Jalan-jalan Sekaligus Duta Budaya di Korea

Posted on


Bahkan sebuah mimpi yang mustahil pun bisa terwujud jika kita berusaha dengan sungguh-sungguh. Seperti arti kutipan kalimat terkenal man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil.

Hanya dalam waktu kurang dari tiga bulan (awal Maret sampai awal Mei 2013) setelah bergulat mencari sponsor dan berlatih akhirnya kami bisa berkunjung ke negeri pengekspor Kpop. Tim Angklung Symphony, yang terdiri atas sepuluh murid dari SMA Plus Muthahhari beserta dua orang guru pendamping. Pada tanggal 18 Mei 2013 hingga 28 Mei 2013 menjelajah tiga kota di Korea Selatan, yaitu Seoul, Jeonju, dan Busan. Misi utamanya adalah memperkenalkan angklung dan alat musik Sunda lainnya di sekolah-sekolah di Korea.

Kejutan di Bandara Incheon adalah dua kotak angklung yang tak bisa langsung melewati pabean. Ketegangan mulai melanda. Apa mungkin mi instan yang disisipkan di celah-celah kosong dianggap barang haram? Mereka menginginkan kotak dibuka. Setelah melihat sendiri isi kotaknya dan dijelaskan lalu diperagakan cara memainkannya, barulah mereka yakin angklung itu alat musik.

“Di pemindai ujung angklung terlihat seperti senjata,” ujar salah satu petugas menjelaskan kepada saya. Rupanya itu yang jadi akar persoalan.

Begitu mendarat di Korea, pelajaran penting pertama yang saya berikan kepada murid-murid adalah berjalan kaki dan berhemat. Di Korea tak ada ojek atau angkot, jadi mereka harus terbiasa berjalan kaki, bergerak cepat, dan menghemat ongkos.

Bertolak dari hostel kami yang berada di daerah Hongdae, perjalanan bermain dan lokakarya angklung dimulai. Jeonju, yang terkenal dengan nasi campurnya yang disebut bibimbap, menjadi kota persinggahan kedua setelah Seoul. Di sini, murid-murid menginap selama dua malam di rumah murid-murid SMA Shinheung dan saya beserta guru seni di rumah guru-gurunya. Cerita lucunya datang dari murid-murid saya dan guru seni, Pak Rizki. Karena kendala bahasa, mereka kadang-kadang mengobrol dengan bantuan terjemahan di telefon seluler atau bahasa isyarat. Ajaibnya, percakapan tetap tersambung dan akur sampai-sampai mereka sangat bersedih ketika harus berpisah.

Selama di Jeonju kami sempat berjalan-jalan ke Gyeonggijeon Shrine, Jeondong Catholic Church, dan Hanok Village. Tak lupa, kami mampir di restoran yang terkenal akan kalguksunya, Veteran. Ketika Pak Guru Kim, sang tuan rumah, mengatakan bahwa penampilan pertama kami akan dilakukan di alun-alun kota dekat tempat wisata, kami sedikit terperanjat.

Kami tak yakin orang-orang akan tertarik untuk berhenti dan menonton kami. Kekhawatiran itu musnah saat orang mulai berdatangan  untuk menonton. Tak hanya itu, mereka mulai mendekat, memegang angklung, serta mencoba memainkannya. Mereka kemudian bertanya-tanya soal angklung. Pada akhir penampilan, satu per satu penonton kami ajarkan cara memainkan alat musik dari bambu ini. Mereka antusias untuk mencoba. Alhamdulillah, pertunjukan pertama lumayan sukses.

Pertunjukkan selanjutnya adalah di SMA Shinheung dan Jeonju Art School sempat membuat kami ketar-ketir. Saat datang kami disuguhi penampilan Samulnori ditemani orkestra musik tradisional yang terdengar spektakuler. Sebelum pentas saya jelaskan bahwa kami hanya datang dari sekolah umum bukan sekolah seni. Kemampuan kami jauh di bawah mereka. Sebuah ucapan menenangkan datang dari murid-murid di sekolah tersebut.

“Gwaenchanayo. Tidak apa-apa,” ujar beberapa murid di belakang. Di luar dugaan, mereka langsung tertarik ketika mendengarkan permainan kendang Pak Rizki. Saat akhirnya angklung kami mainkan, mereka tambah terpesona. Perpaduan angklung dan kendang membius mereka. Alhamdulillah, lenyap sudah kekhawatiran tadi.

Serba kebetulan

Kota selanjutnya yang kami singgahi adalah Busan. Selama tiga malam kami menginap di sekolah kenalannya Pak Guru Yang. Saat berada di Busan, kami sempat berjalan-jalan ke pasar ikan Jalgachi, menaiki Gunung Hwangryoung yang terletak di dalam kota. Dari puncaknya kita bisa melihat pemandangan kota Busan, nongkrong di depan Nuri Maru APEC House, serta bermain di Pantai Gwangalli dan Haeundae.

175626_menyusuri-jalanan-gangnam-di-korea-selatan_663_382

SMA Gaesung adalah sekolah pertama kami mengenalkan angklung. Walaupun sesaat tapi sangat berkesan karena murid-murid yang sedang berlatih memainkan Samulnori itu sangat tertarik dengan angklung. Kami sempat bertukar alat musik tradisional sebagai cenderamata. Asia Community School, selain tempat menginap juga tempat kami memberikan penampilan dan lokakarya angklung. Kami dijamu dengan sangat baik oleh kepala sekolahnya. Yang unik, murid-murid di sini berasal dari beragam negara. Selanjutnya kami mampir ke SMP Baejung dan berkesempatan manggung di Stasiun Subway Seomyeon yang penontonnya kebanyakan para sepuh.

Yang tak dinyana adalah kami bisa main pada acara “International Youth Walk for World Peace and Restoration” yang diadakan di Seoul Olympic Stadium. Semua serba kebetulan. Panitianya kebetulan butuh tim kesenian tradisional dan kami butuh angkutan murah untuk kembali ke Seoul. Sempat ada tawaran main di stasiun televisi. Sayang harus kami tolak, karena jarak cukup jauh dan besoknya kami harus pulang. Di sisa waktu di Seoul, kami berjalan-jalan ke Istana Gyeongbok, Gwanghwamun dan Seoul Plaza, serta Cheonggyecheon. Untuk mencari oleh-oleh, kami mampir ke Pasar Namdaemun dan Dongdaemun yang terkenal murah.

Keesokannya kami pun pulang dengan hati senang dan riang karena bisa berwisata sekaligus menunaikan tugas sebagai duta budaya.

 

Siti Hasanah, guru bahasa Inggris dan bahasa Korea, pencinta jalan-jalan, tinggal di Bandung.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s