Hantu Bapak

Posted on Updated on


Cerpen Bashirah Delmora Anjali

Silong buru-buru menyelesaikan pekerjaannya. Piring terakhir di tangannya bahkan belum bersih benar dari minyak. Dengan sigap diletakkannya piring itu di meja kayu. Sisa-sisa air merembes membasahi meja dan membuat urat kayu meja itu terlihat lebih jelas. Baru saja salah seorang rekan menepuk bahunya.

“Dipanggil Bos,” ucap rekan itu. Jempolnya menunjuk ke ruangan majikan.

Keluar dari ruangan majikan Silong ingin segera pulang menemui Ibunya. Sudah beberapa hari ini Silong merasakan firasat yang kurang baik. Perasaan yang tidak nyaman setiap bangun pagi. Silong meraba-raba apa yang membuat perasaannya jadi tidak nyaman seperti itu. Tapi semakin dirabanya semakin tak ditemuinya jawaban yang pasti. Rupanya inilah yang terjadi. Silong harus berhenti bekerja sebagai pramusaji sekaligus pencuci piring di rumah makan ini. Dan mulai besok ia harus susah payah lagi mencari kerja.

Di rumah, Ibunya seperti biasa, bersenandung kecil di ruang tamu. Sambil mengipas wajahnya dengan selembar koran bekas.

“Pulang cepat?” tanya ibunya demi melihat Silong bengong di depan pintu.

Silong diam saja. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Silong merasa kesal dengan dirinya, dengan perasaan-perasaan buruknya. Memang, rumah ini hanya akan mereka tempati beberapa hari lagi. Itu pun karena kompromi saja.

Mestinya rumah ini sudah disita beberapa bulan lalu untuk menebus utang-utang yang menumpuk. Sebagian hutang itu diwariskan oleh bapaknya untuk membiayai kampanye menjadi Walikota, yang akhirnya gagal. Semenjak kegagalan itu, Bapaknya sering jatuh sakit. Barangkali karena malu, kecewa atau memikirkan betapa telah banyak modal yang dikeluarkan. Sampai akhirnya Bapaknya meninggal dunia dan meninggalkan pula begitu banyak utang.

“Eh, kok malah bengong. kamu kenapa, sakit?” Ibu menabrak lamunan Silong dengan suaranya yang melengking.

“Bukan. Saya izin tadi, capek Bu.”

Silong menyesali kata-katanya. Seharusnya dia tidak melontarkan kata capek di depan ibunya. Sejak Bapak meninggal, kemudian disusul dengan kebangkrutan mereka, Ibunya jadi mudah bersedih. Buru-buru Silong menghampiri ibunya dan mengalihkan perhatiannya dengan bercerita kalau majikannya, pemilik warung makan, adalah orang yang baik hati. Tentu saja, Silong tidak akan bercerita kalau ia sudah diberhentikan, setidaknya sampai ia mendapat pekerjaan lain.

**

Kalau saja dulu bapak tidak tergoda untuk mencalonkan diri menjadi Walikota. Kalau saja Bapak tidak memilih untuk membuang jabatannya sebagai Kepala Dinas. Hari ini Silong pasti tidak akan menjadi pelayan sekaligus tukang cuci piring, harus siap-siap diusir, mencari rumah kontrakan dan sendirian merawat Ibunya yang kelihatan lebih tua dari usianya. Tidak ada keluarga yang mau membantu mereka.

Awalnya masih ada yang bersimpati. Mengunjungi mereka, memberi semangat dan sedikit bantuan. Tapi itu cuma beberapa bulan saja setelah Bapaknya meninggal dunia. Lambat laun, orang-orang itu mulai jarang muncul. Jangankan mendatangi, bila didatangi saja mereka kerap menghindar dan pura-pura tak ada di rumah. Apalagi semenjak mereka tahu kalau Bapak banyak sekali mewariskan utang.

Tak ada cara lain, semua harta mereka harus direlakan untuk melunasi utang. Kalau tidak penjara menjadi taruhannya. Bila nanti ada sisa uang rencananya akan dipakai Silong, yang terpaksa putus kuliah, untuk memboyong ibunya ke rumah kontrakan.

Mengontrak sepetak rumah dan mencari kerja. Menjadi pelayan dan tukang cuci piring di rumah makan adalah pilihan yang mesti diambil sembari mencari kesempatan lain.

Pada saat-saat paling buruk, Silong jadi begitu benci pada Bapaknya. Kasihan ibu, perempuan yang dulu anggun dan disegani orang. Makin lama Ibu makin menunjukkan tanda-tanda yang ganjil. Tak ada yang dilakukan Ibu setiap hari, kecuali duduk di beranda atau ruang tamu, bersenandung kecil sembari mengipas wajahnya dengan koran bekas. Mungkin itu yang membuat Silong sering khawatir. Mungkin saja, suatu hari, Ibunya akan bunuh diri saking tak kuat lagi menanggung kesedihannya.

Kebencian Silong tak hanya pada Bapaknya, tapi juga pada kawan-kawan Bapaknya. Mereka yang dulu begitu menggebu-gebu meyakinkan Bapak untuk mencalonkan diri menjadi walikota. Terutama Haji Kamir. Lelaki yang paling sering datang ke rumah Bapak. Silong ingat benar kata-kata Haji Kamir bahwa bapak sangat pantas menjadi walikota.

“Kalau Bapak kan sangat dipercaya oleh masyarakat, saya yakin Bapak adalah pemimpin yang amanah. Pada diri Bapak terdapat sifat-sifat itu. Soal biaya tenang saja pak, kita bisa saling berbagi lah.”

“Tapi saya tidak terlalu tertarik dengan politik, Pak Haji. Apa bisa saya ini nanti amanah?”

“Lho, daripada artis-artis itu. Coba Bapak lihat. Bisa apa sih mereka? Tapi banyak yang jadi kan? Padahal mereka cuma mengandalkan ketenaran saja. Kalau bapak lain, saya kenal bapak sebagai orang yang dermawan dan merakyat. Pak, janganlah biarkan posisi ini dipegang oleh orang-orang yang punya sifat buruk. Nanti masyarakat kita buruk pula nasibnya. Tak terurus keperluannya. Apa bapak tak merasa kasihan?”

“Kenapa bukan Pak Haji saja yang mencalonkan diri?”

“Lha, saya ini tak punya sifat-sifat seperti Bapak. Saya khawatir bisa-bisa saya menyalahgunakan jabatan kalau saya terpilih. Lagi pula saya ini tak sepopuler Bapak.”

“Tapi saya juga khawatir soal itu.”

“Percayalah sama saya pak. Bapak sudah ditakdirkan untuk menjadi pemimpin kami, bapak akan menjadi pemimpin yang mampu memperjuangkan kepentingan masyarakat kita.”

Bujukan Haji Kamir memang beralasan. Bapak termasuk orang yang sangat dihormati oleh masyarakat. Selain dermawan, Bapak juga tidak pernah memandang sebelah mata pada siapa saja. Tidak sedikit orang datang ke rumah meminta bantuan Bapak. Meminjam uang, minta tolong agar dicarikan pekerjaan, atau memohon sumbangan untuk acara tertentu.

Semenjak Bapak menyanggupi untuk maju menjadi wali kota, lebih banyak lagi orang yang datang ke rumah. Tetapi yang datang bukan lagi masyarakat, lebih sering Haji Kamir dan beberapa orang lain yang tak pernah benar-benar Silong ketahui namanya. Ibu mendukung sepenuhnya keputusan Bapak. Dan Silong sendiri, pada saat itu, diam-diam juga sudah membayangkan bagaimana nanti bila Bapaknya terpilih. Tentu sebagai anak seorang wali kota, nantinya Silong juga kecipratan baiknya.

Bapak mulai kampanye kesana-kemari, didukung oleh sebuah partai Bapak dipasangkan dengan seorang anak muda yang kelihatan pendiam. Semakin gencar kampanye yang dilakukan, semakin tersita pikiran dan tenaga. Dan ongkos dari semua usaha itu tidaklah sedikit. Bapak mundur dari jabatan yang sudah dipegangnya. Untuk itu, dengan baik hati, Haji Kamir rela meminjamkan uang. Tentu saja dengan jaminan, kalau bapak nanti terpilih, semua hutang-hutang itu akan dilunasi. Karenanya, jaminan yang lain diperlukan sebagai tanda hitam di atas putih. Maka semua harta bapak, rumah dan aset-aset usaha dijadikan jaminan.

Begitulah, Bapak kalah telak. Ditinggalkan orang-orang yang dulu dengan menggebu-gebu mendukungnya. Ditinggalkan bersama setumpuk hutang. Sedang perjanjian harus ditepati, rumah dan semua aset-aset Bapak bakal disita.

Sekarang Silong hanya berpikir bagaimana mendapatkan pekerjaan. Bersama ibu ia ingin mengubur semua yang telah terjadi. Entah sampai berapa lama mereka bisa mendapat belas kasihan, tidak diusir dari rumah yang bukan lagi menjadi hak mereka. Sayang, Ibunya seperti belum bisa menghilangkan kesedihan dan kekecewaannya. Malam ini bahkan Silong gagal membujuk ibunya untuk berhenti membicarakan Bapak yang katanya tiap malam datang ke rumah ini.

“Bapakmu sering datang, Nak. Wajahnya bersih sekali. Sudah tua dia, tapi masih tampan dan romantis.”

“Sudahlah Bu, ini sudah malam. Ibu masuk dulu, istirahat” potong Silong.

“Eh, kamu itu. Ibu belum selesai cerita. Tadi malam bapakmu datang lagi, kali ini wajahnya sedikit kusam. Seperti orang yang sedang bersedih. Ibu tanya, ada apa? Dia diam, Ibu mendesak dia untuk bercerita.” Ibu terdiam sejenak.

“Bapakmu merindukan ibu, Nak.” Ibu menatap Silong. Suatu cahaya lembut terpancar dari matanya. Lembut tapi kelabu. Seperti sarat oleh kesedihan yang tak bisa lagi tertanggungkan.

“Ibu..”

“Bapakmu sendirian disana. Dia tak punya siapa-siapa. Ibu tidak bisa membiarkannya kesepian begitu. Dia juga menanyakanmu. Dia sampaikan permintaan maafnya. Dia ingin kamu ikhlas dan menerima semuanya dengan tabah. Malam ini dia berjanji akan datang menjemput Ibu.”

“Ibu..”

“Dia juga bercerita tentang kebiasaannya yang baru. Memakan kembang. Katanya kembang-kembang di tempatnya enak dimakan. Dia berjanji membawakan ibu nanti bersama pakaian pengantin. Bapakmu mau melamar ibu lagi..”

“Ibu..!”

**

Jendela kamarnya tidak ditutup sejak semalam. Ataukah ibu yang telah membukanya? Silong terjaga oleh silau yang memancar dari luar jendela. Seketika itu dia disergap perasaan yang aneh. Bukan kecemasan, bukan pula kesedihan. Meski semalam susah payah ia menepiskan pikiran-pikiran buruk di kepalanya.

Pintu memang tidak dikunci. Artinya benar, ibunya yang telah membuka jendela. Silong melangkah keluar kamar dan mencari ibunya. Di kamar tamu, tidak ada. Di dapur, tidak ada. Pintu kamar mandi terbuka. Silong menuju beranda sembari memanggil kecil. Tak ada jawaban. Beranda kosong.

Sedikit cemas, Silong masuk lagi, menuju kamar ibunya. Silong mengetuk pintu, mula-mula pelan. Lama-lama semakin keras sambil memanggil-manggil. Pintu tidak terkunci. Silong menengok ke dalam. Tak ada siapa-siapa, kamar itu kosong. Tapi di tempat tidur tergeletak sepasang pakaian. Seperti pakaian pengantin yang baru dikeluarkan dari lemari. Dada Silong berdebar, kecemasan mulai menjalari pikirannya. Kamar ibunya seperti baru disemprot oleh pewangi. Seperti wangi kamboja. Silong semakin cemas. Baru saja ia hendak menghambur, dari luar terdengar suara orang-orang riuh. Seperti mendekat ke rumah itu.***

Lombok, Maret 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s