Ikatan Emosional yang Baik Cegah Gangguan Emosi Anak

Posted on Updated on


Pengasuh rubrik konsultasi paedagogi yang saya hormati. Saya mempunyai putra usia 3,5 tahun dan baru masuk playgroup. Perilakunya emosional, egois, suka menolak pada nasehat kami. Anak kami juga cenderung belum mandiri melakukan kegiatan sehari-hari, seperti: makan, berpakaian, mengambil, dan menyimpan barang mainannya sendiri. Selain itu, ia juga mengalami kesulitan untuk bergaul dan bermain bersama teman sebayanya, sering mengalami kesulitan untuk beradaptasi dalam sosialisasi teman sebayanya, dan mudah tersinggung.

Semua yang dia lakukan harus kami layani dan penuhi. Ketika terlambat memenuhi apa yang dia inginkan, ia langsung marah dan berteriak sambil menangis. Tindakan apakah yang harus kami lakukan untuk menangani gangguan emosi yang dialami oleh anak kami tersebut, supaya anak kami tidak menimbulkan keributan di rumah atau di sekolah? Terima kasih atas tanggapan Bapak Pengasuh rubrik ini.

Salam,

Purie Wanty di Bandung.

Putra Ibu Purie mengalami gangguan emosi (emotionally disturbed), biasanya anak seperti ini sering mengalami konflik baik dengan orang lain maupun dengan diri sendiri. Mereka mengalami kesulitan untuk bergaul, belajar, dan beradaptasi dengan teman sebayanya. Juga mudah tersinggung, kurang mandiri dalam melakukan kegiatan sehari-hari sesuai dengan usia perkembangannya. Gangguan emosi ini terkadang lazim ditemui pada anak-anak usia di bawah lima tahun (balita). Namun, jika perilaku tersebut masih bertahan sampai ia bersekolah TK atau SD, bisa jadi ada yang salah dengan pola asuh orangtuanya.

Ada empat faktor utama penyebab gangguan emosi pada anak, yaitu: 1) Gangguan biologis dan penyakit, 2) Lingkungan keluarga, 3) Lingkungan sekolah, 4) Pengaruh budaya yang negatif. Penyebab ini sifatnya kompleks dan jamak. Jadi tidak mungkin hanya satu faktor saja yang menjadi penyebab timbulnya gangguan emosi.

Penanganan masalah gangguan emosi harus dilihat dan dilakukan secara menyeluruh, artinya semua pihak, termasuk guru dan orangtua serta lingkungan sekitar, karena kelemahan anak yang mengalami gangguan emosi adalah ketidakmampuan menguasai keterampilan sosial. Orangtua dan guru diharapkan dapat mengajarkan bagaimana cara menanggapi perasaan orang lain dan perasaan dirinya sendiri serta perilaku yang tepat dalam bertingkah laku dalam suatu lingkungan. Misalnya dengan cara melatih mengungkapkan perasaan yang dirasakan, senang, sedih, marah, gembira, dan perilaku sepertia apa yang harus dilakukan ketika ada teman yang mengambil barang tanpa minta izin dll.

Bentuk pembelajarannya bisa berupa role play. Dengan demikian, anak mendapatkan model perilaku yang positif dengan mengetahui bagaimana harus bersikap dalam situasi sosial tertentu. Teknik lain adalah mengatasi gangguan emosi pada anak kita dengan mengampilkan tingkah laku positif sebagai model dalam merespons perilaku emosional dan membantu anak berlatih menampilkan perilaku nonemosional. Menerapkan hukuman juga merupakan pilihan mengatasi gangguan emosi yang terjadi.

Langkah-langkah dan teknik penganganan masalah gangguan emosi anak meliputi latihan, permainan, saran dan nasihat, pengondisian (conditioning), model peniruan (modeling and imitation), serta konseling. Untuk membantu mempermudah orangtua dan guru dalam menangani permasalahan emosi yang dihadapi anak, bersikaplah penuh kesabaran, kasih sayang, perhatian, ramah, dan bertoleransi terhadap anak, menghargai anak, memberi kebebasan pada anak, serta menciptakan hubungan yang akrab dengan anak.

Jangan ragu mengekspresikan cinta anda untuk si buah hati. Ikatan emosional yang baik antara orangtua dan anak harus dikembangkan sedini mungkin karena berdampak jangka panjang dalam kehidupan anak. Anak-anak yang memiliki bonding atau ikatan yang kuat dengan orangtuanya lebih jarang memiliki gangguan emosi atau perilaku di usia sekolah.

Kedekatan emosional dengan anak ternyata punya manfaat yang sama jika dibangun oleh kedua orangtua atau orangtua tunggal. Masa yang dianggap penting untuk membangun bonding adalah dua tahun pertama kehidupan anak.

“Periode dua tahun pertama sangat penting untuk perkembangan emosional dan sosial anak, setidaknya salah satu orangtua harus meluangkan waktunya untuk melakukan bonding. Yang menarik, ternyata efek ikatan yang erat pada anak dengan orangtua tunggal memiliki perkembangan emosional yang sama dengan anak dengan orangtua utuh. Rasa aman dan hubungan yang positif dengan salah satu orangtua sebenarnya sudah memenuhi kebutuhan anak akan rasa aman sehingga cukup sebagai fondasi bagi perkembangan emosinya.

Dr Hidayat, Dpl, SEd, MSi. (Dosen PKhFIP dan Pascasarjana UPI)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s