Ikan Di Atas Gunung

Posted on Updated on


Cerpen Nazi Muhsinin

Kiai Arwani adalah seorang ulama yang terkenal memiliki cara unik dalam mengajar santri-santrinya. Misalnya, sebagai pengajar Alquran dan ahli tasawuf, sejak dulu Kiai Arwani selalu mengharuskan semua santrinya untuk tetap belajar membaca surat Fatihah, meskipun mereka sudah lancar menghafal beberapa juz.

“Jangan sekali-sekali kalian merasa sudah betul dalam membaca surat Fatihah, walaupun kalian sudah lancar menghafal tiga puluh juz,” tutur Kiai Arwani di depan santri-santrinya.

Begitulah. Semua santri yang belajar ngaji kepada Kiai Arwani, harus selalu belajar membaca surat Fatihah setiap hari, selain belajar membaca dan kemudian belajar menghafal surat-surat lain yang ada di dalam Alquran.

Dan semua santri pun sadar, betapa belajar membaca surat Fatihah memang tidak akan mendapat nilai sepuluh, jika nilai sepuluh adalah nilai tertinggi. Artinya, tidak ada santri yang merasa sudah betul seratus persen dalam membaca surat Fatihah, sekalipun sudah lancar menghafal tiga puluh juz secara tepat sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu tajwid.

“Selain Rasul Muhammad saw, tidak ada manusia lain yang mampu membaca surat Fatihah dengan sempurna. Karena itulah, kalian jangan pernah bosan untuk belajar memperbaiki bacaan Fatihah,” tutur Kiai Arwani lagi kepada santri-santrinya di lain kesempatan.

Pada suatu hari, muncul santri baru yang bernama Sukron, yang datang dari luar kota. Dan sebagaimana santri-santri lainnya, Sukron ingin belajar ngaji sampai mampu menghafal tiga puluh juz, serta ingin belajar ilmu tasawuf.

“Kamu harus belajar membaca surat Fatihah, setiap hari,” perintah Kiai Arwani kepada Sukron.

“Saya sudah hafal surat Fatihah, Kiai,” ujar Sukron. Dalam hatinya ada rasa keberatan. Jauh-jauh datang dari luar kota, kok cuma untuk belajar membaca surat Fatihah yang jelas-jelas sudah bisa dihafalkan di luar kepala.

Kiai Arwani tersenyum-senyum menatap wajah Sukron yang nampak redup. “Kalau kamu sudah merasa pintar, tak usah belajar ngaji di sini. Sebab, di sini semua santri harus bersedia belajar membaca surat Fatihah setiap hari,” tuturnya dengan lembut.

Sukron tersipu-sipu.

“Ngomong-ngomong, apa makanan kesukaanmu?” tanya Kiai Arwani, setelah memperhatikan wajah Sukron yang nampak semakin redup.

“Ikan goreng, Kiai,” jawab Sukron.

“Suatu saat, jika aku menyuruhmu mencari ikan di atas gunung, apakah kamu bersedia mengerjakannya?” tanya Kiai Arwani lagi.

Sukron mendengus panjang. Nalarnya segera bekerja. Dan menurut nalarnya, di atas gunung biasanya tidak ada ikan. Dan jika seseorang mencari ikan di atas gunung, tentu sia-sia saja.

“Bagaimana, Sukron? Apakah kamu bersedia mencari ikan di atas gunung?” Kiai Arwani bertanya lagi, setelah sekian detik tersenyum-senyum memandangi wajah Sukron yang nampak tegang.

Sukron tidak menjawab. Wajahnya semakin redup dan tegang.

Kiai Arwani tersenyum lebar. “Sudahlah, lupakan saja masalah mencari ikan di atas gunung.”

Wajah Sukron mendadak cerah. “Saya bersedia mencari ikan di atas gunung, kalau itu perintah Kiai,” ujarnya mantap.

“Kenapa, Sukron? Bukankah tadi kamu berpikir bahwa di atas gunung tidak ada ikan? Apakah kamu ingin melakukan pekerjaan yang sia-sia?” tanya Kiai Arwani, seolah-olah memperolok-olok Sukron.

Wajah Sukron kembali tegang dan redup. Ia merasa sangat malu kepada Kiai Arwani. Dan ia pun sadar, betapa Kiai Arwani ternyata bukan sembarang Kiai.

Pertanyaan-pertanyaan yang baru saja diucapkan Kiai Arwani, jelas merupakan bukti betapa Kiai Arwani mampu membaca pikiran orang lain.

Kiai Arwani terkekeh-kekeh. “Aku bangga kepadamu, Sukron. Ternyata kamu cepat pintar. Dan seumpama aku menyuruhmu mencari ikan di kota, atau di pasar, pasti kamu bersedia melakukannya, bukan?”

Sukron mengangguk mantap.

“Kenapa, Sukron?”

“Karena saya yakin, di kota atau di pasar ada ikan, Kiai.”

“Selain itu, kamu pasti yakin bahwa mencari ikan di kota atau di pasar justru lebih mudah dibanding mencarinya di sungai atau di laut, bukan?”

Sukron kembali mengangguk mantap.

“Sekarang kembali ke masalah belajar membaca surat Fatihah. Apakah kamu bersedia mengerjakannya setiap hari, Sukron?”

Sukron kembali mengangguk mantap.

“Kenapa, Sukron?”

“Karena saya yakin, mengerjakan perintah Kiai tidak sia-sia.”

“Hanya itu?”

“Saya juga yakin, belajar apa saja, khususnya membaca surat Fatihah, hanya dibatasi oleh umur, sebagaimana sabda Nabi bahwa mencari ilmu itu sepanjang hayat.”

“Kalau begitu, sekarang juga aku menyuruhmu untuk mencari ikan di atas gunung. Terserah kamu, di atas gunung yang mana. Dan jangan lupa, sambil belajar membaca surat Fatihah,” tutur Kiai Arwani.

Sukron segera mencium telapak tangan Kiai Arwani dan mengucapkan salam, sebelum kemudian pergi.

***

Sejak pergi dari pondok Kiai Arwani, untuk mencari  ikan di atas gunung, Sukron rajin belajar membaca surat Fatihah. Dan setiap selesai membaca surat Fatihah, ia merasa memperoleh kemajuan. Rasanya, setiap bacaan Fatihah terakhirlah yang terbaik. Maka ia tidak pernah bosan belajar memperbaiki bacaan surat Fatihah. Rasanya, ia ingin selalu belajar memperbaiki bacaan surat Fatihah dalam setiap tarikan napasnya, sampai napasnya berhenti kelak.

Begitulah, Sukron sudah tiba di atas gunung. Tapi hanya batu dan pohon serta semak-semak belukar yang dilihatnya. Tidak ada sungai atau danau, yang berarti tidak ada ikan.

“Aku harus mencari ikan di atas gunung yang lain,” gumam Sukron. Maka tibalah ia di atas gunung lainnya. Dan lagi-lagi yang dilihatnya hanya batu-batu dan pohon-pohon serta semak belukar. Tidak ada sungai atau danau, yang berarti tidak ada ikan.

“Kamu mencari apa, Nak?” tanya seorang lelaki tua pencari kayu bakar. Lelaki tua itu muncul dari balik bukit, memikul kayu bakar.

“Saya mencari ikan, Pak,” jawab Sukron.

“Kamu dari mana, Nak?”

“Dari pondok Kiai Arwani, Pak.”

“Kamu disuruh Kiai Arwani mencari ikan di atas gunung?”

“Begitulah, Pak.”

“Ikan apa, Nak?”

Sukron terperanjat. Ia tiba-tiba merasa tolol, karena tidak bertanya dulu kepada Kiai Arwani tentang jenis ikan yang harus dicarinya di atas gunung.

Lelaki tua itu terkekeh-kekeh, seolah-olah mengejek Sukron.

“Saya lupa menanyakannya, Pak,” jawab Sukron.

“Sebaiknya kamu cepat kembali ke pondok Kiai Arwani, untuk menanyakan jenis ikan yang harus kamu cari di atas gunung,” saran lelaki tua itu, sebelum melangkah pergi dan kemudian hilang di balik bukit.

“Ya, sebaiknya memang kembali ke pondok Kiai Arwani,” gumam Sukron, sebelum kemudian turun gunung.

***

“Bagaimana, Sukron? Kamu sudah menemukan ikan di atas gunung?” tanya Kiai Arwani, setelah Sukron tiba di pondoknya lagi.

“Maaf, Kiai. Saya belum berhasil menemukan ikan di atas gunung. Saya pulang bukan karena putus asa, tapi ingin bertanya kepada Kiai, tentang jenis ikan yang harus saya cari di atas gunung,” jawab Sukron dengan tersipu-sipu.

Kiai Arwani tersenyum lebar. “Sudahlah, Sukron. Lupakan masalah mencari ikan di atas gunung. Sekarang kamu belajar ngaji saja dengan tekun di sini. Dan suatu saat nanti, aku akan mengajakmu mencari ikan di atas gunung.”

Sukron merasa kecewa, karena tidak berhasil menemukan ikan di atas gunung. Dan kalau sekarang Kiai Arwani menyuruhnya untuk belajar ngaji dengan tekun, mungkin juga karena kecewa kepadanya. Meski demikian, ia akan belajar ngaji dengan tekun, sampai mampu menghafal sampai tiga puluh juz.

Hari-hari berikutnya, Sukron belajar ngaji dengan tekun bersama santri-santri yang lain. Dan setiap hari, ia selalu berhasil menghafal satu juz, sehingga hanya dalam waktu sebulan saja ia sudah mampu menghafal tiga puluh juz. Bacaan surat Fatihahnya juga semakin baik.

Pada suatu pagi, Kiai Arwani tiba-tiba mengajaknya pergi ke atas gunung. “Seperti yang pernah kukatakan, kita akan mencari ikan di atas gunung bersama-sama.”

Dan setibanya di atas gunung, Kiai Arwani langsung mengajaknya istirahat di sebuah warung makan. “Di sini pasti ada banyak ikan,” tutur Kiai Arwani.

Sukron terpana melihat ikan goreng yang tersaji di atas meja, di dalam warung makan itu. Ada ikan lele, ada ikan gurami, ada ikan tongkol, ada ikan bandeng, dan ikan-ikan lainnya.

“Kita sudah menemukan ikan di atas gunung, Sukron,” ujar Kiai Arwani dengan tersenyum-senyum.

Sukron tersipu-sipu, merasa diolok-olok oleh Kiai Arwani. Setumpuk ikan goreng di atas meja itu benar-benar membuktikan bahwa di atas gunung ternyata ada ikan, karena warung makan itu memang berada di atas gunung.

“Kamu ingin makan dengan lauk ikan goreng yang mana, Sukron? Jangan khawatir. Aku yang membayarnya,” ujar Kiai Arwani lagi.

Begitulah. Sukron dan Kiai Arwani kemudian makan siang di warung itu dengan lauk ikan gurami goreng yang sangat lezat. Pengalaman indah yang ingin diulanginya lagi nanti di masa liburan.

Ketika tiba masa liburan, santri-santri pulang ke masing-masing. Sukron memilih untuk pergi ke atas gunung, di mana ia dan Kiai Arwani pernah makan siang dengan lauk ikan goreng di warung makan.

Namun, setibanya di atas gunung itu, Sukron kecele. Tak ada lagi warung makan. Tak ada lagi ikan goreng. Yang ada hanya batu-batu, pohon-pohon dan semak belukar. Selebihnya, udara dingin, sunyi dan kabut.

 

Cibinong Center, 2013

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s