Mati Muda

Posted on Updated on


Cerpen Dinda Imani Khamasasyiah

Lar menatap ibunya nanar. Melihatnya sekali lagi menangis di pinggir tanah kotak-kotak. Di bawah kamboja merah muda, punggungnya terguncang guncang. Lar berusaha mendekat, lalu menyentuh bahu ibunya pelan. “Sudah, Bu. Insya Allah, bukan sekarang.”

Sebagai anak angkat perempuan dan satu satunya milik Bu Ikhlas, Lar berusaha meminimalisasi sedih yang mungkin selalu tak berakhir untuk Bu Ikhlas. Di bawah tusukan sinar matahari, Lar memayungi ibunya yang tak kunjung buka suara. Ibunya hanya menutup wajahnya dengan tangan dan menjaga tangisnya.

Sejam sudah Lar berada di posisi yang sama. Kram tiada kerasa karena sesungguhnya ada luka yang lebih lebam yang ia simpan sendiri di laci hati.

Sudahlah.

Lar lalu meninggalkan ibunya sebentar, membeli air putih. Di warung, tak jauh dari sana. Lalu kembali. Membisikkan ibunya bahwa ia harus minum jika tak ingin pingsan lagi. Dan saat itulah wajah Bu Ikhlas kembali menyentuh udara. Teramat merah. Bu, jangan memaksa.

Lar menyodorkan botol air mineral itu hingga Bu Ikhlas akhirnya mengizinkan sang larutan mengisi tubuhnya. Lama, ia mengatur napas sambil tetap memusatkan perhatiannya pada papan kayu kecil di hadapannya.

Ini kali ke tujuh Bu Ikhlas harus ditinggalkan lagi oleh anak bayinya. Awalnya ia pikir akan mudah baginya merelakan seseorang yang memang tak bisa lama bersamanya. Tapi ini gila untuknya. Bagaimana mungkin ia bisa mempersiapkan hati untuk kecewa di tengah kerja kerasnya untuk tetap berharap? Mempersiapkan diri menerima kematian anak-anaknya yang begitu cepat saat mati-matian memperjuangkan mereka untuk tetap hidup, keluar dari rahimnya.

Dan hal ini jauh lebih menyakitkan untuk Lar. Yang tahu bahwa keberadaannya ternyata memang tak bisa menggantikan yang lahir dari darah ibunya sendiri. Tapi tak mungkin buat Lar untu marah. Sungguh tak pantas. Ia paham seharusnya berterima kasih pada ibunya dengan 17 tahunnya yang penuh cinta. Tak harus merasakan sakitnya jadi beda. Lar menyayangi ibunya sangat, sehingga sampai bisa rasakan sedih yang ibunya jangkit. Walau harus kesedihan yang sama-sama meluka, tapi saling bertolakan.

**

Satu jam 59 menit.

Kalau Lar tak berlogika, mungkin selamanya mereka bisa jadi patung karena terlalu lama mematung. Lar menarik paksa ibunya yang seolah tanpa tulang itu. Di pinggir pemakaman anak ini, berdiri sebuah warung, tempat Lar membeli air putih tadi. Menjual minum-minuman  instan dan tentu saja bunga. Bunga tabur atau mawar cair. Lar sangat khawatir ibunya akan kembali menangis di sana, tapi ia tidak punya pilihan.

Ia memesan secangkir teh panas untuk ibunya. Berharap bisa sedikit meredam luka sedihnya. Sambil mengucapkan doa di atas teh ibunya, Lar mencicipinya terlebih dahulu. Baru ia berikan padanya. Dan perlahan, keadaan menjadi stabil. Setidaknya tak lagi disamuderakan emosi.

Wajah Bu Ikhlas berantakan. Terlalu merona merah. Matanya bengkak tentu saja. Lar segera membasahi tisu yang baru ia beli, lalu menyeka dan menempelkannya pelan ke wajah ibunya. Bawah matanya.

“Mau makan, Bu? Nih ngemil Tango dulu.”

Sambil mengusap usap bawah mata ibunya, Lar bersuara lembut. Ibunya hanya menerima dalam diam. Tatapannya masih tertinggal di sana, di sepetak tanah.

Mungkin si pemilik warung juga punya nurani. Indera pekanya sadar ada yang sedang bersedih di depan warungnya. Tak segan, pemilik warung itu keluar dan duduk tepat di sebelah Bu Ikhlas.

“Indah ya Mba..”

Ungkapnya langsung. Jelas, suara pemilik warung itu mengejutkan Lar maupun Ibunya. Dengan rasa santun, Lar membalas.

“Indah apanya, Bu?”

Angin ringan berhembus pelan menyapa helaian rambut pemilik warung itu. Menggoyangkan pula jilbab Lar. Dengan suasana pinggir pemakaman yang menuju sore, di bawah rerindang pohon dan berkas cahaya matahari yang mencium rerumput kecil di atas makam, pemilik warung itu menarik napas panjang dan memulai senja yang akan jadi alasan dua perempuan itu mendarahdagingkan rasa syukur.

“Ya indah lah Mba. Pemakaman anak ini, apalagi? Iri saya sama mereka.”

Perhatian Lar tersedot hampir seratus persen. Ia kembali menanggapi.

“Hmm, maksudnya seperti apa, Bu?”

“Loh? Mba nih nggak ngerti ya, sekolahnya sampe mana toh? Iya mereka itu kayanya disayang sekali sama Tuhan. Baru lahir sebentar, sudah disuruh pulang lagi. Tuhan kangen sekali sama mereka. Ya seperti Mba saja pacaran, jauh sedikit sudah kangen. Mereka juga kayanya seperti itu. Disayang sekali sama Tuhan jadi dengan cepat dirindukan. Beruntung jadi mereka… Saya ingin seperti itu, seperti mereka, mati muda…”

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s