saya sering kehilangan dia. Sering kali ia harus berdinas luar, bahkan hingga sebulan lamanya. Saya mulai gelisah.

Kekhawatiran saya beralasan. Suami yang dulu sangat maskulin, kini jadi dandy, pesolek. Ia bahkan mulai mengenal wewangian mahal. Ketika saya tanyakan, jawabnya tuntutan profesi. Rupanya tak hanya penampilan yang menjadi tuntutan profesinya itu, kencan pun mulai dikenalnya. Pernah suatu malam, ada dinner party. Saya baru melahirkan si bungsu. Ia tak bisa membatalkan acara itu karena semua rekannya menunggu, katanya. Yang membuat saya tak enak, ia tetap membawa pendamping, walau istrinya baru saja berjuang melawan kesakitan. Katanya wanita itu rekan sekantornya. Saya tak menanggapi apa pun yang dikatakannya.

Karena seringnya ia tidak pulang, saya sudah terbiasa. Sampai pada puncaknya, melalui rekan-rekan yang “kasihan” pada saya, terbukalah tirai realitas. Ternyata, ia sudah punya yang “baru”. Mulanya saya marah, berang, dan sakit hati. Bahkan, tersirat ingin bercerai. Tetapi setelah saya pikir, apa yang mau saya berikan kepada anak-anak. Saya tidak bekerja, tak punya keahlian apa-apa. Saya pasrah saja. Saya biarkan telinga ini dijejali berita tentang kencan-kencan suami dengan wanita-wanita cantik.

Saya diajak istri rekan sejawat suami agar aktif di organisasi wanita kantor mereka. Ternyata saya tak sendiri. Saya mulai melihat ada kemampuan untuk maju. Sederhana saja. Bermula dari kedatangan ibu-ibu ke rumah. Mereka memuji masakan saya. Tiba-tiba ada yang memesan masakan saya untuk ulang tahun putrinya. Ternyata itu menjadi kunci keberhasilan. Pesanan datang bertubi-tubi. Tak sampai tiga tahun, saya berhasil membuat katering. Semua karyawannya adalah ibu-ibu yang senasib. Mulanya hanya mengisi waktu, lama-lama menjadi bisnis besar. Usaha saya lebarkan lagi, walau masih dengan yang sejenis.

Suami masih bertualang, tetapi saya sudah tidak sakit hati lagi. Saya pasrah pada keadaan, tetapi bukan dengan merenung dalam lautan air mata. Apa saja pekerjaan positif saya ikuti. Mulai dari pertemuan kerohanian, sampai kegiatan olah raga, tak saya lewatkan. Suatu waktu, ia datang dengan wajah keruh. Seperti biasa, saya layani dia makan dan minum. Tiba-tiba ia bertanya tentang cinta dan kesetiaan.

Ada apa? Ternyata ia minta agar saya tak minta cerai darinya. Takut juga ternyata ia berpisah dari saya. Lalu, mengapa harus ada wanita lain? Ia tidak bisa menjawab. Mengikuti tren? Atau tuntutan profesi? Akhirnya saya sarankan agar dia berhenti dari pekerjaannya. Kembalilah pada pekerjaan lama, biar penghasilan tak melimpah, tetapi hati bahagia. Lama ia tenggelam dalam dunianya. Tampaknya ia merenungkan saran saya, tetapi belum tahu bagaimana caranya melepaskan diri dari dunianya yang sekarang. Saya pasrah saja, semoga Tuhan memberi jalan keluar kepada kami.

Asuhan Aam Amilia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s