Percakapan Di Jendela

Posted on Updated on


Cerpen Toni Lesmana

Setiap pagi. Siang. Sore atau malam. Setiap kali aku terbangun. Maka aku akan melihat jendela. Jendela yang berada di dalam kamar ini. Jendela yang menghubungkan dengan pekarangan. Dengan dunia luar. Di jendela itu aku selalu melihat dirimu tersenyum. Seperti menyambutku yang lepas dari garis finis mimpi. Senyum yang lembut. Sungguh aku selalu ingin mengecupmu. Mengecup bibirmu yang tersenyum. Tapi kau hanya berdiam di jendela. Tak pernah masuk. Matamu khusyuk jika sedang menatapku. Semacam ajakan atau entah apa. Aku selalu ingin berenang, berteduh di matamu. Wajahmu sangat mempesona. Cantik. Ganteng. Aku tak bisa memastikan kau perempuan atau laki-laki. Wajahmu adalah puncak dari keindahan.

Tak pernah kutahu sejak kapan kau berada di jendela. Barangkali sejak seluruh pintu rumah ini tertutup dan terkunci. Ya. Sejak aku sendiri. Sendiri dikejar mimpi. Sendiri berkejaran dengan mimpi. Kadang sendiri mengejar mimpi. Aku hanya ingat, ketika terbangun tiba-tiba saja kau telah berada di jendela.

Tak pernah ada percakapan. Barangkali bahasaku dan bahasamu berbeda.

Padahal aku ingin bercerita banyak sekali, seperti yang pernah kulakukan pada ibuku, pada ayahku, pada setiap orang. Pada siapa saja yang kutemui, yang kemudian mereka akan mengerutkan kening. Melotot. Marah. Atau meninggalkanku.

Sepertinya aku merasa kau telah mengetahui apapun yang ingin kukatakan. Begitulah dengan memandangmu dan kau memandangku saja sudah cukup. Aku pun tahu ada banyak sekali yang kau ceritakan dari tatapan matamu.

Matamu seperti jendela yang lain. Terbuka dan sebuah pemandangan luas segera terhampar. Terdapat langit dan bumi dalam matamu. Pernah kusaksikan bagaimana langit dan bumi itu tercipta. Di langit, muncul matahari, bulan dan bintang. Awan yang tak henti bergerak. Warna-warna yang semarak. Sesekali burung beterbangan. Maka kuikuti terbang burung itu, melayang di atas hutan, sungai, kampung-kampung, kota yang gemerlap. Melewati orang-orang yang lalu-lalang. Ada banyak peperangan yang terlintasi. Batu berhamburan di udara, suara peluru, ledakan-ledakan. Burung itu terus melayang sampai ke laut. Berputar-putar di atas ombak, di atas perahu, menikmati ikan-ikan yang melompat, jumpalitan, dan meluncur kembali ke dalam gelombang.

Ya. Bahkan aku pernah melihat rumahku sendiri. Jendela kamarku. Aku melihat diriku yang terbaring dalam kamar. Aku melihatnya dalam matamu. Matamu yang indah. Matamu yang tak pernah berhenti berkisah. Berkisah tentang apa saja.

Tapi kau tak pernah mau masuk ke dalam kamar. Hanya duduk di jendela.

Aku tak mungkin dapat mendekat. Tubuhku telah lama dipasung. Begitulah. Setelah kuceritakan apa saja yang ingin kuceritakan pada orang-orang. Maka mereka lambat laun mengurungku. Mula-mula aku tak boleh keluar rumah. Maka aku hancurkan rumah. Lama-lama aku tak boleh keluar kamar. Maka kuhancurkan pula kamar. Pada akhirnya aku tak dapat kemana-mana. Kaki dan tanganku terkunci pada ranjang ini.

Seluruh kamarku terkunci sebenarnya. Jendela. Pintu. Hanya sesekali. Satu kali dalam sehari. Ada yang masuk untuk menyimpan makanan. Entah siapa. Aku tak mengenalnya. Dia begitu setia. Padahal, makanan itu tak pernah kusentuh. Aku tak butuh lagi makanan. Setidaknya kau pun kulihat begitu. Mulutmu hanya tersenyum. Tak pernah kulihat mengunyah.

Oya. Memang seluruh pintu dan jendela terkunci. Tapi kau, aku ingat pada hari pertama aku dipasung, tiba-tiba saja membuka jendela dengan halus. Tanpa suara, dengan gerakan yang lembut. Kemudian duduk di jendela itu. Posisi duduk yang tak pernah berubah. Setiap aku bangun selalu saja begitu. Bersandar. Sebelah kakimu masuk kamar, sebelah lagi keluar. Dan posisi wajahmu juga selalu begitu. Menatapku, tersenyum.

Aku terpesona. Dan jatuh cinta sejak pertama bertemu. Pernah kupikir kau adalah malaikat maut. Itu yang pertama terlintas. Sebab itulah yang sering kuceritakan pada orang-orang, bahwa malaikat maut ada dimana-mana, mereka akan segera membunuh siapa saja, maka sebelum malaikat maut itu datang, apa salahnya jika aku membunuh mereka. Tapi aku hanya akan membunuh mereka yang akan dibunuh. Aku tawarkan pada siapa saja yang kutemui. Dan seperti inilah nasibku. Terpasung.

Kau tentunya bukan malaikat maut. Kau tidak menakutkan. Seharusnya menakutkan. Sekali pandang nyawa melayang. Ini malah membuat jatuh cinta.

Setiap hari aku menerka-nerka siapa dirimu sesungguhnya. Tak ada sayap di punggungmu. Malaikat haruslah bersayap. Begitu juga malaikat maut, kubayangkan sayapnya hitam seperti malam, mengepak, dan kabut berguguran dari kepakannya, kabut yang mematikan. Tapi kau tak butuh sayap.

Kau tak pernah pergi dari jendela itu. Selalu ada setiap terjaga. Barangkali kau pergi ketika aku tertidur. Tapi tidak kupikir. Kau tak pernah pergi. Begitulah kekasih, tak pernah pergi barang sedetik. Selalu ada dan terjaga.

Jika sebelumnya aku selalu ingin mati. Ini juga kuceritakan pada orang-orang, bahwa setelah aku membunuh setiap orang, maka aku akan bunuh diri. Atau kutawarkan juga pada orang-orang untuk membunuhku saja terlebih dahulu, agar aku tak perlu membunuh mereka. Tak ada yang mau. Baik untuk dibunuh ataupun untuk membunuh. Begitulah. Aneh.

Mereka lalu seperti ketakutan jika melihatku. Barangkali takut dibunuh. Padahal aku belum membunuh siapapun. Apapun. Kecoak saja belum. Pernah aku bertanya pada kecoak, semut, burung, ikan. Apakah mereka mau dibunuh atau membunuhku. Mereka tak menjawab. Atau jika mereka menjawab pun aku tak tahu. Toh, aku tak bisa bahasa binatang. Jadi tak ada dari mereka yang kubunuh.

Sebelumnya aku memang selalu kepingin mati. Namun setelah kedatanganmu aku justru ingin selamanya hidup. Padahal kau tak pernah membujukku untuk terus hidup. Terus hidup di dunia yang aneh ini. Kupikir tak seharusnya aku hidup di dunia ini, entah mesti hidup di mana. Mungkin dunia yang tak ada orang lain.

Tentu saja kau bukan orang lain. Kau seperti diriku sendiri. Ini mungkin karena saking jatuh cintanya aku padamu. Kupikir kau adalah diriku. Dan aku adalah dirimu. Barangkali begini rasanya jatuh cinta.

Kamar ini, ranjang ini, pasungan ini, bukan lagi hal yang menyiksa. Ini menjadi tempat terindah. Jika dulu aku selalu menghancurkan apapun yang mengurung dan mengepungku. Setelah kehadiranmu, justru aku merasa betah dalam kurungan. Kubayangkan bahwa kamar ini, pasungan ini, adalah jembatan untuk kedatanganmu. Tak akan ada dirimu jika aku tak disekap dan dipasung di ranjang ini, di kamar ini. Ini seperti takdir. Jalan untukmu menemuiku. Tentu saja aku tak ingin pergi dari jalan ini. Tak akan.

Pagi ini. Ah, barangkali ini sore hari. Hari ke berapa aku dipasung. Entah. Hari seperti tak beranjak. Waktu tak lagi penting. Tak ada yang lebih penting dari dirimu. Kehadiranmu melebihi ruang dan waktu. Kesunyianmu sedap dan bergairah. Ini benar-benar jatuh cinta. Aku takluk dan menghamba.

Dan cinta ini membuatku memasuki sunyi. Kutahan setiap kata yang ingin melompat dari mulut. Kutahan kata dalam mulut. Kutarik kata ke tenggorokan. Kutarik lagi lebih dalam ke dada. Kubiarkan setiap kata yang terbit bertahan dan matang sendiri dalam dada. Tak ada satu katapun yang keluar dari diriku. Dan kurasakan dadaku seperti taman yang mekar. Bergetar, penuh dan utuh. Barangkali seperti itu juga dirimu. Barangkali itulah pusat pesonamu.

Kau yang segar menawan di jendela. Kau yang diam-diam menghisap seluruh isi dadaku. Kutinggalkan diriku. Melayang menuju dirimu. Memasuki dirimu. Semesta yang menakjubkan. Diam-diam aku juga menarik seluruh dirimu ke dalam diriku. Aku yang tertawan di atas ranjang.

Lama-lama aku seperti berada di posisimu. Duduk di jendela. Kau berada dalam posisiku. Terbaring di ranjang. Bolak-balik. Aku memasukimu dan kau memasukiku. Ini hanya terjadi dalam sunyi. Sunyi yang seperti abadi. Tak ada tepi. Tak ada mati. Asyik.

Betapa indahnya diam. Segalanya tumbuh bukan lagi dalam tubuh. Menjangkau apapun. Melampaui apapun. Barangkali aku gila. Benar-benar gila karena cinta. Benar-benar gila dan bebas. Karena kau. Jendela lain yang duduk di jendela.

Kedungpanjang, 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s