Nyanyian Daun Teh

Posted on Updated on


Oleh Ratna M Rochiman

“Sudah kubilang, Nar. Bapakmu tak bisa dibantah.” Nyala api dalam hawu mulai meredup. Sambil tetap mengisap lintingan pahpir berisi tembakau, kuambil suluh dan menyulurkannya ke dalam hawu. “Bapakmu itu, seperti batu, sulit untuk diberi tahu,” rungutku, lalu kutiup lisong agar api dalam hawu menyala lagi.

“Beberapa kali aku bicara, bapakmu tetap pada pendiriannya,” angin masuk dari pintu yang terbuka mematikan api di lintingan pahpirku dan di dalam hawu, api meliuk-liuk. Aku mencari-cari korek api untuk menyalakan lintingan pahpirku kembali.

Angin musim ini memang kencang. Kadang membuat seng di atap rumah panggung kami berderak seperti hendak lepas, tapi pintu pawon tidak aku tutup. Api dalam hawu membuat udara di dalam terasa agak panas. Saat ini mataku hanya tertuju pada lidah-lidah api yang bergoyang tertiup angin.

Seeng tembaga memerah karena rebusan air di dalamnya mulai mendidih. Aroma pandan dari dalam seeng mulai tercium. Sengaja aku memberi beberapa daun pandan pada tanakan beras murah dalam aseupan ini, agar tercium lebih harum seperti beras pandan wangi yang tak pernah dapat kami beli.

Hidup di pedesaan yang hanya bergantung dari penghasilan sebagai pemetik teh, membuat kami harus hidup berhemat. Kami harus cukup merasa nikmat dengan menghirup aroma daun pandan dalam tanakan beras murah, sambil membayangkan betapa pulennya beras pandan wangi asli yang harganya begitu wangi.

Enar cuma duduk di atas jojodog, melihat dengan tatapan kosong, entah apa yang dilihatnya, aku atau hawu di depanku. Diam, tanpa bicara sedikit pun hanya napasnya terdengar sedikit lebih berat. Tangannya meremas-remas sehelai daun teh. Biasanya anak itu terlihat manis, anak penurut, tak pernah ada kata tidak untuk semua perkataanku. Tapi kali ini air mukanya seolah-olah menunjukkan dalam batinnya sedang terjadi pergolakan untuk menolak.

Kualihkan pandanganku dari hawu ke pintu pawon. Di depan sana terlihat pekarangan samping rumah Jang Memed dan tanggungan bakso tahunya, siap diberangkatkan oleh yang empunya.

“Nar, tuh Jang Memed mau pergi,” kupandangi Jang Memed dari kejauhan, pemuda hitam berambut ikal. Dia keluar dari pintu, menuruni undakan tangga kayu rumahnya sambil membawa botol kecap dan ember kecil berisi air. Enar acuh tak acuh, tak menanggapi omonganku. Dia masih diam, sesekali dia bergerak hanya untuk sekedar mengusir pegal. Tangannya masih meremas-remas daun teh.

“Lihat, Nar. Jang Memed itu singer, bageur. Dia sudah punya usaha sendiri, penghasilan sendiri, kelak bisa buat bekal hidup kamu dan anak-anakmu. Kamu tidak usah khawatir.”

Aku mengenal Jang Memed dengan baik, sebaik mengenal anakku sendiri. Pemuda rajin meski hanya tamat SMP.

“Ah, apa pentingnya sekolah” tukas pikiranku. “Banyak orang-orang di kampung ini tidak bersekolah tinggi, tapi masih bisa hidup baik-baik saja.”

Menurut ukuran kami, bisa makan, badan tertutup pakaian dan punya tempat berlindung sudah dapat dikatakan baik-baik saja. Bukankah hanya itu kebutuhan kami?

Hidup baik-baik saja, kalimat terakhir ini akhirnya terus berada di otakku. Mataku terus terpaku pada api sambil mengulang kembali kalimat itu dalam hati seperti gema dan berakhir dengan tanda tanya. Kudengar Enar masih saja bernapas panjang tanpa bicara, suaranya seperti telah habis tersedot masuk ke paru-paru bersamaan dengan udara yang dihirupnya. Sementara pikiranku tak lepas pada kalimat itu.

Tapi apa yang harus kami tuntut dari keadaan bila turun temurun kami telah hidup seperti ini? Bila kami sekeluarga sudah bisa makan nasi, ditambah lalapan dari pekarangan sendiri dan sebuah kepuasan dari rasa seekor ikan asin yang dibagi bersama, kami sudah merasa baik-baik saja. Toh, cara hidup seperti ini dialami oleh hampir semua keluarga di perkebunan ini.

Sejak lama karuhun kami hidup sebagai kuli pemetik teh dengan penghasilan tergantung seberapa banyak teh yang kami petik lalu disetorkan pada mandor. Lantas mengapa sampai saat ini selalu saja dadaku terasa sesak bila memikirkan cara hidup kami yang kuanggap baik-baik saja?

“Sudahlah, Nar, mungkin dengan menikah kamu bisa hidup lebih baik dari sekarang.” Akhirnya itulah kesimpulanku untuk memaknai hidup kami selama ini. Dengan ujung mata kulirik Enar yang masih mematung.

**

“Tak usahlah kamu berpikir ingin sekolah lagi. Kamu perempuan, lebih baik belajar mengurus rumah tangga dengan baik mulai dari sekarang,” helaan napasnya terdengar semakin dalam.

“Jang Memed itu anak yang bertanggung jawab, lihat dia sudah bisa berdagang dan hasilnya terlihat lumayan,” kupandangi sekali lagi pemuda itu dari dalam pawon, meski ada keraguan dalam hatiku terhadap kehidupan Enar setelah menikah, tentu tak jauh berbeda dengan kehidupanku sekarang ini.

“Kau tahu Nar, untuk sekolah kita harus punya uang lebih banyak, adik-adikmu masih butuh biaya untuk menyelesaikan SD.” Kutarik napas dalam-dalam, udara dan asap tembakau masuk ke dalam hidungku. Aku terbatuk lalu kumatikan lintingan pahpirku.

Orang tua mana yang tak ingin anaknya sekolah tinggi dan memperbaiki hidup? Tapi apa mau dikata sekolah lebih tinggi merupakan sebuah kemewahan lain bagi kami, kami harus cukup puas dan bangga bila anak-anak kami bisa bersekolah sampai SMP.

Di kampung kami, selepas SD atau SMP biasanya anak-anak harus menentukan langkahnya untuk bekerja di perkebunan atau menikah. Bila memiliki sedikit modal, kami bisa berjualan seperti yang Jang Memed lakukan, tidak terkecuali Enar. Setahun yang lalu, sejak Enar tamat SD, dia membantu bapaknya sebagai pemetik teh di perkebunan. Meski begitu sering dia meminta untuk tetap meneruskan sekolah, dan begitu sering pula kukatakan itu adalah hal yang mustahil.

Angin masuk lewat pintu, semakin kencang, api di dalam hawu meliuk-liuk nyaris padam.

“Tutup pintunya sedikit, Nar!” Kuambil hihid berusaha menutupi hawu agar terhindar dari angin.

“Hah, angin seperti ini bisa bikin sakit. Bapakmu pasti masuk angin. Sepulangnya nanti dari kebun teh, kau keroki badan bapakmu!” Enar tak mengiyakan perintahku. Dia hanya tertunduk, mungkin masih kesal pada bapaknya, karena menerima lamaran Jang Memed dua hari yang lalu tanpa persetujuan darinya.

“Aku sudah mencoba melunakkan hati bapakmu,” kuraih gelas teh di atas meja dekat hawu, hawa panas dari hawu membuat tenggorokanku sedikit kering. “Bapakmu sudah terlanjur menerima lamarannya dan tak mungkin dibatalkan, lupakanlah mimpimu untuk meneruskan sekolah tahun ini.”

Enar mendengus, asap kayu bakar dan bau pandan dari nasi bercampur. Sementara di luar, matahari semakin garang. Jang Memed dan tanggungannya sudah tak terlihat.

“Mungkin setelah menikah dan punya anak, kamu bisa menyekolahkan anak-anakmu sampai kemana pun kamu mau, Nar.”

Aku berusaha memberi semangat agar impiannya disimpan untuk anak-anaknya kelak. Mata Enar melihat ke arahku seperti hendak bicara.

“Kamu pasti mau mengatakan tentang tabunganmu, iya kan?” Aku menebak.

Enar urung berbicara.

“Jangan berpikir uang tabunganmu hasil memetik teh sekarang bisa membiayai sekolah, Nar. Untuk bulan pertama mungkin cukup, lantas untuk selanjutnya siapa yang akan membiayai?”

Ada sakit di dadaku ketika kalimat ini terucap. Ketidakberdayaan dan pasrah itu hal berbeda, namun membutuhkan keikhlasan untuk menerimanya.

Kutatap beberapa suluh yang mulai jadi arang, di ujungnya masih ada sedikit bara membentuk urat-urat merah di antara arang hitam, aku mengambil lisong untuk membuata bara itu kembali menyala. Rasanya seperti itulah gambaran hidup kami sekeluarga berusaha tetap menyala di tengah ketidakberdayaan.

Enar masih duduk di tempatnya, kini kakinya diselonjorkan dengan roman muka datar matanya tetap menatap ke depan. Aku masih tak tahu apa yang sedang dilihatnya, aku atau hawu. Tangannya berhenti meremas-remas, daun teh itu remuk. Napasnya terdengar semakin sedih. Aku menguatkan diri untuk tidak terlalu iba dan ikut terhanyut kesedihannya, serta berusaha untuk tidak melihat ke arahnya.

Aroma pandan semakin kuat, nasi sudah tanak. Aku berdiri untuk mengangkat aseupan dari dalam seeng dan menempatkan nasi panas ini di atas dulang. Saat mengakeul nasi dan menghilangkan uap panasnya memakai hihid, diam-diam kutahan air mataku. Orang-orang seperti kami harus lebih kuat dari siapa pun.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s