Sasakala

Posted on Updated on


Oleh Asep Salahudin

Dalam amarah membuncah perahu itu ditendang. Berubah menjadi gunung yang tengkurap. Danau yang dibayangkan menjadi tempat lalayaran dengan perempuan yang mengisi seluruh napas hayatnya, menjadi bah mengalir ke tempat-tempat landai. Menjadi rawa. Menjadi situ. Menjadi sungai-sungai kecil.

Seperti Titanik menabrak batu karang pada malam gulita. Terbalik sebelum secara perlahan tenggelam ke dasar lautan bersama seluruh cerita yang tidak sempat sampai terterakan di dermaga. Setelah pesta dan dansa, setelah setengah samudera dilewati. Kecuali hanya menyisakan perempuan bersama pecahan cinta yang diriwayatkannya dalam sisa ingatan di ujung usia, di sebuah kamar kusam di panti jompo.

Sangkuriang terus menyusuri jalan setapak. Menghitung ayunan kaki dalam langkah-langkah yang tak terhitung. Ribuan bahkan lebih. Semakin sepi, sepining sepi. Si Tumang yang tidak pernah berhenti mengiringi raib. Mungkin terbawa arus dan mati menyatu dengan anjing-anjing ashabul kahfi di Sawarga Loka. Anjing-anjing yang salaknya adalah dzikir kesetiaan kepada majikan. Anjing-anjing yang tidak pernah memburu tulang kecuali pemberian sang tuan. Anjing yang serupa Sinta setia kepada Rama yang justru pernah selingkuh memburu bayangan yang berkelebatan di rimbun hutan, tidak terpikat Rahwana walaupun dijanjikan menjadi bunga di nusa Alengka.

Ya. Terus melangkah. Bersama bayangan Sumbi yang tidak pernah lekang dari ingatannya. Sumbi yang telah menipunya. Tipuan yang nyaris sempurna. Sangat sempurna bahkan. Dan dirinya baru sadar tertipu dalam langkah-langkah yang tidak terhitung lagi. “Sumbiii…Sumbiii…”

Teriakannya menjadi gema. Teriakannya memantul menjadi aweuhan memenuhi barat dan kembali ke timur, dari selatan untuk pulang lagi ke utara. Dari atas ke bawah menjaul lagi ke langit. Dari awal ke akhir, ke lahir batin. Di sebuah mumunggang gunung Sawal.

Teriakannya memanggil-manggil nama Sumbi. Seperti sayatan atau mungkin seperti lolongan anjing sebelum menemui kematian di Sanghiyang Tikoro berteriak memanggil-manggil Sangkuriang. “Sangkuriaaang…Sangkuriaaang…” Ujung bunyi “ang” tak ubahnya aing seperti ujung kata anjing yang semakin lama semakin lamat terdengar, tidak berdaya disapu bah yang deras mengalir ke Citarum.

Seperti Sumbi yang dilanda kesangsian tentang tanda pitak di kepala jejaka yang baru datang itu. Jejaka tanpa cela. Lalaki langit lalanang jagat. Jejaka yang sesungguhnya kalau mau jujur telah meluluhlantakkan separo jiwanya. “Banyak tanda yang bisa jadi dimiliki banyak pemuda. Anakku bisa jadi, pemuda lain boleh jadi,” bisiknya antara ragu dan yakin. Antara tarikan iman dan tawaran bimbang saling mengisi.

Sudah telanjur. Ya sudah. Tanda itu telah membuatnya nekad mengajukan tawaran mustahil untuk dibikinkan perahu, dibuatkan danau dalam hitungan semalam. Semalam. Tanda yang melipatgandakan tenaga sang pemuda. Sekaligus di ujung ketakjubannya, Sumbi merancang penghianatan yang membuat Sangkuriang putus asa. Tak berdaya dan gelap mata.

Pengkhianatan yang dirancang tidak dengan manusia lain, tapi bersama ternak, bersama alam. Pikirnya, ternak dan alam jauh lebih bisa menyimpan rahasia. Kokok ayam dan kibaran boeh larang menuntaskan seluruh rencana pengkhianatan sekaligus menggetarkan perasaannya sendiri, menguburnya dalam, dalam rasaning rasa sebagai perempuan yang lama tidak pernah mendengar dengus nafas laki-laki di pusaran ranjang. Penghianatan yang dilakukan tidak dengan sebuah kemarahan, tidak juga kesumat apalagi dendam berkarat.

Penghianatan itu mengalir bersama sepi yang menyergap. Bersama penyesalan apalagi ketika melihat punggung Sangkuriang yang sebentar lagi tidak tampak terhalang pepohonan. Memasuki hutan dalam langkah yang entah. Mungkin juga ke hutan bersama marah. Mungkin untuk menuntaskan tapa setelah tergoda. Siapa manusianya yang tidak tergoda kejelitaan Sumbi.

Sumbi juga sadar bahwa dirinya sangat cantik. Kecantikan titisan Sanghiyang Sunan Ambu, titisan para dewi. Paduan kejelitaan Purbasari dan kecerdasan Ratna Suminar. Sumbi dengan mata bulat, kulit langsat. Rambut panjang dan setiap percakapannya mengalir kalimat-kalimat matang keluar dari sela bibir merahnya yang selalu basah. Gigi pualam dan berjejer tertib seperti para wayang yang berjajar di batang pisang menunggu giliran dimainkan Sang Dalang. Tatapannya adalah embun jatuh dari daun talas. Kecantikannya seperti Anjani yang telah membuat kepayang Sang Hyang Girinata.

Sangkuriang terus berjalan menyisir abad, menembus kala. Terus berjalan bahkan sekarang tidak lagi menyusuri hutan. Tidak lagi menembus jungkrang. Sangkuriang serupa turis kesiangan mendatangi kota, memasuki pasar, mall, supermarket dan perumahan padat penduduk.

Kepada setiap orang selalu yang ditanyakan perempuan bernama Sumbi dengan alamat yang tidak jelas. Mereka yang kebetulan ditanya tentu menggelengkan kepala bahkan anak kecil dan para gadis sebelum tuntas pertanyaan disampaikan sudah pergi duluan terbirit karena menganggap Sangkuriang tak lebih orang setengah waras. Pergi masuk rumah dan menguncinya rapat-rapat.

Sangkuriang tidak bosan terus menanyakan di mana Sumbi berada. Tidak bosan juga orang menjawab dengan gelengan kepala. Dan sekali waktu kebetulan bertanya kepada guru honorer SMA lulusan UPI Bandung, yang dari Villa Isollanya nampak Gunung Tangkuban Parahu, dia menjawab sambil mengernyitkan dahi, “Oh, Sangkuriang? Itu legenda masyarakat Sunda. Itu mah hanya dongeng pengantar tidur. Mitos!”

Ketika dijelaskan bahwa yang ada dihadapannya adalah Sangkuriang, maka si guru honorer yang belum juga diangkat jadi PNS itu alih-alih percaya, tapi lari masuk kelas menutup pintu dan mengajarkan sejarah sambil dirasuki keyakinan bahwa pelajaran sejarah yang disampaikannya tidak akan pernah didengarkan para muridnya, sejarah berlumut yang telah disampaikan secara berulang-ulang. Entah sampai kapan dia akan mendapatkan kurikulum sejarah baru, sekaligus diajarkan bahwa sosok yang baru saja ditemui adalah Sangkuriang asli, bukan jejadian.

Sangkuriang tidak bosan. Terus bertanya dan tidak pernah berhenti untuk bertanya. Ribuan jawaban telah didapatkan namun alamat Sumbi tidak juga ditemukan bahkan bukan hanya alamat Sumbi yang gelap orang semakin tidak percaya bahwa dirinya adalah Sangkuriang yang dipercakapan itu. Pernah juga mencoba menyisir pinggir Cimanuk dan sampai di ujung Pentura di desa Skober dan atas masukan perempuan bernama Sekar Maryam ditanyakanlah kepada paranormal Ayatulloh Tandi.

Sedikit jawaban tentang rumah Sumbi, sisanya adalah petuah sejarah yang kusut masai. “Mungkin ini orang terlalu lama bertirakat di bukit Sinai sehingga mendapatkan seribu perintah Tuhan yang membingungkan!” Sangkuriang hanya bisa mengira. Persis paranormal Tandi yang juga dikagetkan dengan lelaki yang datang tiba-tiba dari tempat entah, tidak diundang, dengan raut yang absurd.

“Maryaaam, kemarin kau lahirkan Isa tanpa ayah. Sekarang, kau suruh juga datang tamu gila yang ujug-ujug bertanya soal Sumbi. Apakah urusan aku ini dengan Sumbi. Aku sedang mengurus itu Manuwara!” sungutnya dari ujung telepon sambil terus mengelus burung Cucakrawa piaraannya.

Sangkuriang terus mencari Sumbi. Mungkin tidak akan pernah bertemu. Mungkin Sumbi dulu hanya menyelipkan kartu nama palsu. Sambil berselonjor di pasir pantai utara yang terik dan kotor dan bau terdengar lengkingan Ayu Tingting dari Transistor yang dijinjing nelayan tua laksana menertawakan Sangkurian.

“Kemana kemana kemana ku harus mencari kemana/Kekasih tercinta tak tahu rimbanya/Lama tak datang ke rumah/Di mana di mana di mana tinggalnya sekarang di mana/Kesana kemari membawa alamat/Namun yang kutemui bukan dirinya/Sayang yang ku terima alamat palsu/Ku tanya sama teman-teman semua/Tetapi mereka bilang tidak tahu”

Sangkuriang terus mencari Sumbi di alamat yang semakin buram terbaca.

 

Suryalaya-Pulosari, 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s