Ciri Khas Orang Sunda

Posted on Updated on


ciri khas orang sunda

Polemik dua anak sunda yang rupanya “terdengar” hingga ke telinga orang Eropa, hingga membuatnya “tertarik, tetapi agak cemas juga”. Ada dua bekal utama Watson. Pertama, kekhawatirannya atas kemungkinan bangkitnya Ki Sunda. Kedua, formula bagaimana orang Sunda seharusnya berbuat di masa depan.

Bekal pertama, dapat dipahami jika melihat sosok Watson yang menganut paradigma skeptisisme. Dalam pandangannya, budaya suatu bangsa (ciri khas suatu etnis) harus dianggap tidak ada, terhadap pengakuan jati diri suatu etnis perlu disikapi skeptis dan dipersoalkan, munculnya kata-kata seperti “mampu bersaing”, “berani”, dan “fighting” wajib dicurigai bahwa hal itu mengandung bibit pikiran yang sangat berbahaya kalau dibiarkan tumbuh, terlebih lagi imbauan politikus supaya memperhatikan nasib orang Sunda harus diwaspadai dan ditolak. Bekal kedua, Watson mengajari orang Sunda dalam menghadapi masa depannya. Menurut dia, “Mestinya begini”: (1) budaya (dalam makna seni/sastra/musik) harus mati-matian dilestarikan dan dicarikan penggagas dan pemimpin yang tepat untuk itu, dan (2) memperhatikan orang miskin dan tertindas.

Sebagai orang yang belajar politik, untuk bekal Watson pertama, saya memandang ia sedang menjalankan usaha “antropolog” yang secara mendasar berhubungan dengan proses pembenaran hubungan kekuasaan yang tidak simetris, berhubungan dengan proses pembenaran dominasi (Thompson, 2007: 17). Dorongan ini akan mengikat seluruh analisisnya pada pertanyaan kritis dekonstruktif, apa pun itu, bagaimanapun caranya, bahkan terlepas dari substansi sekalipun, yang penting satu target teramankan: yaitu mempertahankan hubungan asimetris alias dominasi. Ini cara berpikir yang amat mengimani “metodologi”, jika Foucault menggunakan istilah kuasa wacana (concept of discourse), Thompson memakai critical conception of ideology, sementara Watson berlindung di balik “celah antropologi”. Sejauh menyangkut apa yang ingin diajarkan Watson kepada orang Sunda ke depan, saya hanya mengatakan bahwa ajarannya itu Snouck Hurgronje banget!

Secara sederhana diungkapkan, itu ceramah tentang Sunda yang seharusnya dulang tinande alias nrimo dengan nasib yang ada, jangan melawan atau menyusun keberanian, jati diri yang hilang pun tidak perlu disusun kembali karena memang tidak ada (hanya mitos), dan sebagainya yang senada. Terhadap ceramah ini, saya menolak. Sisanya, anjuran tentang masa depan orang Sunda yang tidak perlu membangkitkan sisi “perjuangan” budaya (lebih tepatnya yang saya maksud adalah biopolitics) mencukupkan pada sisi “seni” budaya saja dan sebagai gantinya harus fokus memperhatikan orang miskin. Terhadap anjuran ini, saya juga menolaknya. Pengentasan kemiskinan itu adalah tugas konstitusional negara. Kita membantu atau menguatkan.

Saya ingin menyatakan kembali beberapa kutipan penting sebelumnya, bahwa “dalam setiap aktivitas manusia selalu ada porsi konstan yang bisa diisolasikan ke dalam ciri-ciri pribadi” dan bahwa “sifat khas tidaklah aktif setiap saat, tapi tetap tertahan walaupun dalam keadaan laten dan mudah aktif kembali cukup dengan rangsangan  yang lemah”. Dan saya adalah satu di antara barudak Sunda yang sedang berusaha untuk mengaktifkan kembali sifat-sifat khas Sunda seperti Ki Sunda, tha fighting Sundanesse, lalaki langit lalanang jagat tanpa ada kekhawatiran sedikit pun berubah jadi fasis seperti Hitler. Sepengetahuan saya, di tatar Sunda tidak ada sejarah fasisme dan Hitler bukanlah bangsa Sunda. “Sabab Pajajaran mah hanteu ngajar mudu jahat, hanteu widi keuna jail”. (Pantun Bogor).

Soal kebangkitan Ki Sunda, secara tegas ia mendukung, “Kebangkitan Sunda bukan primordialisme, melainkan kesadaran kolektif akan harga diri.”

Persis di situ inti masalahnya. Self-awareness orang Sunda! Sebab, di dalam literatur disebutkan self-awareness adalah satu di antara “components of authentic leadership development” (Avolio & Gardner, 2005: 324-325). Orang Sunda sulit menyusun konsep kepemimpinan tanpa adanya kesadaran kolektif akan harga dirinya.

Perasaan minder akibat terlalu lama dijajah yang diprasangka berdampak pada minimnya peran kepemimpinan politik Sunda terutama di level nasional, lalu ditunjang oleh langkanya literatur tertulis tentang konsep-konsep kesundaan khususnya tentang politik dan kepemimpinan, adalah di antara “PR” yang menurut saya mendesak disikapi oleh para putuin seke seler Sunda. Saya berada di dalamnya dan sangat mencita-citakan agar kebangkitan pemikiran Ki Sunda memiliki landasan kognitif yang kokoh dan relevan dengan tuntutan zaman.

Melalui beberapa artikel, saya berusaha saling menyemangati untuk mengubah tradisi lisan ke tradisi tulisan; dari premis yang berserakan menjadi ilmu pengetahuan. Paralel dengan itu, jika tidak ada aral melintang, saya sedang melakukan penelitian akademis tentang kepemimpinan otentik politik Sunda yang digali dari khazanah lokal yang sangat khas Sunda yaitu Uga Wangsit Siliwangi.

 

Husin M Al Banjari (Tengah menempuh studi pada program S-3 ilmu politik FISIP Unpad)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s