Sri Nurhayati – Jiwa yang Menari

Posted on


waktufajar

Serumpun rambut menempel di lehernya yang berpeluh. Lalu helai-helai panjang itu berterbangan liar ke udara saat sang pemilik malakukan “pivot”, gerakan memutar seperti gasing di atas kaki langsingnya. Tepuk riuh membahana bagi Sri Nurhayati (27) bintang dansa malam itu. Senyum terkembang di bibirnya, mewakili hati yang bercerita tentang jiwanya yang melebur dalam tari.

Berbadan mungil, nyaris tertutup oleh pedansa-pedansa lainnya, sinar bintang tetap berpendar terang dari ibu muda ini. Lincah kakinya menapaki lantai dansa, seirama petikan melodi Santana, Beatles, atau siapapun yang bermusik mengiringinya. Beri Sri waltz, salsa, jive, semua musik akan ia setubuhi dengan sempurna. Sri menguasai 15 jenis tarian ballroom dan latin.

Pertunjukan kali ini berlangsung di salah satu mal yang memberikan fasilitas bagi pencinta dansa setiap Selasa malam. Bukan hanya malam itu, aura bintang keluar dari tubuhnya setiap ia menari. Sungguh tepat penilaian dewan juri menganugerahinya predikat juara pertama “Dancing With The Stars”, acara yang diselenggarakan salah satu televisi swasta, beberapa waktu lalu.

Prestasinya diawali tahun 2000 saat menyabet juara I dalam “National Dancesport Championship Notice Latin”. Lalu bergulir juara-juara pertama lainnya seperti di “Modern Ballroom & Latin American Dancing 2001 Preamateur”, “Semarang National Dancesport Championship 2002 Preamateur”, Peringkat III “Indonesian Dancesport Championship Plenary Hall 2002”. Juga merenggut emas dan perak pada Porda Jabar mewakili Kabupaten Cirebon. Prestasinya yang berderet panjang, akan menghabiskan ruang ini jika ditulis lengkap.

“Waktu PON Kalimantan lalu saya tak berhasil, tak ada sponsor, membuat saya harus berjuang sendiri. Tidak masalah, belum hoki saya,” katanya santai. Pada beberapa penampilan, ia memiliki pasangan tetap, yakni Ferri, kakak sepupunya.

“Akan tetapi, waktu di Surabaya saya berpasangan dengan Denni,” ujarnya menyebutkan nama salah seorang rekannya.

Gelar-gelar juara hanya pelengkap. Bagi Sri, tujuannya menari adalah untuk menari. Sudah “melenceng” dari tujuannya semula untuk mencari nafkah. Kehidupan masa kecilnya jauh dari glamornya kehidupan bintang, pahit bahkan. Umur 13 tahun, saat lulus sekolah dasar, ayahnya masuk dalam kelompok yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) di kantornya, dan meminta Sri mencari nafkah untuk dirinya sendiri.

Salah seorang kakaknya mengajak bergabung dengan “Studio 14”, salah satu sanggar tari yang kemudian menggodoknya sebagai seorang pedansa sejati. “Saya menangis, karena enggak suka. Tapi inget adik-adik masih kecil, saya harus bisa bantu mereka,” katanya.

Karena tak ada pilihan lain, gadis cilik kelahiran Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung ini pun memulai debutnya sebagai penari, berkeliling dari pentas ke pentas. “Setiap mendapat honor atau hadiah karena juara, saya sisihkan sebagian untuk orang tua dan adik-adik saya,” katanya.

Bibirnya lagi-lagi tersenyum. Namun, hal itu tetap tak mampu menahan kilatan sendu di matanya. “Hingga saat ini saya juga tetap berjuang untuk mereka,” tuturnya.

Kesan mesum

Waktu bergerak dan melemparkannya pada kenyataan bahwa ternyata dunia yang semula ia tolak, memberinya kebahagiaan yang luar biasa. Jiwanya mampu merentak, melembut, lincah, dan terkadang melankolis dalam dunia ini. Suatu pergantian suasana hati yang cocok bagi jiwanya yang dinamis.

Kendati piawai dalam beberapa jenis tarian daerah dan modern, ia mendapati dirinya telah menyenangi lantai dansa. Untuk sebagian orang, dansa identik dengan kata “mesum”. Dia membuktikan bahwa pendapat itu sama sekali tidak benar. “Kalau mau berbuat macam-macam malah bukan di lantai dansa, arena dansa tempat yang amat terbuka dan ditonton banyak orang,” ujarnya.

Dalam semua gerak rutinitasnya, Sri selalu melibatkan putri tunggalnya, Keyla (4 tahun), juga suaminya Luckman. Suaminya amat memahami kegemaran Istrinya. Sementara Sri bersimbah peluh menari mengikuti irama sekitar 20 lagu, Luckman menunggu waktu untuk menjemput istrinya. “Kepercayaan yang tak boleh saya sia-siakan. Saya harus bertanggung jawab atas kepercayaan penuh suami,” katanya.

Dari pinggir lantai dansa, Keyla mengentak-entakkan kakinya, mencoba mengikuti gerakan ibunya dari jauh. “Tapi untuk Keyla, saya bebaskan kelak ingin menjadi apa. Tidak harus jadi penari seperti saya,” kata Sri.

Masih dalam balutan kaus ketat yang basah oleh keringat, ia mohon pamit untuk menjumpai suaminya yang sudah lama menunggu di tempat parkir. Sri tak sempat bersalin. Mal sudah tutup. Lampu temaram membentuk siluet indahnya dari belakang. Dansa mengolah tubuhnya kembali sempurna seperti masa gadisnya.

 

Uci Anwar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s