Sebagai Ikan Yang Pernah Berjanji

Posted on Updated on


Cerpen Marsten L Tarigan

Keterasinganku di tempat ini atau keterasingan tempat ini bagiku. Mungkin aku akan binasa di dasar laut, di air yang biru ini. Tetapi nanti, selagi doaku belum surut–aku akan ada di laguna-laguna, di  pinggiran-pinggiran bibir pantai: beting karang atau gosong pasir yang menutup pesisir atau muara sungai.

**

Pintu di dasar laut. Sebelum jauh kumasuki pintu ini, sempat aku menerawang jauh ke atas searah langit. Aku melihat beberapa perahu terbalik dengan layarnya terkembang di awang-awang biru air. Kemudian kulepaskan gamitan tangan-tangan air dan meluncur sebagai ikan ke balik pintu di dasar laut.

Di sana, aku bertemu dengan harpa-harpa peri laut bersenandung tanpa ada putri duyung yang memetiknya, mereka indah sekali. Aku sama sekali tidak melihat tanda-tanda keberadaan mereka, putri duyung itu. Inilah kenyataannya, bahwa dongeng tidak memiliki sedikitpun kepastian yang bisa diharapkan.

Aku kira di tempatmu tinggal tak ada yang seperti ini. Aku juga bertemu dengan banyak ikan  yang ramah bersahabat, mereka tidak bersembunyi di balik daun-daun tumbuhan laut semisal rumput laut yang ramai atau apapun yang layak sebagai tempat persembunyian. Semenjak itu aku tahu, bahwa ikan-ikan yang kita pikir buas adalah para serdadu yang menjaga laut. Mereka tidak akan merenggut kakimu di dalam air bila kau tidak memulai pertengkaran dengan mereka.

Selagi hidangan pemandangan itu dekat dengan mataku, aku teringat padamu kekasih. Kesempatan kedua untuk hidup yang diberi alam untuk hidup di air, harpa-harpa yang bersenandung, ikan-ikan yang ramah, rumput laut, terumbu karang ini bakalan memperpanjang janji untuk bertemu dan membawakan senja untukmu dan denganmu kekasih. Kemudian aku kembali lagi pada apa yang ada di depanku.

Aku menduga-duga, berapa lama aku berada di tempat terasing dan berair ini. Aku tak tahu sama sekali. Tak ada penunjuk waktu disini. Pada air, harpa-harpa yang bersenandung, ikan-ikan yang ramah, rumput laut, terumbu karang, tidak satupun diantara mereka. Tapi aku tahu bahwa mereka semua adalah baik. Bukankah kita tak perlu menduga bahwa dia atau dia itu adalah jahat.

Tak pernah berbicara dengan siapa pun atau apapun disini, sebab tak ada yang mampu berbicara. Bahkan aku yang dulunya mampu berbicara (mengukuhkan janjiku padamu), sekarang tak mampu. Barangkali siapa pun atau apa pun yang berada disini berbicara melalui isyarat. Misalnya menganggap senyuman yang dilepaskan ketika berpapasan adalah bentuk sapaan.

Tempat ini begitu luas kekasih. Sampai-sampai tak tahu aku sudah seberapa jauh aku mengembarai tempat ini, seberapa luas aku menjangkau tempat ini. Pintu di dasar laut, sebuah pintu besar berukir dengan motif dedaunan dan bunga tempat awalku memasuki tempat ini sudah tak terlihat lagi. Entah di mana ia tertinggal. Yakinlah aku, bahwa tempat dan suasana ini bakalan memperpanjang janji untuk bertemu dan membawakan senja untukmu dan denganmu kekasih.

Adakah kemungkinan-kemungkinan yang lain akan kutemui di sini? Semisal menjelma kembali ke wujud semula atau kau yang menjelma serupa aku. Adakah janji itu akan tergenapi? Senja adalah tujuan awalku, merenggutnya dari raja hari dan membawakannya untukmu kekasih. Sebuah janji adalah janji. Namun daya tentulah belum pasti jaya.

Kekasih apakah kau akan cari aku seperti kanak-kanak yang berkejaran dalam permainannya di sepetak tanah lapang? Adakah sedihmu datang ketika aku tak pulang? Adakah dirimu juga akan bersamaku di tempat ini atau di tempatmu dan orang tuamu tinggal? Oh… apa yang tengah terjadi kini.

Jalan pulang. Pintu di dasar laut. Perahu itu, perahu yang terbalik dengan layar terawang di permukaan biru air. Adalah ia perahu yang kukayuh menuju senja, dengan jala yang lebar tersangkut di ceruk perahu. Tadinya akan kupakai menjerat senja dan membawanya pulang untuk kekasih.

Ke sana kemari aku berenang sebagai ikan, mencari apa yang sempat kulupakan: tujuan dan kepunyaan. Di mana pintu itu, pintu di dasar laut? Aku berusaha berbicara pada siapa pun atau apa pun yang ada di tempat ini, tak ada yang bisa bicara–begitu pun aku. Seekor ikan.

Semua lepas dari pikiranku, dari segala pencitraanku. bahkan mengingat wajahmu, samarlah sudah. Selain berusaha memikirkan jalan pulang secara gamang, ada yang lain kutimpakan di pikiranku: janji untuk pulang membawakan senja untukmu.

Uuh… satu-satunya jalan pulang, mungkin adalah dengan menemukan daratan. Sebelum berada di tempat ini, tempatku adalah daratan. Tempatmu dan orang tuamu tinggal, tempat kita mengukuhkan janji, dermaga tempat perahu dan kapal-kapal nelayan berlabuh adalah daratan. Kucari ia, di mana tepi laut–tepi air biru ini?

Belum juga kutemukan daratan yang memendak jejak dan tugu janji kita. Tempat kita pernah tinggal. Kuputuskan mengirimimu gelembung udara sesuai dengan mempuku sekarang dan gemericik debur air untuk mengabarimu dan untuk permintaan maaf, sebab tak sanggup aku menepati janji untuk pulang membawakanmu senja.

Di tempat lain, tempat yang pernah kuingat sebagai daratan lamat-lamat mungkin akan terlupakan seiring kesadaran yang datang bahwa tubuhku adalah ikan yang masuk ke balik pintu di dasar laut. Aku berdoa entah pada apa agar ratalah air dan daratan, semoga keringlah lautan atau kuyuplah daratan.

Sementara itu kau selalu luput dan tak pernah berhasil menangkap gelembung udara juga gemericik debur air yang kukirimkan lewat suara angin dan riak debur ombak.

**

Bagaimana caranya aku menepati janji yang pernah kujanjikan padamu kekasih? Janji untuk membawakanmu sebuah senja yang nantinya akan kita nikmati bersama di dermaga tempat perahu atau kapal-kapal para nelayan berlabuh. Kita merasa itu adalah tempat paling romantik di sekitar tempatmu dan orangtuamu tinggal. Sebelumnya aku telah berangkat pergi memulai pelayaranku mencari senja.

Jalan panjang, jalan yang jauh dari pulang. Kiranya, apa yang akan kau pikirkan tentang jalan pulang kekasih? Adakah semua orang memiliki jalan untuk pulang? Aku kini telah sampai di sebuah pintu besar berukir denga motif dedaunan dan bunga. Entah ini pintu apa, yang pasti ini bukanlah jalan pulang. Kumasuki pintu itu, lantas seketika itu pula bau tanah, bau pepohonan dan bau dosa-dosa manusia lepas dari penciumanku.

 

Kandang Singa, 17 Februari 2013

2 thoughts on “Sebagai Ikan Yang Pernah Berjanji

    Marsten L. Tarigan said:
    January 26, 2014 at 6:28 am

    wah… makasih mas sudah posting cerpen saya.

      azuiway responded:
      May 11, 2014 at 9:46 pm

      iya mas, sori tak izin dulu, yang penting kan tetep nyantumin pengarangnya.. hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s