Fenomenologi Poligami

Posted on Updated on


 

fenomenologi poligami

Aceng Fikri yang Bupati Garut akhirnya dilengserkan dari jabatannya gara-gara menikah siri empat hari dengan Fany Octora yang berusia 18 tahun, di luar istri pertamanya. Terbukti poligami tidak selalu bermanfaat, meskipun hingga batas tertentu dibolehkan.

Pada sebagian masyarakat Muslim, termasuk di Indonesia, para lelaki berpoligami bukan karena pertama-tama ingin mengikuti sunah Nabi, tetapi karena mereka adalah penganut patriarki sejati. Karakter suatu kaum lazim tercermin dalam berbagai wacana, termasuk humor. Bahwa pria cenderung poligamis, tersirat dalam dialog berikut ini.

“Jika suami beristri banyak itu apa namanya?”

“Poligami.”

“Kalau suami beristri satu?”

“Monogami.”

“Bukan. Monoton.”

Atau seperti dalam gurauan seorang pria berusia 60 tahunan seperti berikut: “Kawan saya bilang bahwa istrinya cuma satu dan berumur 60 tahun. Saya bilang, daripada satu istri berumur 60 tahun, lebih baik dua istri berumur 30 tahun.”

Para pria penganut patriarki sering menjadikan ayat tentang pembolehan poligami dalam Alquran (An Nisa:3) sebagai pembenaran, meskipun keluar dari konteks historisnya. Sesungguhnya, poligami yang dilakukan Nabi pada zamannya adalah untuk “mengangkat derajat wanita”, karena saat itu lelaki lazim beristri banyak, bukan hanya di tanah Arab, tetapi juga di berbagai wilayah di luar arab. Bahkan sebelum era Islam, poligami lazim di kalangan bangsa-bangsa Ibrani, Yunani, Mesir kuno, Persia, Romawi, Nasrani, India kuno, Babilonia, dsb. Kitab Taurat membolehkan poligami tanpa menyebutkan batasannya.

Konon jumlah istri Nabi Sulaiman pun lebih dari 100 orang. Ketika Muhammad diutus  menjadi Rasul, banyak pria Arab (jahiliyah) yang mempunyai 10 istri, seperti Ghailan bin Salamah dan Mas’ud bin Amir di kalangan bani Tsaqif (Muhammad As Syarif, 2012). Namun, saat itu umat Nabi tidak diperintahkan untuk mengambil satu istri dan menceraikan sisanya, melainkan boleh memiliki maksimal empat istri, asalkan sang suami bisa berlaku adil (jika tidak bisa adil, satu istri saja). Jadi ada faktor kultural atau situasional saat itu yang melatarbelakangi turunnya ayat tersebut. Salah satu tujuannya boleh jadi agar umatnya tidak merasa terlalu terbebani dan tidak menderita gegar budaya.

Konteks lainnya, pada era Nabi, jumlah perempuan jauh lebih banyak daripada jumlah pria, karena suami-suami mereka meninggal di medan perang. Tujuan poligami saat itu bukan hanya untuk melindungi kaum wanita tetapi juga untuk menyantuni anak-anak mereka yang yatim. Tidak ada perintah Nabi untuk menikahi perawan atau janda muda yang bahenol di luar istri pertamanya itu.

Kini tidaklah lazim bagi seorang pria, pemimpin negara sekalipun, untuk menikah dengan puluhan perempuan. Namun poligami masih dibolehkan, terutama dalam keadaan darurat, seperti istri yang sakit permanen, karena itu tidak dapat melayani suaminya, atau mandul. Tidaklah mengherankan jika para ulama terkemuka Al Azhar Mesir seperti Muhammad Abduh, Rashid Ridha dan Muhammad al Madan memperketat penafsiran atas ayat Quran tentang pembolehan poligami. Dengan melihat kondisi Mesir saat itu (1899), Abduh bahkan mengharamkan poligami bagi orang yang khawatir akan berlaku tidak adil. Tanpa bimbingan Allah swt., seperti yang diberikan kepada Nabi-Nya, sulit bagi seorang pria biasa untuk berlaku adil jika, misalnya, kedua istrinya berbeda: yang baru muda dan cantik dan yang lama sudah tua dan tak menarik lagi.

Sebagian orang berpendapat bahwa poligami dibolehkan karena nafsu seksual lelaki yang jauh lebih besar daripada istrinya. Mereka berargumen, “Daripada berzina kan lebih baik menikah secara sah.” Namun, jika kita menghargai hadis Nabi agar bujangan sebaiknya saum untuk mengatasi nafsu seksual mereka, hadis ini tentu berlaku juga bagi pria yang sudah menikah tetapi kelebihan nafsu seksual.

Poligami kehilangan esensinya jika seorang pria dalam keluarga yang bahagia ujug-ujug, tidak ada hujan dan tidak ada angin, menikah lagi dengan perempuan lain yang muda dan menarik, apalagi sambil meninggalkan anak-anaknya yang merasa bahwa ayah mereka telah mengkhianati ibunya. Boleh jadi anak-anak ini menjadi rentan dan bahkan merasakan broken home. Padahal tujuan pernikahan adalah kebahagiaan lahir batin, yang dalam bahasa agama disebut sakinah mawadah warrahmah (kedamaian, cinta dan kasih sayang). Hanya binatang yang selalu memperturutkan syahwatnya tanpa kendali. Dengan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritualnya, manusia seyogianya mampu mengendalikan nafsu primitifnya.

Pernikahan yang sesuai dengan sunah Nabi tidak mungkin menyebabkan istri yang setia dan anak-anak yang bahagia selama perkawinan merasa tersakiti, tersingkirkan dan dikhianati, apalagi jika sang istri telah berjasa besar bagi kesuksesan suaminya. Sang istri juga manusia, punya perasaan dan ingin bahagia. Ia bukan sekadar seonggok daging ataupun robot.

Banyak pria Muslim begitu lugu. Mereka sekadar memahami makna harfiah ayat Alquran yang membolehkan poligami. Mereka tidak memahami esensi di balik teks suci itu. Tidak mengherankan jika dalam pertemuan dua orang pria Muslim, seorang berucap seperti berikut ini: “Apa kabar ya, Akhi? Saya sudah melaksanakan sunah Nabi secara penuh. Istri saya empat sekarang. Masak kamu masih satu saja?”

Poligami bukan inti ajaran Islam, melainkan sekadar pinggiran (feri-feri)-nya. Poligami adalah solusi bukan nafsi-nafsi. Sementara monogami juga bukanlah dosa. Sebagian ulama berpendapat bahwa dalam konteks sekarang poligami sekadar mubah, bukan sunah, tapi bisa jadi haram jika niatnya salah. Masih banyak sunah Nabi yang jauh lebih penting, seperti berdakwah dengan mengorbankan harta dan jiwa (bukan mencari amplop dan popularitas), salat berjamaah di masjid, salat tahajud, menyantuni fakir miskin, dan saum setiap Senin dan Kamis.

“Lelaki inginnya mengambil sunah Nabi yang enak-enak, bukan yang susah-susah seperti yang Nabi lakukan dulu, hingga Nabi dilecehkan dan dilempar kotoran. Nabi pasti akan nangis melihat ‘sunah’ yang dipilih-pilih begini dan berkata, ‘Bukan itu yang saya maksudkan.'” ujar seorang sejawat saya. Percayalah, kita tidak akan pernah lebih saleh dari pada Nabi Muhammad saw., bahkan daripada para sahabatnya sekalipun. Sahabat sekaligus menantu Nabi sendiri, Ali bin Abi Thalib, tidak melakukan poligami, atas perintah Nabi. Nabi tidak tega hati putrinya, Fatimah, tersakiti. Nabi mengingatkan di mimbar masjid, “Apa yang menyakiti Fatimah berarti menyakitiku juga.”

Pria Muslim yang tidak melakukan poligami secara syar’i, pada hakikatnya ia sedang merusak citra Islam dari dalam di mata non muslim. Maka tidak mengherankan jika pertanyaan yang muncul dari seorang non Muslim saat bertemu dengan seorang Muslim adalah tentang poligami ini, “Anda boleh menikah dengan empat istri ya?” Sayangnya, kaum non muslim sering melihat Islam lewat tindakan pria Muslim (termasuk Muslim Arab), bukan bagaimana islam mengajarkan tindakan tersebut. Padahal menurut Ali bin Abi Thalib, “Jika kamu ingin melihat Islam, pelajarilah ajarannya, lalu kamu lihat siapa yang mengikutinya dan siapa yang tidak.” Memang banyak pria Arab beristri lebih dari satu, tetapi itu tidak berarti bahwa tindakannya otomatis bersifat islami. Maka kita pun maklum, meski sedikit tersinggung, jika seorang penulis non Muslim menyampaikan anekdot berikut ini:

Sebuah pertanyaan ditujukan kepada seorang pria Arab dan seorang pria Inggris, “Anda akan memilih siapa di antara ibu kandung anda dan istri anda, jika anda harus mengorbankan salah satunya dalam perahu yang anda tumpangi agar perahu itu tidak tenggelam.” Orang Arab menjawab “Istri saya.” Sementara itu, orang Inggris menjawab, “Ibu saya.” Alasannya, orang Arab: “Ibu saya tidak tergantikan, sedangkan saya bisa mengganti istri setiap kali.” Orang Inggris: “Ibu saya jauh lebih berjasa daripada istri saya karena ia telah melahirkan dan membesarkan saya.”

Saya tidak antipoligami. Jika anda ingin berpoligami, lakukan hal itu sebagai solusi atas problem anda yang sulit anda atasi tanpa poligami. Itupun sebaiknya berdasarkan kerelaan istri. Namun, para praktisnya tidak perlu membentuk organisasi. Pun, poligami tidak perlu dibangga-banggakan, apalagi diperlombakan, karena hal itu lebay dan akan merusak citra Islam.

 

Deddy Mulyana (Guru Besar dan Dekan Fikom Unpad)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s